Buat Rate Card Tiktok Buat Rate Card Instagram Buat Rate Card Youtube
Buat MoU Otomatis Cek ER KOL Tiktok Cek ER KOL Instagram Cek ER KOL YouTube Download Video Tiktok Download Video Instagram Download Video Youtube Kamus KOL
Ranking KOL Tiktok Ranking KOL Instagram Ranking KOL Youtube Cek Rate Card KOL Tiktok Cek Rate Card KOL Instagram Cek Rate Card KOL Youtube Campaign Report KOL Management Extensions KOL.ID
Login Register
Farika Maula Instagram Profile
farikamaula

Farika Maula

farikamaula

badge Micro | Mass Pool
follower
Total Followers 25k
language
Language Spoken ID , Indonesia
account
Account Type KOL Micro badge Micro | Mass Pool

Rate Card

RpXXXXXXX Carousel Feed
RpXXXXXXX Instagram Story
RpXXXXXXX Photo Feed
RpXXXXXXX Reels
RpXXXXXXX Video Feed

Additional

RpXXXXXXX Boost Code Ads
RpXXXXXXX Owning Content
RpXXXXXXX Collaboration
lock

Unlock to see KOL rate card

Tap "Show Rate Card" to get the latest updates!

Show Rate Card
disclaimer
Disclaimer:
This performance and rate card page is generated using our AI-powered calculations.


Performance

11.69% high Engagement rate
2.9k Avg. likes per post
54 Avg. comments per post
1.2m Avg. reels view

Engagement Rate For Last 10 Posts (Latest)

49.84% 39.87% 29.90% 19.94% 9.97% 0.00%
2025-08-17
2025-08-24
2025-08-25
2025-09-04
2025-09-09
2025-09-16
2025-09-17
2025-09-19
2025-10-13
2025-10-13

Engagement Rate For Top 10 Posts

0.00% 0.00% 0.00% 691.13% 345.56% 0.00%
2024-06-01
2024-07-28
2024-08-05
2024-09-14
2024-11-21
2024-12-12
2024-12-27
2025-01-29
2025-04-07
2025-04-24
Date Posted
Content

Banyak warganet yang komen kalau wajah saya ini sudah sangat Madura. Bahkan, kemaduraan wajah saya melebihi warga aslinya. Ya nggak papa. Di negara demokrasi kita bebas berpendapat apa saja. Ya gimana ya, soalnya kalau pas di Madura emang ada saja cerita uniknya. Memang tidak bisa dipukul rata, karena kongsep culture shock atau bahasa sederhananya โ€œgampang mak jegagik-anโ€ itu bervariasi. Semua yang saya ceritakan di akun ini memang terjadi berdasarkan pengalaman pribadi. Artinya, kalau nggak sama ya wajar saja. Kadang, perbedaan itu bukan untuk dihakimi, tapi untuk dikenali dan atau kalau bisa, dicintai (kecuali kaldu kacang ijo). Salam cinta dari ISWARA (Ikatan Srikandi Wanita Madura)

1727.82% Engagement Rate
431.4k 1.9k
Content

Kok bisa, daerah dengan julukan Kota Pariwisata malah jadi propinsi termiskin se-Pulau Jawa? Bak jatuh ketimpa tangga, UMR-nya juga salah satu terendah se-Indonesia. Mumet, mumet ra wi Ekonom jebolan Antartika pun kayaknya kudu mertopo di Gunung Api Purba dulu untuk memecahkan masalahnya. Bisa jadi, orang kayak Elon Musk juga angkat kaki kalau disambati perkara macam ini. Bagi orang Jogja seperti saya, menikmati libur Nataru cukup ndekem di rumah saja. Itu saya rasakan dari sejak kecil sampai punya anak kecil. Bisa dibayangkan, ketika teman-teman saya pamer foto di TUGU, saya malah milih turu. Ironis banget kan? Paling pol, kalau mau lihat kembang api ya munggah ke gendeng rumah. Mentok, paginya cuma jalan-jalan ke sawah. Lha salahe dewe ra metu? Dari dulu alasannya nggak pernah berubah. Singkat, padat, MACET. Boro-boro jalan-jalan neng Malioboro, arep mangan ala ndeso we antrine ngalah-ngalahi pembagian sembako. Liburan bukannya fresh, malah tambah stres.

