Buat Rate Card Tiktok Buat Rate Card Instagram Buat Rate Card Youtube
Buat MoU Otomatis Cek ER KOL Tiktok Cek ER KOL Instagram Cek ER KOL YouTube Download Video Tiktok Download Video Instagram Download Video Youtube Kamus KOL
Ranking KOL Tiktok Ranking KOL Instagram Ranking KOL Youtube Cek Rate Card KOL Tiktok Cek Rate Card KOL Instagram Cek Rate Card KOL Youtube Campaign Report KOL Management Extensions KOL.ID
Login Register
galihtyanr Tiktok Profile
galihtyanr

galihtyanr

galihtyanr

badge Micro | Mass Pool
follower
Total Followers 46.6k
language
Language Spoken EN , English
account
Account Type KOL Micro badge Micro | Mass Pool

Rate Card

RpXXXXXXX Rate Video
RpXXXXXXX Owning Content
RpXXXXXXX Boost Code Ads
RpXXXXXXX Yellow Cart
lock

Unlock to see KOL rate card

Tap "Show Rate Card" to get the latest updates!

Show Rate Card
disclaimer
Disclaimer:
This performance and rate card page is generated using our AI-powered calculations.


Performance

28.54% high Engagement rate
13.3k Avg. likes per post
696 Avg. comments per post
166.4k Avg. views

Engagement Rate For Last 10 Posts (Latest)

142.78% 114.22% 85.67% 57.11% 28.56% 0.00%
2025-03-02
2025-03-10
2025-04-09
2025-04-18
2025-04-20
2025-04-22
2025-04-25
2025-04-28
2025-05-01
2025-05-16

Engagement Rate For Top 10 Posts

440.25% 352.20% 264.15% 176.10% 88.05% 0.00%
2024-02-02
2024-02-19
2024-03-29
2024-05-21
2024-06-02
2024-06-11
2024-06-13
2024-06-23
2024-07-07
2025-04-22
Date Posted
Content

Rachel venya sadar gak ya dia lagi ngalamin racism, discrimination, dan classism? -bahkan korban kapitalis dan neolib juga in a way๐Ÿฅน๐Ÿ™

440.25% Engagement Rate
203.6k 1.5k
Content

Jadi, siapa yang sebenarnya merumuskan Pancasila? Apakah yang kita pelajari selama ini salah? Lalu bagaimana kita memastikan bahwa yang sudah diperbarui di buku pelajaran sekarang itu benar-benar sesuai dengan fakta sejarah yang ada? Aku memastikannya lagi dengan membuka dokumen asli sidang BPUPKI milik arsip nasional yang bisa diunduh di laman BPIP untuk mencoba memahaminya. Terlepas apapun polemiknya, aku yakin bahwa perumusan Pancasila bukan hanya kepemilikan satu tokoh saja, tapi juga didasari dan dilandasi oleh semangat persatuan dan kesatuan seluruh rakyat Indonesia. Begitu pula yang diamini oleh Sukarno, Bapak Presiden pertama kita. Perumusan dasar negara dan Pancasila pada intinya adalah hasil pemikiran kolektif seluruh anggota yang hadir pada saat itu, yang kontribusinya perlu sama-sama dirayakan. Jujur, melakukan โ€œinvestigasiโ€ mini demi bisa memastikan apa yang ku ajarkan ke murid-murid itu tepat dan gak misleading, buatku merinding dan bersemangat sekali! Menarik memang bagaimana materi pelajaran bisa berubah dan tunduk pada pelanggengan status quo, tergantung siapa yang sedang berkuasa. Makanya menurutku, penting untuk mengubah pertanyaan yang tertutup menjadi terbuka. Alih-alih bertanya "siapa saja tokoh yang merumuskan Pancasila?" kita bisa bahas bagaimana Pancasila dirumuskan dan mengapa kita perlu memiliki Pancasila sebagai dasar negara.

