Discovery Campaign Buat Rate Card Tiktok Buat Rate Card Instagram Buat Rate Card Youtube
Buat MoU Otomatis Cek ER KOL Tiktok Cek ER KOL Instagram Cek ER KOL YouTube Download Video Tiktok Download Video Instagram Download Video Youtube Kamus KOL
Ranking KOL Tiktok Ranking KOL Instagram Ranking KOL Youtube Cek Rate Card KOL Tiktok Cek Rate Card KOL Instagram Cek Rate Card KOL Youtube Campaign Report KOL Management Extensions KOL.ID
Login Register
Farida Instagram Profile
faridasohib

Farida

faridasohib

badge Nano | Mass Pool
follower
Total Followers 2.2k
language
Language Spoken ID , Indonesia
account
Account Type KOL Nano badge Nano | Mass Pool

Rate Card

RpXXXXXXX Carousel Feed
RpXXXXXXX Instagram Story
RpXXXXXXX Photo Feed
RpXXXXXXX Reels
RpXXXXXXX Video Feed

Additional

RpXXXXXXX Boost Code Ads
RpXXXXXXX Owning Content
RpXXXXXXX Collaboration
lock

Unlock to see KOL rate card

Tap "Show Rate Card" to get the latest updates!

Show Rate Card
disclaimer
Disclaimer:
This performance and rate card page is generated using our AI-powered calculations.


Performance

0.76% low Engagement rate
12 Avg. likes per post
2 Avg. comments per post
2.8k Avg. reels view

Engagement Rate For Last 10 Posts (Latest)

2.52% 2.02% 1.51% 1.01% 0.50% 0.00%
2026-07-03
2026-07-03
2026-07-03
2026-07-03
2026-07-03
2026-07-04
2026-07-04
2026-07-04
2026-07-04
2026-07-04

Engagement Rate For Top 10 Posts

80.51% 64.41% 48.31% 32.20% 16.10% 0.00%
2026-06-09
2026-06-24
2026-06-28
2026-06-29
2026-06-29
2026-06-29
2026-06-30
2026-06-30
2026-06-30
2026-06-30
Date Posted
Content

Saat hamil anak keempat, dokter kandungan hanya mengajukan satu pertanyaan sederhana. "Bagaimana kabarmu?" Entah kenapa, yang keluar bukan jawaban. Melainkan tangisan yang sudah terlalu lama kutahan. Dokter tidak menyela. Beliau membiarkanku menangis hingga aku sedikit lebih tenang. Setelah pemeriksaan selesai, beliau memberikan surat rujukan ke poli jiwa. Aku benar-benar bingung. "Kenapa harus ke sana? Bukankah aku hanya sedang hamil?" Saat pertama kali duduk di hadapan psikiater, pertanyaan yang sama kembali terdengar. "Bagaimana kabarmu?" Dan lagi-lagi... Aku menangis. Hari itu aku seperti kehilangan seluruh pertahananku. Aku sedih karena hamil lagi, sementara anak ketigaku bahkan belum mulai MPASI. Aku merasa gagal menjadi seorang ibu. Takut tidak mampu berlaku adil kepada anak-anakku. Takut menghadapi masa depan karena saat itu kondisi ekonomi kami sedang sangat sulit. Di kepalaku hanya ada satu pikiran. "Ini semua salah suamiku." Aku marah. Aku kecewa. Aku bahkan pernah berpikir, "Seharusnya dia yang dirujuk ke poli jiwa, bukan aku." Hari-hariku dipenuhi tangisan. Hubungan kami semakin renggang. Aku membantah hampir semua perkataannya. Saat itu aku benar-benar merasa menjadi korban dari keadaan. Namun setelah menjalani pengobatan dan belajar memahami diriku sendiri, aku mulai melihat semuanya dari sudut pandang yang berbeda. Kemarahanku kepada suami memang nyata. Tetapi di balik kemarahan itu, ternyata ada ketakutan yang sangat besar. Ada kelelahan yang selama ini kupendam. Ada kecemasan yang membuatku terus mengkhawatirkan sesuatu yang bahkan belum terjadi. Hari itu aku belajar bahwa kesehatan mental bukan hanya tentang perasaan sedih. Kadang ia hadir dalam bentuk amarah, kecemasan, dan keinginan menyalahkan semua keadaan. Dirujuk ke poli jiwa bukanlah akhir dari hidupku. Justru di sanalah aku mulai belajar mengenali diriku sendiri, menerima bahwa aku membutuhkan pertolongan, dan perlahan kembali menjadi ibu, istri, dan manusia yang lebih utuh. ๐Ÿค Terkadang, langkah paling berani bukanlah berpura-pura kuat. Melainkan berkata, "Aku tidak baik-baik saja, dan aku butuh bantuan."

