pecahtelur.id
Mas Mamnun pernah mencoba berbagai jalan untuk mencari penghasilan, termasuk menjual kaos dengan keuntungan yang ternyata tidak terlalu besar setelah dipotong berbagai biaya. Dari pengalaman itu, ia melihat peluang lain yang lebih sesuai dengan kemampuannya: membuat konten untuk membantu produk-produk UMKM dikenal dan terjual lebih luas melalui affiliate. Padahal perjalanan hidupnya tidak selalu mulus. Ia pernah merantau ke Jakarta dengan harapan menjadi aktor. Kenyataannya jauh dari bayangan. Penghasilannya saat itu hanya cukup untuk membayar kos, sementara kebutuhan hidup sehari-hari masih menjadi perjuangan. Menjelang pandemi, ia memutuskan pulang ke kampung halaman. Keputusan pulang itulah yang menjadi titik balik. Berawal dari konten sederhana bersama sang ibu, videonya justru viral dan dalam waktu sekitar dua bulan berhasil mengumpulkan lebih dari 1,6 juta pengikut. Dari situ ia menyadari bahwa peluang besar tidak selalu berada di kota besar. Kadang justru datang dari hal-hal sederhana yang ada di sekitar kita. Perjalanan sebagai content creator juga tidak lepas dari hujatan. Pernah dihujat saat bernyanyi, kehilangan akun Instagram, hingga keluarganya ikut menjadi sasaran komentar negatif. Namun, ia memilih tetap berkarya dan tidak membiarkan komentar orang lain menghentikan langkahnya. Dari cerita Mas Mamnun, ada satu pelajaran yang menarik. Di era digital, peluang tidak selalu dimiliki oleh orang yang punya produk, tetapi juga oleh mereka yang mampu membantu produk orang lain dikenal lebih luas. Yang terpenting bukan memulai dengan sempurna, melainkan berani memulai dan terus konsisten sampai peluang itu benar-benar datang. Simak cerita lengkapnya di youtube PecahTelur episode: Nano House
Dari kerja kantoran di perusahaan besar, Mas Haryo akhirnya memilih pulang. Bukan karena jalannya lebih mudah, tapi karena ada usaha keluarga yang sudah berjalan sejak 1999 dan perlu dijaga dengan serius. Bangkit Ternak bukan cuma kandang sapi. Di dalamnya ada sistem yang saling terhubung, sapi, tahu, pupuk, bibit, sampai biogas. Kotoran sapi jadi pupuk, biogas dipakai untuk menggoreng tahu, ampas tahu kembali jadi pakan sapi. Sederhana kelihatannya, tapi justru di situlah menariknya. Dengan populasi sekitar 600 ekor sapi, perjalanan ini tetap penuh risiko. Tapi dari situ terlihat bahwa bisnis peternakan bukan cuma soal besar kandang, melainkan soal ilmu, efisiensi, dan tujuan hidup yang lebih tenang. Simak cerita lengkapnya di youtube PecahTelur episode: Bangkit Ternak Sapi
Tidak semua usaha besar dimulai dari tempat yang besar. Ada yang berawal dari dapur rumah, dari bahan sederhana, dari rasa penasaran, lalu pelan-pelan tumbuh karena terus dicoba. Seperti usaha tempe sagu milik Alvi Muslika ini, yang bahan dasarnya berasal dari kedelai, tepung kanji, dan tepung sagu. Prosesnya juga tidak sebentar. Tempe sagu ini butuh waktu sekitar tiga hari sebelum akhirnya bisa digoreng dan dipasarkan. Mulai dari membuat adonan, membungkus, proses fermentasi, menggantung, sampai akhirnya jadi produk yang siap dijual. Kelihatannya sederhana, tapi di baliknya ada ketelatenan yang tidak bisa dikerjakan asal-asalan. Perjalanannya pun tidak langsung ramai. Awalnya hanya produksi kecil-kecilan, belajar dari orang sekitar, lalu memberanikan diri menawarkan produk dari toko ke toko. Tantangannya macam-macam. dari harga minyak naik, persaingan ketat, pembeli minta tempo, pesanan tiba-tiba sepi, sampai produk yang pernah dikembalikan karena dianggap kurang sesuai. Tapi justru dari situ usahanya pelan-pelan belajar bertahan. Kini usaha tempe sagu ini bisa menghasilkan omzet sekitar 15 juta perhari. Bukan hanya soal angka, tapi tentang bagaimana usaha rumahan bisa menjadi jalan kemandirian. Dari sini kita bisa belajar, kadang yang membuat usaha bertahan bukan sekadar modal besar, tapi sabar, konsisten, dan keberanian untuk terus jalan meski tidak selalu mudah. Simak cerita lengkapnya di youtube PecahTelur episode: Kripik Tempe Sagu