1315.97% Engagement Rate
326.7k 3.3k
Content

Setelah 10 hari nggak ngonten, saya dibuat makdeg sama komenannya Mas Jon. Akhirnya tercetuslah konten TransPini alias Transisi Opini Sek mas, gini-gini. Soal keikhlasan biarlah itu urusan Tuhan, kita manusia nda usah campur tangan. Pengajar, dosen, guru itu profesi, ukurannya kompensasi atau gaji. Kalau dibayar keikhlasan itu namanya makan ati. Gimana mau mengarungi lautan pendidikan, kalau kapalnya tak penuh dengan penghargaan?

600.24% Engagement Rate
146.7k 3.8k
Content

Mbuh, gimana ceritanya kok dulu saya bisa kepincut sama orang Madura. Yang jelas, kini saya sangat mencintai suami saya dan juga kampung asalnya. Dari rima katanya saja sudah pas banget kan, Jogja-Madura. Sama-sama punya akhiran โ€œaโ€. Ibarat artikel, sudah wangun kalau dijadikan judul berita. Saya jadi ingat. Beberapa waktu lalu, teman saya Mala cerita, kalau dia akan menikah dengan orang Madura. โ€œKowe entuk wong Medunten? Gas pol lah,โ€ jawab saya menyemangati. Mala menimpalinya dengan pertanyaan, โ€œculture shock e opo?โ€ โ€œUakeh, seng jelas bahasa,โ€ jawab saya ngegas. Lha gimana, gara-gara saya belum fasih berbahasa Madura, saya kesulitan berbicara. Mendadak ora iso omong-omongan, mulut rasanya seperti terbungkam. Ya terpaksa, kadang pakai body language kalau harus ngobrol sama simbah saya dan boomers Madura lainnya. Saya meminta kepada suami, supaya sedikit-sedikit diajari, kosa kata apa saja yang perlu saya titeni. Minimal saya tahu lah kalau lagi dirasani. Dari bahasa, ternyata saya menemukan banyak kesamaan dengan Jogja. Misalnya, iya-nggeh-รฉngghi, makan-dhahar-dhรขโ€™รขr, nggak-mboten-bhunten dan masih banyak lagi. Kembali ke Mala. Setelah penantian dan pencarian panjangnya, kini Mala resmi menyandang gelar sebagai Cebbhing Madhurรข. Gelar ini menurut saya lebih prestise, alih-alih gelar akademis jalur indomie. Selamat ya Mala, sepertinya kita perlu bikin grup WA Ikatan Istri-Istri Orang Madura atau ISWARA (Ikatan Srikandi Wanita Madura). Saya nggak begitu jago bikin singkatan kata, kalau bikin huru-hara, itu saya juaranya. Atau bisa bikin forum khusus buat kursus bahasa Madura. Lumayan bisa nambah portofolio atau CV buat nglamar kerja. @malafimelyanadewi

484.63% Engagement Rate
119.5k 1.9k
Content

Kalau kamu belum bermental baja, jangan nikah sama orang Madura Tahun ini adalah tahun kelima saya menyandang gelar ISWARA (Ikatan Srikandi Wanita Madura). Setiap tahunnya, saya nggak pernah skip pulang ke daerah yang menyebut warna hijau itu dengan biru. Plis, yang tahu sejarah ini kasih tahu saya. Culture shock demi culture shock saya taklukkan demi bisa menyandang menantu idaman. Alih-alih jadi pegawai BUMN atau pegawai negeri, wanita Madura lebih dihargai jika memakai perhiasan berkarat tinggi. Kok, bisa? Jujurly, setiap Lebaran, suami saya pasti dicecar dengan pertanyaan โ€œe dhimma emmas binenaโ€ (mana emas istrinya?) sama simbahnya. Meski nggak semua, di Madura, rata-rata tolak ukur kesuksesan suami dalam menafkahi ya dilihat dari koleksi perhiasan istri. Jadi, setiap menjelang Lebaran, tabungan emas Pegadai*n yang nggak seberapa itu saya cairkan untuk memenuhi validasi di kampung halaman suami. Sepulang Jogja, emasnya saya kembalikan ke tabungan lagi. Jangan dipaido, ini adalah sebuwah life hack. Jadi, nyairin tabungan emas Pegadai*n cuma buat nunjukin keberhasilan di hadapan keluarga besar. Kenapa saya lakukan? Ya, untuk memenuhi ekspektasi sosial sama mempertahankan citra diri lah. Ini kalau ketahuan sama Judith Butler, jelas saya bisa diroasting habis-habisan.