80.51% Engagement Rate
1.6k 228
Content

Dua jam. Hanya tersisa dua jam sebelum anakku menjalani pemasangan gips pertama. Semuanya sudah dijadwalkan oleh dokter spesialis ortopedi di rumah sakit dekat rumah kami. Aku sudah berusaha menerima kenyataan bahwa anakku didiagnosis CTEV (clubfoot/kaki pengkor). Aku sudah bergabung dengan komunitas orang tua penyintas CTEV. Sudah mencari tahu proses pengobatannya. Sudah membayangkan kaki mungil itu akan dibungkus gips, menjalani kontrol rutin, bahkan kemungkinan tindakan selanjutnya. Sebagai seorang ibu, aku mencoba menguatkan diri. Meski setiap malam aku menangis membayangkan masa depan anakku. Namun tepat dua jam sebelum tindakan... Masuk sebuah pesan dari nomor yang tidak kukenal. Orang itu menyarankan agar aku membatalkan pemasangan gips dan segera membawa anakku ke Rumah Sakit Mayapada Bogor untuk bertemu dengan dr. IGBA Juniantara, Sp.OT, dokter yang berpengalaman menangani anak dengan clubfoot. Yang membuatku semakin terkejut... Pemeriksaannya dilakukan tanpa dipungut biaya, termasuk bila memang membutuhkan penanganan lebih lanjut. Saat itu aku benar-benar dilema. Bagaimana jika aku salah mengambil keputusan? Bagaimana jika justru membuang waktu emas untuk pengobatan anakku? Dengan hati yang sangat berat, kami akhirnya membatalkan tindakan yang sudah dijadwalkan. Keesokan harinya kami berangkat ke Bogor. Setelah memeriksa anakku dengan teliti, dokter tersenyum dan berkata, "Bu, ini bukan CTEV." Aku terdiam. Beliau menjelaskan bahwa posisi kaki anakku merupakan deformitas posisi (positional deformity) akibat posisi di dalam kandungan, dan kondisinya masih bisa diperbaiki dengan terapi tanpa gips maupun tindakan operasi. Aku tidak langsung percaya. Berkali-kali aku memastikan, "Benar, Dok?" Beliau hanya berkata, "Satu bulan lagi kembali ke sini ya, kita pastikan perkembangannya." Sebulan kemudian kami datang lagi. Dan benar... Kaki mungil anakku sudah kembali normal. Hari itu aku menangis. Bukan karena sedih. Tetapi karena Allah menghapus begitu banyak ketakutan yang selama berminggu-minggu menghantui pikiranku. Peristiwa ini mengajarkanku satu hal. Ikhtiar itu penting. Tetapi Allah juga bisa menghadirkan jalan yang sama sekali tidak pernah kita bayangkan