Berawal dari modal 150.000, Nasywa Tiara membangun Girlstuff Fashion dari nol. Uang itu digunakan membeli manik-manik, lalu dirangkai menjadi sekitar 20โ30 gelang. Saat itu, ia berusia 19 tahun, baru lulus SMA dan bekerja di toko hijab. Gajinya hanya cukup membayar cicilan motor, sehingga ia mencari penghasilan tambahan. Ia sempat bekerja sampingan di warung nasi gudeg, tetapi hanya bertahan tiga bulan karena terlalu melelahkan. Setelah melihat tren aksesori manik-manik di media sosial dan menyadari produk serupa masih jarang di Blitar, ia memberanikan diri memulai usaha. Perjalanannya tidak langsung mulus. Selama sekitar enam bulan, penjualan dengan sistem pre-order tidak berkembang. Ia kemudian nekat membuka lapak menggunakan meja kecil. Dari sana, ia terus berjualan, mengikuti event, memutar keuntungan, hingga mampu membeli gerobak dan membuka toko pertama di Garum. Usahanya berkembang setelah kontennya ramai di media sosial. Produksi yang awalnya dikerjakan sendiri kemudian dibantu pelajar sebagai tenaga freelance. Dalam empat jam, ia mampu membuat sekitar 50 gelang. Kini, omzet satu outlet sekitar 30 juta per bulan, sedangkan total omzet dua outlet diperkirakan 70โ80 juta per bulan. Salah satu strategi unik Girlstuff Fashion adalah memberikan garansi seumur hidup, bahkan untuk gelang seharga 10.000. Selama material masih lengkap, pelanggan dapat memperbaiki atau merangkai ulang produknya secara gratis. Setiap model juga dibuat terbatas, maksimal 10 buah, agar tidak pasaran. Di balik perkembangan usahanya, ada cerita keluarga yang kuat. Sejak kecil, Nasywa Tiara tinggal bersama ibunya yang bekerja serabutan. Kondisi ekonomi yang tidak stabil membuatnya terbiasa bekerja keras dan berani mengambil risiko. Hasil usaha digunakan untuk mengembangkan bisnis sekaligus membantu ibunya. Gimana? tertarik mengikuti jejak Nasywa Tiara membangun Girlstuff? simak video lengkpanya hanya di youtube Pecahtelur, episode @girlstuff.blt
Banyak anak muda memilih pergi ke kota setelah lulus kuliah. Namun Mas Fahmi Wildan mengambil jalan berbeda. Meski merupakan lulusan perikanan dan sempat ingin bekerja di luar kota, ia memilih pulang, membantu orang tua, lalu menggarap lahan pertanian milik keluarganya bersama sang kakek. Aktivitas bertani itu kemudian ia bawa ke media sosial. Mulai dari proses menanam, merawat tanaman, mengatasi hama, hingga panen, semuanya dikemas menjadi konten edukasi dan daily vlog. Berkat konsistensinya, pertanian yang sebelumnya hanya dikenal warga sekitar kini dapat disaksikan oleh lebih banyak orang. Perjalanannya tentu tidak selalu menghasilkan keuntungan. Mas Fahmi pernah menanam cabai di lahan sekitar 10 ru, tetapi seluruh tanamannya mati akibat penyakit dan kurang telaten dalam perawatan. Ia pun belajar bahwa bertani bukan hanya soal menanam, melainkan juga soal kesabaran, ketekunan, dan kesiapan menghadapi kegagalan. Semangat itu ia pelajari dari sang kakek yang sudah memegang pacul sejak usia 15 tahun dan hingga kini tetap ingin bergerak serta berkeringat. Dari kisah mereka, terlihat bahwa peluang tidak selalu harus dicari jauh-jauh. Terkadang, peluang itu sudah tersedia di rumah, hanya menunggu siapa yang bersedia meneruskan dan mengembangkannya. Simak cerita lengkapnya di youtube PecahTelur episode: Petani Gen Z
Awal jualan, Warung Gendis benar-benar sepi. Dua hari tidak ada pembeli, bahkan stok ayam yang tersisa akhirnya dibagikan karena Mbak Dindha ingin semua menu selalu fresh setiap hari. Lucunya, Mbak Dindha yang punya latar belakang sebagai food vlogger justru belum percaya diri mempromosikan warungnya sendiri. Sampai karyawan pertamanya marah dan menyuruhnya mulai membuat story. Begitu berani mengunggah menu, respons mulai berdatangan. Dari warung yang awalnya sepi, perlahan semakin dikenal, membuktikan bahwa produk bagus juga perlu keberanian untuk diperlihatkan. Simak cerita lengkapnya di youtube PecahTelur episode: Warung Gendhis