407.99% Engagement Rate
189.2k 922
Content

Sebagai orang yang pernah merasakan menjadi diaspora Indonesia dan dibiayai kuliah di luar negeri oleh negara, gak pernah terbayang apa rasanya kalau tiba-tiba diputus kontak dengan keluarga dan gak boleh pulang sampai lebih dari 30 tahun lamanya. Negara yang kita bawa-bawa namanya sepanjang menimba ilmu, handai taulan tempat kita lahir dan besar, tiba-tiba menolak dan mengasingkan kita putra-putrinya. Tapi anehnya, tidak sedikitpun luntur rasa cinta tanah air para eksil ini terhadap bangsa kita Indonesia. Sepanjang film, aku dan semua penonton di dalam bioskop gak sanggup menahan derasnya air mata yang disusul isak bersahutan. Laki-laki, perempuan, nonton sendiri atau bersama pasangan, kurasa semua hancur lebur dalam perasaan bersalah dan ketidaktahuan kita atas pahlawan-pahlawan yang tidak pernah tersebut namanya dalam buku sejarah. Bahkan ketika film selesai diputar dan lampu menyala, kami semua masih enggan beranjak dari tempat duduk bioskop karena begitu terpukul mencerna filmnya. Terima kasih banyak sudah memulihkan pengetahuan sejarah kami, mbak Lola Amaria. Doa terbaik untuk para eksil. Terima kasih, terima kasih. Biar kami terus ingat semua cinta kalian yang tulus dan pendirian yang tak gentar buat bangsa kami. Dari kalianlah kami belajar makna cinta tanah air sebenar-benarnya. ๐ŸŒน

405.15% Engagement Rate
187.6k 1.2k
Content

[SIMAK VIDEO SAMPAI HABIS] Thesis S2-ku di UCL tahun 2019 topiknya adalah tentang Kebijakan Zonasi di Indonesia khususnya di DKI Jakarta. Sehingga, riset dan studi literatur yang kulakukan juga bisa kupastikan menyeluruh karena sejalan juga dengan salah satu materi kuliah yang kami pelajari yaitu "School Choice and Competition". Dalam thesisku, aku mewawancarai pembuat kebijakan dari level pusat dan daerah, beserta aktor sekolah yang bervariasi label "unggulan" atau "non-unggulan" di mata masyarakat sekitar. Dari thesisku itu aku menemukan definisi dan pemaknaan "pendidikan yang berkeadilan" yang tidak sama dari berbagai pihak. Ada kecenderungan untuk tetap mempertahankan merit-based system, yaitu penerimaan berbasis nilai/prestasi yang dirasa paling adil--tanpa mempertimbangkan faktor status sosial ekonomi dan lingkungan anak tersebut berasal, atau bahkan berbagai faktor lainnya. Namun pandangan yang berbeda itu bisa jadi disebabkan karena kondisi geografis dan kultur Jakarta yang juga berbeda dari wilayah lainnya. Dalam thesisku, aku telah memprediksi adanya berbagai praktik kecurangan yang bisa saja terjadi dalam zonasi, yang sebetulnya mirip juga dengan negara lain yang sudah menerapkan lebih dulu (US, UK). Akupun merekomendasikan adanya kerja sama dengan sekolah swasta dalam menyediakan sistem voucher bagi anak2 kurang mampu dan tidak bisa mengakses sekolah negeri. Beberapa kali @pspk_id juga telah mengeluarkan berbagai publikasi penelitian berkaitan akses pendidikan yang berkeadilan, yang bisa teman2 akses pula untuk menjadi referensi. Aku sendiri percaya bahwa pada akhirnya adanya zonasi juga secara alamiah menyeleksi kualitas sekolah dan menutup sekolah yang kekurangan murid. Di situlah peran inovasi dan sinergi pemerintah pusat-daerah dibutuhkan untuk tetap mengakomodasi penyebaran jumlah guru, sekolah dengan fasilitas memadai, sesuai demand yang ada. Yang aku yakini, zonasi itu ditetapkan karena tujuan pemerataan kualitas pendidikan yang lebih berkeadilan. Menghilangkan dikotomi unggulan-non unggulan atau favoritism. Makna adil buatku bukan tentang mana yang untung dan rugi, kalah dan menang, tapi mana yang lebih membutuhkan secara ekonomi.

408.31% Engagement Rate
182.2k 8k
Content

Semenjak berkeluarga, aku bertekad memutus rantai trauma masa kecil dan segala kejadian tidak mengenakkan yg kualami sebagai seorang anak. Setiap Kamis Putih, saling membasuh kaki kami lakukan sebagai pengingat bahwa kitapun harus saling membasuh dan melayani. Kami memahaminya bahwa melayani dilakukan secara 2 arah, dan dalam pengasuhan, diteladani terlebih dahulu oleh orang tua kepada anaknya alih-alih menuntutnya menghormati dan menjalankan kehendak kita tanpa menunjukkan cinta kasih yang tidak bersyarat. Anak berhak mendapatkan kasih sayang semata-mata karena itu adalah haknya, bukan karena Ia telah atau harus melakukan sesuatu yang menyenangkan hati dan memuaskan ego orang tua. Kami berharap bahwa dengan mencontohkan, Aruna tumbuh menjadi anak yang rendah hati dan penuh cinta kasih, yang akan ditunjukkan lewat perbuatan kepada sesamanya.