27.58% Engagement Rate
576 58
Content

Ada satu malam yang sampai hari ini masih sulit kulupakan. Malam ketika aku merasa tidak sanggup lagi menanggung semua yang ada di kepalaku. Aku begitu takut. Bingung. Dan lelah. Bukan hanya karena kehamilan yang penuh risiko, tetapi juga karena komentar-komentar yang terus menghantuiku. "Sudah tahu anak masih kecil, kenapa hamil lagi?" "Memangnya tidak KB?" "Kerja lagi dong, kasihan suaminya." Kalimat-kalimat itu membuatku semakin menyalahkan diriku sendiri. Seolah semua ini adalah keinginanku. Seolah aku menikmati keadaan ini. Di tengah kepanikan itu, aku menghubungi dokter koas yang mendampingiku. Melalui pesan WhatsApp aku berkata, "Dok... keinginan itu muncul. Saya harus bagaimana?" Beliau tidak menghakimiku. Tidak menyuruhku untuk lebih kuat. Beliau hanya membantuku mencari pertolongan. Aku diminta segera menghubungi rumah sakit yang memiliki layanan psikiatri. Malam itu aku mengemas pakaian. Aku benar-benar bersiap untuk dirawat. Namun ketika kulihat anak-anakku tidur begitu pulas... Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh. Aku memeluk mereka erat. Di dalam hati aku berkata, "Mama belum boleh menyerah." Malam itu aku belajar bahwa keberanian bukan berarti tidak pernah hancur. Keberanian adalah ketika di titik paling gelap, kita masih memilih mencari pertolongan. Dan aku bersyukur... Malam itu aku memilih meminta bantuan, bukan memendam semuanya sendirian. ๐Ÿค Untuk siapa pun yang sedang merasa dunia terlalu berat, kamu tidak harus memikul semuanya sendiri. Mencari pertolongan bukan berarti kalah. Terkadang, itulah langkah pertama untuk tetap bertahan.

11% Engagement Rate
234 19
Content

Sebelum aku mengunggah cerita tentang pengobatanku, ada satu orang yang pendapatnya paling ingin kudengar. Suamiku. Aku bertanya, "Apa kamu keberatan kalau orang lain tahu aku berobat ke psikiater?" Padahal saat menikah denganku, dia sudah menerima banyak hal. Seorang janda dengan dua anak. Masa lalu yang tidak sederhana. Dan kini, seorang istri yang masih menjalani pengobatan di poli jiwa. Kupikir dia akan memintaku menyimpan semua ini rapat-rapat. Ternyata tidak. Dia hanya berkata, "Kalau ceritamu bisa membuat orang lain berani mencari pertolongan, kenapa harus disembunyikan?" Kalimat itu membuatku sadar bahwa tidak semua perempuan memiliki support system yang sama. Masih banyak yang ketika bercerita justru disalahkan. Keluhannya dianggap berlebihan. Bahkan diminta diam dan bertahan. Hari ini aku belajar, yang paling dibutuhkan seorang istri bukan hanya pasangan yang bertanggung jawab. Tetapi seseorang yang memberinya rasa aman. Aman untuk menangis. Aman untuk bercerita. Aman untuk menjadi dirinya sendiri. Dan tetap diterima, bahkan saat sedang berada di titik terlemahnya. Karena terkadang, proses untuk pulih tidak dimulai dari obat. Melainkan dari hadirnya satu orang yang berkata, "Aku ada. Kita hadapi ini bersama." ๐Ÿค