Pernah diremehkan, dihina tetangga, bahkan dituduh punya pesugihan. Mbak Dindha memilih tidak membalas dengan banyak kata, tetapi membuktikannya lewat usaha. Perjalanannya tidak langsung berhasil. Jualan salad buah pernah tidak laku, warung sempat sepi pembeli, dan menu terbaik baru ditemukan setelah enam bulan mencoba. Dari masa sulit sampai pernah mudik hanya membawa 10.000, kini Mbak Dindha berhasil mempelopori jukut goreng di Blitar dan mampu membeli mobil secara tunai. Perjuangan memang tidak selalu cepat, tetapi bisa mengubah hidup. Simak cerita lengkapnya di youtube PecahTelur episode: Warung Gendhis
Bandeng presto memang lunak, tapi justru itu tantangannya. Salah menyusun saat dimasak, ikan bisa mudah patah, hancur, bahkan sulit dijual. Mbak Idda Ayu akhirnya menemukan caranya sendiri dengan memodifikasi loyang dan susunan di dalam panci. Bandeng ditata lebih rapi, tidak terendam seluruhnya, dan tetap utuh meski dimasak dalam jumlah banyak. Dari masalah kecil di dapur, lahir solusi yang ikut menentukan kualitas produksi. Kadang, perkembangan usaha memang dimulai dari keberanian membongkar cara lama dan menciptakan cara yang lebih efektif. Simak cerita lengkapnya di youtube PecahTelur episode: Bandeng Presto
Harga untuk pesanan besar bisa mencapai 15 ribu per ekor. Namun saat dijual langsung kepada warga, Mbak Idda Ayu justru melepas bandeng prestonya mulai Rp10 ribu, bahkan terkadang lebih murah. Bukan karena tidak ingin untung, tetapi karena ia pernah merasakan hidup dengan ekonomi pas-pasan. Ia paham, harga yang terlalu mahal bisa membuat seseorang mengurungkan niat untuk membeli. Di tengah produksi yang terus meningkat, Mbak Idda Ayu tetap membawa pengalaman hidupnya dalam menentukan harga. Sebab baginya, usaha bukan hanya soal berapa banyak keuntungan yang didapat, tetapi juga tentang siapa saja yang masih bisa menikmati produknya. Simak cerita lengkapnya di youtube PecahTelur episode: Bandeng Presto
Berawal dari modal 150.000, Nasywa Tiara membangun Girlstuff Fashion dari nol. Uang itu digunakan membeli manik-manik, lalu dirangkai menjadi sekitar 20โ30 gelang. Saat itu, ia berusia 19 tahun, baru lulus SMA dan bekerja di toko hijab. Gajinya hanya cukup membayar cicilan motor, sehingga ia mencari penghasilan tambahan. Ia sempat bekerja sampingan di warung nasi gudeg, tetapi hanya bertahan tiga bulan karena terlalu melelahkan. Setelah melihat tren aksesori manik-manik di media sosial dan menyadari produk serupa masih jarang di Blitar, ia memberanikan diri memulai usaha. Perjalanannya tidak langsung mulus. Selama sekitar enam bulan, penjualan dengan sistem pre-order tidak berkembang. Ia kemudian nekat membuka lapak menggunakan meja kecil. Dari sana, ia terus berjualan, mengikuti event, memutar keuntungan, hingga mampu membeli gerobak dan membuka toko pertama di Garum. Usahanya berkembang setelah kontennya ramai di media sosial. Produksi yang awalnya dikerjakan sendiri kemudian dibantu pelajar sebagai tenaga freelance. Dalam empat jam, ia mampu membuat sekitar 50 gelang. Kini, omzet satu outlet sekitar 30 juta per bulan, sedangkan total omzet dua outlet diperkirakan 70โ80 juta per bulan. Salah satu strategi unik Girlstuff Fashion adalah memberikan garansi seumur hidup, bahkan untuk gelang seharga 10.000. Selama material masih lengkap, pelanggan dapat memperbaiki atau merangkai ulang produknya secara gratis. Setiap model juga dibuat terbatas, maksimal 10 buah, agar tidak pasaran. Di balik perkembangan usahanya, ada cerita keluarga yang kuat. Sejak kecil, Nasywa Tiara tinggal bersama ibunya yang bekerja serabutan. Kondisi ekonomi yang tidak stabil membuatnya terbiasa bekerja keras dan berani mengambil risiko. Hasil usaha digunakan untuk mengembangkan bisnis sekaligus membantu ibunya. Gimana? tertarik mengikuti jejak Nasywa Tiara membangun Girlstuff? simak video lengkpanya hanya di youtube Pecahtelur, episode @girlstuff.blt
Monthly trend of total Followers
Monthly trend of average likes per post
Hashtags frequently used by the KOL in their content
Accounts frequently mentioned by the KOL in their content
Kenali tipe KOL dari Nano hingga Mega dan manfaatkan data engagement rate kami untuk memilih influencer yang tepat.