471.1% Engagement Rate
115.6k 2.4k
Content

Bagi sebagian orang, Jogja adalah jujugan liburan. Tapi bagi warga aslinya, Jogja adalah medan pertarungan. Tempatnya orang stres kayak saya kerja keras dengan upah pas-pasan. Mengatur penghasilan agar cukup sampai sebulan. Tapi, saya juga nggak mau dikatai menderita hanya karena gajinya UMR Jogja. Nggak terima juga kalau dibilang hidup nelangsa dan pantas jadi objek iba. Ini bukan karena saya narimo ing pandum ya, saya hanya ingin bahagia. Bahagia versi saya adalah sesederhana masih bisa jajan di pasar tertua di Jogja. Mencari tanggal pasaran yang bisa menjadi tempat wisata sesungguhnya. Karena di Jogja, kadang bahagia itu bukan soal โ€œpunyaโ€, tapi soal โ€œmasih bisaโ€. Masih bisa makan, masih bisa jajan, masih bisa cekikikan, dan tentu saja masih bisa bertahan. In this economy, terkadang itu sudah lebih dari cukup.

77.78% Engagement Rate
19.1k 396
Content

Saat suami melamar saya di depan orang tua, saya tahu sebenarnya dia belum benar-benar siap. Begitu juga saya. Tapi yang paling kelihatan belum siap ya jelas keluarga saya. Bukan karena nggak suka, tapi mereka punya banyak bayangan tentang orang Madura yang didapat entah dari mana. Bisa dari tetangga, sinetron, atau cerita-cerita yang mengandung unsur โ€˜katanyaโ€™. Mitos-mitos tentang Madura yang tersebar di Jogja membuat keluarga saya khawatir akan keselamatan saya. Saya sebut yang paling populer, โ€œMeduro ki opo-opo carokโ€. Jargon laris seng ora uwis-uwis. Itulah sebabnya, ibu saya menginginkan saya untuk tetap tinggal di Jogja. Makin hari, saya sadar, sebagian besar ketakutan itu bukan datang dari fakta, tapi dari cerita yang diulang-ulang tanpa jeda. Lucunya, saya yang waktu itu begitu yakin ingin hidup bersama, malah ikut-ikutan mengemas pengalaman awal saya dengan lensa curiga. Sebagai orang Jogja yang memilih menikah dengan orang Madura, saya akui, dalam menuliskan pengalaman culture shock, secara tidak langsung saya juga terjebak dalam stereotip. Ini menjadi pengingat bahwa narasi personal pun bisa membawa bias yang perlu saya evaluasi. Madura memang the real super kalcer pro max, iya lagi iya lagi iya lagi ๐Ÿ™…โ€โ™€๏ธ๐Ÿ™…โ€โ™€๏ธ๐Ÿ™…โ€โ™€๏ธ

85.99% Engagement Rate
20.8k 732
Content

Berbeda dengan tren perpisahan pada umumnya, kali ini saya ngide bikin warung ala Madura di hari akhir kerja. Ide ini muncul begitu saja tanpa rencana apa-apa. Saya hanya ingin meninggalkan sesuatu yang bisa dikenang selamanya. Begitu pula yang dilakukan oleh teman-teman saya. Alih-alih minta traktiran mereka justru memberikan hadiah untuk saya, entah barang atau makanan. Setelah sekian lama hadir di tengah mereka yang sering saya sambati dan saya tumpangi tawa, rasanya tak cukup kalau hanya pamit lewat kata. Terhitung sudah hampir 7 tahun saya berproses di tempat kerja. Waktu yang tak sebentar. Ibarat anak manusia, usia segitu mulai banyak nanya, sudah bisa menimbang mana yang pantas dipercaya, dan mulai mengenal makna kecewa. Meski dalam prosesnya selalu diwarnai dengan sombat sambat, esok harinya saya tetep mangkat. Tentu saja, pekerjaan yang marai ishtighfar itu juga bisa saya selesaikan sesuai tenggat. Begitulah lika-liku kerja di bawah korporat, kadang bikin semangat, kadang bikin ingin angkat kaki cepat-cepat. Ketika mengundurkan diri, kehilangan gaji itu pasti, tapi berpisah dengan sahabat sejati adalah situasi yang paling menyayat hati. Farika Maula pamit undur diri.