9.57% Engagement Rate
180 40
Content

Ada satu keputusan yang sampai hari ini masih membuatku merasa berutang kepada anakku. Saat mengetahui aku hamil lagi, kondisi kehamilanku tidak baik. Aku mengalami hyperemesis gravidarum (HEG) hingga harus dirawat inap. Disertai perdarahan. Harus mengonsumsi obat penguat kandungan. Dan pada akhirnya dirujuk ke psikiater karena kondisi mentalku yang semakin menurun. Di tengah semua itu, ada satu hal yang paling berat. Aku harus berpisah dengan anak ketigaku. Usianya bahkan belum genap enam bulan. Masih menyusu ASI. Masih berada di fase yang paling membutuhkan kehadiran ibunya. Namun demi keselamatan kehamilan ini, aku harus menghentikan proses menyusui dan menitipkannya kepada mertuaku. Setiap hari, yang memenuhi kepalaku hanyalah rasa bersalah. Aku merasa berutang. Berutang pelukan. Berutang perhatian. Berutang waktu yang seharusnya menjadi haknya. Aku terus menyalahkan diriku sendiri karena merasa gagal menjadi seorang ibu. Padahal semakin aku tenggelam dalam rasa bersalah, tubuhku justru semakin lemah. Sampai akhirnya aku belajar menerima satu kenyataan. Kadang, menjadi ibu bukan tentang mampu melakukan semuanya sendiri. Kadang, menjadi ibu adalah berani mempercayakan anak kita kepada orang-orang yang juga mencintainya. Hari ini aku bersyukur. Allah menghadirkan mertua yang menerima kami dengan tulus. Beliau mungkin tidak bisa menggantikan sosok ibuku yang telah lebih dulu berpulang. Tetapi beliau memberikan satu hal yang sangat kubutuhkan saat itu. Rasa tenang. Karena aku tahu, anakku berada di tangan yang penuh kasih sayang. Dan mungkin... Menjadi ibu bukan berarti selalu berada di samping anak setiap waktu. Tetapi memastikan, dalam kondisi sesulit apa pun, mereka tetap dicintai dan dijaga. ๐Ÿค Untuk anakku Azizah, jika suatu hari nanti kamu membaca ini, ketahuilah... bukan karena Bunda ingin jauh darimu. Justru karena Bunda ingin tetap ada untuk menemanimu bertumbuh hingga dewasa.

7.96% Engagement Rate
158 25
Content

Dua jam. Hanya tersisa dua jam sebelum anakku menjalani pemasangan gips pertama. Semuanya sudah dijadwalkan oleh dokter spesialis ortopedi di rumah sakit dekat rumah kami. Aku sudah berusaha menerima kenyataan bahwa anakku didiagnosis CTEV (clubfoot/kaki pengkor). Aku sudah bergabung dengan komunitas orang tua penyintas CTEV. Sudah mencari tahu proses pengobatannya. Sudah membayangkan kaki mungil itu akan dibungkus gips, menjalani kontrol rutin, bahkan kemungkinan tindakan selanjutnya. Sebagai seorang ibu, aku mencoba menguatkan diri. Meski setiap malam aku menangis membayangkan masa depan anakku. Namun tepat dua jam sebelum tindakan... Masuk sebuah pesan dari nomor yang tidak kukenal. Orang itu menyarankan agar aku membatalkan pemasangan gips dan segera membawa anakku ke Rumah Sakit Mayapada Bogor untuk bertemu dengan dr. IGBA Juniantara, Sp.OT, dokter yang berpengalaman menangani anak dengan clubfoot. Yang membuatku semakin terkejut... Pemeriksaannya dilakukan tanpa dipungut biaya, termasuk bila memang membutuhkan penanganan lebih lanjut. Saat itu aku benar-benar dilema. Bagaimana jika aku salah mengambil keputusan? Bagaimana jika justru membuang waktu emas untuk pengobatan anakku? Dengan hati yang sangat berat, kami akhirnya membatalkan tindakan yang sudah dijadwalkan. Keesokan harinya kami berangkat ke Bogor. Setelah memeriksa anakku dengan teliti, dokter tersenyum dan berkata, "Bu, ini bukan CTEV." Aku terdiam. Beliau menjelaskan bahwa posisi kaki anakku merupakan deformitas posisi (positional deformity) akibat posisi di dalam kandungan, dan kondisinya masih bisa diperbaiki dengan terapi tanpa gips maupun tindakan operasi. Aku tidak langsung percaya. Berkali-kali aku memastikan, "Benar, Dok?" Beliau hanya berkata, "Satu bulan lagi kembali ke sini ya, kita pastikan perkembangannya." Sebulan kemudian kami datang lagi. Dan benar... Kaki mungil anakku sudah kembali normal. Hari itu aku menangis. Bukan karena sedih. Tetapi karena Allah menghapus begitu banyak ketakutan yang selama berminggu-minggu menghantui pikiranku. Peristiwa ini mengajarkanku satu hal. Ikhtiar itu penting. Tetapi Allah juga bisa menghadirkan jalan yang sama sekali tidak pernah kita bayangkan