| Nano 1K-10K |
Micro 10K-50K |
Mid-tier 50K-100K |
Macro 100K-1M |
Mega 1M+ |
|
|---|---|---|---|---|---|
| High | 5.312% | 2.61% | 2.47% | 2.53% | 2.60% |
| Above average | 4.91% | 1.86% | 1.74% | 1.53% | 1.94% |
| Average | 2.42% | 0.98% | 0.88% | 1.01% | 1.15% |
| Below average | 1.58% | 0.62% | 0.54% | 0.66% | 0.80% |
| Low | 1.06% | 0.39% | 0.32% | 0.44% | 0.57% |
Engagement rate didapatkan dari perhitungan rata-rata Likes, Comments, Share dibagi dengan jumlah followers kemudian dikali 100. Semakin tinggi engagement rate yang Anda miliki semakin baik nilai Anda.
Sudah tahu tentang KOL atau influencer level mulai dari Nano, Micro, Mid-Tier, Macro dan Mega ? Gunakan benchmark akurat kami untuk mengenal lebih jauh bagaimana benefit mengetahui engagement rate bisa membantu kita memilih KOL apa yang akan kita pakai.
Check engagement rate for any Youtube channel and get detailed analytics report
Check engagement rate for any TikTok account and get detailed analytics report
KOL.ID adalah platform teknologi pemasaran pertama di Indonesia yang memanfaatkan kecerdasan
buatan (AI) untuk mendukung kolaborasi antara Key Opinion Leaders (KOL) dan bisnis.
Platform ini menyediakan solusi lengkap untuk kebutuhan pemasaran di Instagram, TikTok, dan
YouTube, semuanya terintegrasi dalam satu tempat.
Salah satu fitur utama KOL.ID adalah pembuatan dan pengecekan rate card otomatis bagi para KOL.
Dengan menggunakan data real-time dari berbagai platform media sosial, KOL.ID membantu KOL
menentukan harga layanan mereka secara akurat dan adil,
sehingga mereka dapat fokus pada kreativitas dan peningkatan engagement rate.
Selain itu, KOL.ID menawarkan berbagai alat analisis, seperti kalkulator engagement rate untuk
TikTok, Instagram, dan YouTube,
yang membantu KOL dan bisnis memahami performa akun media sosial dan membuat keputusan yang
lebih baik dalam kampanye pemasaran.
Dengan berbagai fitur dan layanan yang ditawarkan, KOL.ID menjadi platform yang andal bagi KOL
dan bisnis dalam menjalankan kampanye pemasaran yang efektif dan efisien.
FOR BRAND (Untuk Agency/Brand/Bisnis):
KOL Ranking: Fitur pencarian KOL yang sesuai dengan kebutuhan brand atau bisnis.
Cek Rate Card KOL: Tools untuk bisnis mengevaluasi rate card KOL berdasarkan data dari TikTok, Instagram & YouTube.
Campaign Report: Laporan terperinci untuk mendapatkan data performa (Like, Comment, Share, Views & Save) terkait performa kampanye pemasaran bersama KOL hanya menggunakan Link Posting.
FOR KOL (Untuk Key Opinion Leader):
Buat Rate Card: Alat untuk membantu KOL membuat rate card berdasarkan performa mereka di TikTok, Instagram & YouTube.
FREE TOOLS (Alat Gratis):
Buat MoU KOL: Membuat memorandum of understanding (MoU) antara KOL dan bisnis secara otomatis.
Cek ER KOL TikTok: Alat untuk menghitung engagement rate KOL di TikTok.
Cek ER KOL Instagram: Alat untuk menghitung engagement rate KOL di Instagram.
Cek ER KOL YouTube: Alat untuk menghitung engagement rate KOL di YouTube.
Download Video TikTok: Fitur untuk mengunduh video dari TikTok.
Download Video Instagram: Fitur untuk mengunduh video dari Instagram.
Download Video YouTube: Fitur untuk mengunduh video dari YouTube.
Kamus KOL: Panduan istilah-istilah penting terkait dunia KOL.
Extension Chrome: Extension yang memungkinkan untuk melihat analisa KOL dengan mudah hanya dengan membuka profil Instagram & TikTok.
Semua fitur ini menunjukkan bahwa KOL.ID adalah platform yang lengkap untuk mendukung kebutuhan KOL dan merek/bisnis dalam membangun strategi pemasaran digital.