82.48% Engagement Rate
20.6k 84
Content

Sebagai orang Jogja yang wegah berdamai dengan UMR-nya, pekerja seperti saya mesti pinter cari peluang karier hingga kudu siap banting setir. Karena tahun ini bukan hoki saya di dunia pendidikan, saya sedang mencoba cari pelampiasan biar nggak stres karena kepikiran. Lha gimana, Jam ngajar sebagai dosen luar biasa, suwung alias nggak ada. SK ngajar di-ghosting terus nggak tahu kapan turunnya. Udah gitu nggak keterima jadi mahasiswa S3, ditolak beasiswa pula. Hesssss pokoe anane mung putus asa. Akhirnya, saya putuskan nggak joining trend dulu buat lanjut S3. Sebagai orang yang memiliki ijazah S2 dari kampus ternama, saya pilih jaga warung Madura saja. Sebenarnya ini bukan keinginan pribadi, jelas ini inisiatif suami. Suami yang mencarikan modalnya, saya cukup bantu lewat jalur doa. Fixed, kini saya menggeluti profesi baru. Penjaga warung. Iki jenenge wes dudu dwifungsi, tapi multifungsi. Asalkan bukan jadi buzzer, profesi apa saja saya gas banter. Pesan saya, jangan pernah berharap kaya dari UMR Jogja. Alih-alih kaya raya, malah jadi gila. Bagi yang sedang lewat atau tinggal di Kalasan Raya, kulo aturi mampir di warung kami. Insya Allah belanja hemat, dompet selamat.

96.88% Engagement Rate
23.5k 718
Content

Banyak warganet yang komen kalau wajah saya ini sudah sangat Madura. Bahkan, kemaduraan wajah saya melebihi warga aslinya. Ya nggak papa. Di negara demokrasi kita bebas berpendapat apa saja. Ya gimana ya, soalnya kalau pas di Madura emang ada saja cerita uniknya. Memang tidak bisa dipukul rata, karena kongsep culture shock atau bahasa sederhananya โ€œgampang mak jegagik-anโ€ itu bervariasi. Semua yang saya ceritakan di akun ini memang terjadi berdasarkan pengalaman pribadi. Artinya, kalau nggak sama ya wajar saja. Kadang, perbedaan itu bukan untuk dihakimi, tapi untuk dikenali dan atau kalau bisa, dicintai (kecuali kaldu kacang ijo). Salam cinta dari ISWARA (Ikatan Srikandi Wanita Madura)

1727.82% Engagement Rate
431.4k 1.9k

Followers

Followers distribution

26.82% Male
73.18% Female

Followers location

Indonesia 93.56%
Morocco 2.11%
Egypt 0.56%
Saudi Arabia 0.56%
Malaysia 0.44%
South Korea 0.33%
Italy 0.33%
Yogyakarta 34.2%
Jakarta 7.7%
Semarang 4.4%
Surabaya 3.9%
Malang 1.8%
Depok 1.2%
Bekasi 1.0%
Bogor 1.0%
Bandung 0.9%
Kendari 0.8%
Bandar Lampung 0.7%
Denpasar 0.7%
Pekan Baru 0.7%
Rabat 0.7%

Followers demographics

53.93% 25.51% 14.60% 3.94% 2.03%
Child/Kid
(13-17)
Teen/Teenager
(18-24)
Young Adult
(25-34)
Adult
(35-44)
Middle-aged
(45-64)

Follower types

24.93% mass_followers
4.25% suspicious
18.38% influencers
52.44% real


KOL that follows @farikamaula

Growth & Interest

Followers growth

Monthly trend of total Followers

25K 23.9K 22.8K 21.7K 20.6K
2025-04 2025-05 2025-06 2025-07 2025-08 2025-09 2025-10

Likes growth

Monthly trend of average likes per post

55k 44.4k 33.8k 23.2k 12.6k 2k
2025-04 2025-05 2025-06 2025-07 2025-08 2025-09 2025-10

Frequently used hashtags

Hashtags frequently used by the KOL in their content

#samshoot #tolaknyia #alf2017 #bogor #explorejogja #okkymadasari #nikonphotograph #talkshow #tamasyabuku #storytelling #workshopkomunikasi #jasaparafrasekonversi #ubahdunia #cafeterbaikjogja #21ramadhan #skillberbicara #komunikasiefektif #jogjapunya #temanggung #wanikesel #explorepage #pengembangankaryawan #jakarta #karirdosen #growatstartupcampus #dilegendaja #festivalliterasi #sidubukutulis #merdeka #astayusuf

Frequently mentioned accounts

Accounts frequently mentioned by the KOL in their content

@dehaedar @aseanlitfest @okkymadasari @clairineyuzlar @parafraseindonesia @farikamaula @fachri_asfa @dian_pepriana @selfphoto_bybintang @grabistimewa @dindikpora_temanggung @suhairi_24 @rodlieguest @farisarfan29 @gomsya @dabwok @megatruhsoundsystem @chrisloho @startupcampus_id @rocketchickenofficial @grabid @asmonowikan @aditv_jogja @agibtanjung @zayana_id @aurelia_selly @dinpusiptemanggung @grabfoodid @titiswidyatmoko @bazfaazzah


Benchmark Engagement Instagram
Berdasarkan Tier KOL

Kenali tipe KOL dari Nano hingga Mega dan manfaatkan data engagement rate kami untuk memilih influencer yang tepat.


kol

Bagaimana Tool Kerja Ini Bekerja?