27.58% Engagement Rate
576 58
Content

Saat anak bungsuku didiagnosis CTEV (kaki pengkor), aku memutuskan satu hal. Masa nifasku akan kuhabiskan untuk fokus pada diriku dan anak-anakku. Aku menolak sebagian besar kunjungan dari kerabat yang ingin menjenguk kami. Bukan karena tidak menghargai perhatian mereka. Tetapi karena aku belum siap. Belum siap menjawab pertanyaan. Belum siap menjelaskan kondisi anakku. Belum siap mengulang cerita yang bahkan aku sendiri masih berusaha menerimanya. Energi yang kupunya saat itu sangat terbatas. Aku memilih menggunakannya untuk mencari informasi sebanyak mungkin tentang CTEV, berdiskusi dengan dokter, dan mempersiapkan langkah-langkah yang harus kami jalani. Seminggu setelah ia lahir, kami mulai mencari dokter spesialis ortopedi. Kami juga bergabung dengan komunitas para orang tua yang memiliki anak dengan kondisi serupa. Di sanalah aku mulai menemukan harapan. Aku belajar bahwa kami tidak sendirian. Aku mulai memahami tahapan pengobatan, mulai dari pemasangan gips hingga tindakan operasi kecil (tenotomi) yang nantinya harus dijalani. Meski begitu, setiap kali membayangkan kaki mungilnya akan dipasang gips, hatiku tetap terasa hancur. Usianya bahkan belum genap satu bulan. Sebagai ibu, rasanya aku ingin menukar semua rasa sakit itu denganku. Alhamdulillah, di tengah rasa takut itu, Allah menghadirkan banyak orang baik. Ada yang berbagi pengalaman. Ada yang mendoakan. Ada yang menguatkan ketika aku hampir kehilangan harapan. Hari ini aku belajar... Tidak semua ujian langsung diberi jalan keluar. Kadang Allah lebih dulu mempertemukan kita dengan orang-orang yang membantu kita percaya bahwa ujian ini bisa dilewati. Dan untuk setiap orang tua yang saat ini sedang mendampingi anak berkebutuhan medis, percayalah... Kita mungkin tidak bisa mengubah diagnosisnya. Tetapi kita selalu bisa menjadi alasan mereka tetap berjuang. ๐Ÿค

8% Engagement Rate
154 30
Content

Ada satu keputusan yang sampai hari ini masih membuatku merasa berutang kepada anakku. Saat mengetahui aku hamil lagi, kondisi kehamilanku tidak baik. Aku mengalami hyperemesis gravidarum (HEG) hingga harus dirawat inap. Disertai perdarahan. Harus mengonsumsi obat penguat kandungan. Dan pada akhirnya dirujuk ke psikiater karena kondisi mentalku yang semakin menurun. Di tengah semua itu, ada satu hal yang paling berat. Aku harus berpisah dengan anak ketigaku. Usianya bahkan belum genap enam bulan. Masih menyusu ASI. Masih berada di fase yang paling membutuhkan kehadiran ibunya. Namun demi keselamatan kehamilan ini, aku harus menghentikan proses menyusui dan menitipkannya kepada mertuaku. Setiap hari, yang memenuhi kepalaku hanyalah rasa bersalah. Aku merasa berutang. Berutang pelukan. Berutang perhatian. Berutang waktu yang seharusnya menjadi haknya. Aku terus menyalahkan diriku sendiri karena merasa gagal menjadi seorang ibu. Padahal semakin aku tenggelam dalam rasa bersalah, tubuhku justru semakin lemah. Sampai akhirnya aku belajar menerima satu kenyataan. Kadang, menjadi ibu bukan tentang mampu melakukan semuanya sendiri. Kadang, menjadi ibu adalah berani mempercayakan anak kita kepada orang-orang yang juga mencintainya. Hari ini aku bersyukur. Allah menghadirkan mertua yang menerima kami dengan tulus. Beliau mungkin tidak bisa menggantikan sosok ibuku yang telah lebih dulu berpulang. Tetapi beliau memberikan satu hal yang sangat kubutuhkan saat itu. Rasa tenang. Karena aku tahu, anakku berada di tangan yang penuh kasih sayang. Dan mungkin... Menjadi ibu bukan berarti selalu berada di samping anak setiap waktu. Tetapi memastikan, dalam kondisi sesulit apa pun, mereka tetap dicintai dan dijaga. ๐Ÿค Untuk anakku Azizah, jika suatu hari nanti kamu membaca ini, ketahuilah... bukan karena Bunda ingin jauh darimu. Justru karena Bunda ingin tetap ada untuk menemanimu bertumbuh hingga dewasa.

7.96% Engagement Rate
158 25
Content

Seumur hidup, aku selalu berpikir bahwa menjadi perempuan yang kuat adalah sebuah kebanggaan. Aku terbiasa mengandalkan diri sendiri. Tidak mudah meminta bantuan. Selalu ingin terlihat mampu. Perfeksionis. Bahkan sering menjadi orang yang diandalkan oleh orang lain. Aku mengira semua itu adalah kelebihan. Ternyata, ada harga yang harus kubayar. Aku terlalu lama memendam lelah. Terlalu sering menganggap diriku harus sanggup menghadapi semuanya sendiri. Aku lupa bahwa menjadi manusia berarti memiliki batas. Ketika akhirnya tubuh dan pikiranku tidak lagi mampu bekerja sama, aku merasa gagal. Padahal, yang sebenarnya terjadi adalah aku sudah terlalu lama memaksa diriku untuk terus kuat. Hari ini aku belajar... Menjadi mandiri adalah hal yang baik. Tetapi merasa harus selalu kuat setiap saat, tidak pernah menangis, tidak pernah meminta pertolongan, dan tidak pernah bergantung kepada siapa pun bukanlah kekuatan. Itu bisa menjadi cara kita bertahan hidup yang akhirnya menguras diri sendiri. Berobat ke psikiater tidak membuatku menjadi perempuan yang lebih lemah. Justru di sanalah aku belajar bahwa keberanian bukan hanya tentang mampu memikul semuanya sendirian. Keberanian juga berarti mampu berkata, "Aku lelah." "Aku butuh bantuan." Dan tidak apa-apa jika hari ini aku tidak sekuat kemarin. ๐Ÿค Dulu aku bangga karena tidak membutuhkan siapa pun. Hari ini aku lebih bangga karena berani menerima pertolongan ketika memang membutuhkannya.

4.26% Engagement Rate
85 13
Content

Ada satu malam yang sampai hari ini masih sulit kulupakan. Malam ketika aku merasa tidak sanggup lagi menanggung semua yang ada di kepalaku. Aku begitu takut. Bingung. Dan lelah. Bukan hanya karena kehamilan yang penuh risiko, tetapi juga karena komentar-komentar yang terus menghantuiku. "Sudah tahu anak masih kecil, kenapa hamil lagi?" "Memangnya tidak KB?" "Kerja lagi dong, kasihan suaminya." Kalimat-kalimat itu membuatku semakin menyalahkan diriku sendiri. Seolah semua ini adalah keinginanku. Seolah aku menikmati keadaan ini. Di tengah kepanikan itu, aku menghubungi dokter koas yang mendampingiku. Melalui pesan WhatsApp aku berkata, "Dok... keinginan itu muncul. Saya harus bagaimana?" Beliau tidak menghakimiku. Tidak menyuruhku untuk lebih kuat. Beliau hanya membantuku mencari pertolongan. Aku diminta segera menghubungi rumah sakit yang memiliki layanan psikiatri. Malam itu aku mengemas pakaian. Aku benar-benar bersiap untuk dirawat. Namun ketika kulihat anak-anakku tidur begitu pulas... Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh. Aku memeluk mereka erat. Di dalam hati aku berkata, "Mama belum boleh menyerah." Malam itu aku belajar bahwa keberanian bukan berarti tidak pernah hancur. Keberanian adalah ketika di titik paling gelap, kita masih memilih mencari pertolongan. Dan aku bersyukur... Malam itu aku memilih meminta bantuan, bukan memendam semuanya sendirian. ๐Ÿค Untuk siapa pun yang sedang merasa dunia terlalu berat, kamu tidak harus memikul semuanya sendiri. Mencari pertolongan bukan berarti kalah. Terkadang, itulah langkah pertama untuk tetap bertahan.