Engagement rate didapatkan dari perhitungan rata-rata Likes, Comments, Share dibagi dengan jumlah followers kemudian dikali 100. Semakin tinggi engagement rate yang Anda miliki semakin baik nilai Anda.

Kenali Lebih Detail Kebutuhan KOL Anda

Sudah tahu tentang KOL atau influencer level mulai dari Nano, Micro, Mid-Tier, Macro dan Mega ? Gunakan benchmark akurat kami untuk mengenal lebih jauh bagaimana benefit mengetahui engagement rate bisa membantu kita memilih KOL apa yang akan kita pakai.

Avg. Instagram Engagement
Rate - 2025

0
0.2%
0.4%
0.6%
0.8%
0.66%
All post types
0.66%
0.59%
Photo post
0.59%
0.68%
Video post
0.68%
0.77%
Carousel post
0.77%

Check engagement rates for other platforms

Engagement rate calculator for Youtube

Check engagement rate for any Youtube channel and get detailed analytics report

kol

Engagement rate calculator for TikTok

Check engagement rate for any TikTok account and get detailed analytics report

kol

Got Questions?

Apa itu KOL.ID? โˆ’

KOL.ID adalah platform teknologi pemasaran pertama di Indonesia yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung kolaborasi antara Key Opinion Leaders (KOL) dan bisnis. Platform ini menyediakan solusi lengkap untuk kebutuhan pemasaran di Instagram, TikTok, dan YouTube, semuanya terintegrasi dalam satu tempat.

Salah satu fitur utama KOL.ID adalah pembuatan dan pengecekan rate card otomatis bagi para KOL. Dengan menggunakan data real-time dari berbagai platform media sosial, KOL.ID membantu KOL menentukan harga layanan mereka secara akurat dan adil, sehingga mereka dapat fokus pada kreativitas dan peningkatan engagement rate.

Selain itu, KOL.ID menawarkan berbagai alat analisis, seperti kalkulator engagement rate untuk TikTok, Instagram, dan YouTube, yang membantu KOL dan bisnis memahami performa akun media sosial dan membuat keputusan yang lebih baik dalam kampanye pemasaran.

Dengan berbagai fitur dan layanan yang ditawarkan, KOL.ID menjadi platform yang andal bagi KOL dan bisnis dalam menjalankan kampanye pemasaran yang efektif dan efisien.

Apa saja fitur yang disediakan oleh KOL.ID? +

FOR BRAND (Untuk Agency/Brand/Bisnis):

  1. KOL Ranking: Fitur pencarian KOL yang sesuai dengan kebutuhan brand atau bisnis.

  2. Cek Rate Card KOL: Tools untuk bisnis mengevaluasi rate card KOL berdasarkan data dari TikTok, Instagram & YouTube.

  3. Campaign Report: Laporan terperinci untuk mendapatkan data performa (Like, Comment, Share, Views & Save) terkait performa kampanye pemasaran bersama KOL hanya menggunakan Link Posting.

FOR KOL (Untuk Key Opinion Leader):

  1. Buat Rate Card: Alat untuk membantu KOL membuat rate card berdasarkan performa mereka di TikTok, Instagram & YouTube.

FREE TOOLS (Alat Gratis):

  1. Buat MoU KOL: Membuat memorandum of understanding (MoU) antara KOL dan bisnis secara otomatis.

  2. Cek ER KOL TikTok: Alat untuk menghitung engagement rate KOL di TikTok.

  3. Cek ER KOL Instagram: Alat untuk menghitung engagement rate KOL di Instagram.

  4. Cek ER KOL YouTube: Alat untuk menghitung engagement rate KOL di YouTube.

  5. Download Video TikTok: Fitur untuk mengunduh video dari TikTok.

  6. Download Video Instagram: Fitur untuk mengunduh video dari Instagram.

  7. Download Video YouTube: Fitur untuk mengunduh video dari YouTube.

  8. Kamus KOL: Panduan istilah-istilah penting terkait dunia KOL.

  9. Extension Chrome: Extension yang memungkinkan untuk melihat analisa KOL dengan mudah hanya dengan membuka profil Instagram & TikTok.

Semua fitur ini menunjukkan bahwa KOL.ID adalah platform yang lengkap untuk mendukung kebutuhan KOL dan merek/bisnis dalam membangun strategi pemasaran digital.