11% Engagement Rate
234 19

Followers

Followers distribution

40.24% Male
59.76% Female

Followers location

Indonesia 96.56%
Saudi Arabia 0.52%
Thailand 0.52%
Taiwan 0.34%
Germany 0.17%
Japan 0.17%
New Zealand 0.17%
Jakarta 28.1%
Depok 13.8%
Bogor 5.2%
Bandung 5.0%
Bekasi 3.3%
Yogyakarta 2.1%
Surabaya 2.1%
Tangerang 1.9%
Medan 0.9%
Malang 0.9%
Semarang 0.9%
South Tangerang 0.9%
Cirebon 0.7%
Tasikmalaya 0.5%
Padang 0.5%
Bangkok 0.5%
Denpasar 0.5%

Followers demographics

58.70% 23.22% 13.72% 3.00% 1.37%
Child/Kid
(13-17)
Teen/Teenager
(18-24)
Young Adult
(25-34)
Adult
(35-44)
Middle-aged
(45-64)

Follower types

28.87% mass_followers
3.82% suspicious
7.44% influencers
59.88% real


KOL that follows @faridasohib

Growth & Interest

Followers growth

Monthly trend of total Followers

1.5K 1.4K 1.3K 1.2K 1.2K
2026-01 2026-02 2026-03 2026-04 2026-05 2026-06 2026-07

Likes growth

Monthly trend of average likes per post

1000 800 600 400 200 0
2026-01 2026-02 2026-03 2026-04 2026-05 2026-06 2026-07

Frequently used hashtags

Hashtags frequently used by the KOL in their content

#healingjourney #momlife #perjalananhidup #ceritahidup #kisahnyata #mentalhealthawareness #ibudananak #putussekolah #mentalhealthjourney #earthour2022 #frozen2 #kesehatanmental #blessedfamily #uninstallmobilelegend #rumahtangga #gratefulheart #medikids #familytime #weekendseru #jumbofilm #untiltomorrowchallenge #untiltomorrow #concentrixindonesia #fbproindonesia #relationshipgoals #myoneearthpromise #challengeaccepted #jakartafuturefestival #ngopi #jaiacoffee

Frequently mentioned accounts

Accounts frequently mentioned by the KOL in their content

@ryamoy @novibanyu @993boy__ @mujiast__ @castaniaputri @rahalfiani @is_naini__ @concentrix @sititarramunawaroh @riaspengantindepokbagus @lovirra @almamedy @visinemaid @ayunidesi90 @adheisyana @yolaniaeva @nur_fadillah94 @discoveryancol @andinyis_ctra @kazuharyu8_0 @safiradamayanti07 @concentrixindonesia @andinisctra @212movie @mariaajjh @jakartafuturefestival @ayuuuandari @ayuanzanii_ @jumbofilm_id @mooiofficial


Benchmark Engagement Instagram
Berdasarkan Tier KOL

Kenali tipe KOL dari Nano hingga Mega dan manfaatkan data engagement rate kami untuk memilih influencer yang tepat.


kol

Bagaimana Tool Kerja Ini Bekerja?

Engagement rate didapatkan dari perhitungan rata-rata Likes, Comments, Share dibagi dengan jumlah followers kemudian dikali 100. Semakin tinggi engagement rate yang Anda miliki semakin baik nilai Anda.

Kenali Lebih Detail Kebutuhan KOL Anda

Sudah tahu tentang KOL atau influencer level mulai dari Nano, Micro, Mid-Tier, Macro dan Mega ? Gunakan benchmark akurat kami untuk mengenal lebih jauh bagaimana benefit mengetahui engagement rate bisa membantu kita memilih KOL apa yang akan kita pakai.

Avg. Instagram Engagement
Rate - 2025

0
0.2%
0.4%
0.6%
0.8%
0.66%
All post types
0.66%
0.59%
Photo post
0.59%
0.68%
Video post
0.68%
0.77%
Carousel post
0.77%

Check engagement rates for other platforms

Engagement rate calculator for Youtube

Check engagement rate for any Youtube channel and get detailed analytics report

kol

Engagement rate calculator for TikTok

Check engagement rate for any TikTok account and get detailed analytics report

kol

Got Questions?

Apa itu KOL.ID? โˆ’

KOL.ID adalah platform teknologi pemasaran pertama di Indonesia yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung kolaborasi antara Key Opinion Leaders (KOL) dan bisnis. Platform ini menyediakan solusi lengkap untuk kebutuhan pemasaran di Instagram, TikTok, dan YouTube, semuanya terintegrasi dalam satu tempat.

Salah satu fitur utama KOL.ID adalah pembuatan dan pengecekan rate card otomatis bagi para KOL. Dengan menggunakan data real-time dari berbagai platform media sosial, KOL.ID membantu KOL menentukan harga layanan mereka secara akurat dan adil, sehingga mereka dapat fokus pada kreativitas dan peningkatan engagement rate.

Selain itu, KOL.ID menawarkan berbagai alat analisis, seperti kalkulator engagement rate untuk TikTok, Instagram, dan YouTube, yang membantu KOL dan bisnis memahami performa akun media sosial dan membuat keputusan yang lebih baik dalam kampanye pemasaran.

Dengan berbagai fitur dan layanan yang ditawarkan, KOL.ID menjadi platform yang andal bagi KOL dan bisnis dalam menjalankan kampanye pemasaran yang efektif dan efisien.

Apa saja fitur yang disediakan oleh KOL.ID? +

FOR BRAND (Untuk Agency/Brand/Bisnis):

  1. KOL Ranking: Fitur pencarian KOL yang sesuai dengan kebutuhan brand atau bisnis.

  2. Cek Rate Card KOL: Tools untuk bisnis mengevaluasi rate card KOL berdasarkan data dari TikTok, Instagram & YouTube.

  3. Campaign Report: Laporan terperinci untuk mendapatkan data performa (Like, Comment, Share, Views & Save) terkait performa kampanye pemasaran bersama KOL hanya menggunakan Link Posting.

FOR KOL (Untuk Key Opinion Leader):

  1. Buat Rate Card: Alat untuk membantu KOL membuat rate card berdasarkan performa mereka di TikTok, Instagram & YouTube.

FREE TOOLS (Alat Gratis):

  1. Buat MoU KOL: Membuat memorandum of understanding (MoU) antara KOL dan bisnis secara otomatis.

  2. Cek ER KOL TikTok: Alat untuk menghitung engagement rate KOL di TikTok.

  3. Cek ER KOL Instagram: Alat untuk menghitung engagement rate KOL di Instagram.

  4. Cek ER KOL YouTube: Alat untuk menghitung engagement rate KOL di YouTube.

  5. Download Video TikTok: Fitur untuk mengunduh video dari TikTok.

  6. Download Video Instagram: Fitur untuk mengunduh video dari Instagram.

  7. Download Video YouTube: Fitur untuk mengunduh video dari YouTube.

  8. Kamus KOL: Panduan istilah-istilah penting terkait dunia KOL.

  9. Extension Chrome: Extension yang memungkinkan untuk melihat analisa KOL dengan mudah hanya dengan membuka profil Instagram & TikTok.

Semua fitur ini menunjukkan bahwa KOL.ID adalah platform yang lengkap untuk mendukung kebutuhan KOL dan merek/bisnis dalam membangun strategi pemasaran digital.