351.02% Engagement Rate
160.2k 3.3k
Content

Rest in Peace, Pope๐Ÿฅ€

142.78% Engagement Rate
64.9k 1.6k
Content

[SIMAK VIDEO SAMPAI HABIS] Thesis S2-ku di UCL tahun 2019 topiknya adalah tentang Kebijakan Zonasi di Indonesia khususnya di DKI Jakarta. Sehingga, riset dan studi literatur yang kulakukan juga bisa kupastikan menyeluruh karena sejalan juga dengan salah satu materi kuliah yang kami pelajari yaitu "School Choice and Competition". Dalam thesisku, aku mewawancarai pembuat kebijakan dari level pusat dan daerah, beserta aktor sekolah yang bervariasi label "unggulan" atau "non-unggulan" di mata masyarakat sekitar. Dari thesisku itu aku menemukan definisi dan pemaknaan "pendidikan yang berkeadilan" yang tidak sama dari berbagai pihak. Ada kecenderungan untuk tetap mempertahankan merit-based system, yaitu penerimaan berbasis nilai/prestasi yang dirasa paling adil--tanpa mempertimbangkan faktor status sosial ekonomi dan lingkungan anak tersebut berasal, atau bahkan berbagai faktor lainnya. Namun pandangan yang berbeda itu bisa jadi disebabkan karena kondisi geografis dan kultur Jakarta yang juga berbeda dari wilayah lainnya. Dalam thesisku, aku telah memprediksi adanya berbagai praktik kecurangan yang bisa saja terjadi dalam zonasi, yang sebetulnya mirip juga dengan negara lain yang sudah menerapkan lebih dulu (US, UK). Akupun merekomendasikan adanya kerja sama dengan sekolah swasta dalam menyediakan sistem voucher bagi anak2 kurang mampu dan tidak bisa mengakses sekolah negeri. Beberapa kali @pspk_id juga telah mengeluarkan berbagai publikasi penelitian berkaitan akses pendidikan yang berkeadilan, yang bisa teman2 akses pula untuk menjadi referensi. Aku sendiri percaya bahwa pada akhirnya adanya zonasi juga secara alamiah menyeleksi kualitas sekolah dan menutup sekolah yang kekurangan murid. Di situlah peran inovasi dan sinergi pemerintah pusat-daerah dibutuhkan untuk tetap mengakomodasi penyebaran jumlah guru, sekolah dengan fasilitas memadai, sesuai demand yang ada. Yang aku yakini, zonasi itu ditetapkan karena tujuan pemerataan kualitas pendidikan yang lebih berkeadilan. Menghilangkan dikotomi unggulan-non unggulan atau favoritism. Makna adil buatku bukan tentang mana yang untung dan rugi, kalah dan menang, tapi mana yang lebih membutuhkan secara ekonomi.

408.31% Engagement Rate
182.2k 8k
Content

Dari data PISA OECD, anak yang kemampuan literasinya baik itu berasal dari keluarga yang selalu menyempatkan makan bareng, ngobrol, dan menghabiskan waktu bersama. Pada pembagian rapor kemarin, kami belajar bahwa pendampingan orang tua di rumah itu bukan hanya tentang bantuin belajar atau bikin PR/tugas anak yang seringkali dirasa sulit untuk dilakukan. Entah karena kita merasa gak paham materinya, atau ya karena rasanya udah sibuk dan kewalahan aja. Tapi juga dari interaksi orang tua dengan anak dalam keseharian yang sederhana, seperti memberi anak pilihan alih-alih instruksi tanpa memberinya kesempatan untuk menalar alasan mengapa mereka harus melakukan sesuatu. Kami sepakat kalau literasi itu gak melulu baca buku, tapi menalar dan mendiskusikan apa yang ada di dalam ceritanya, menghubungkan dengan pengalaman pribadi lewat kemampuan literasi lain seperti Mendengarkan&Menyimak, Memirsa Gambar, Berbicara dan Menulis yang semuanya juga dipengaruhi dari interaksi ortu dan anak. Kondisi ekonomi seringkali jadi penghambat. Ortu yang sudah terbebani dengan sulitnya bertahan hidup, atau malah sebaliknya merasa "kalah" dengan anak karena takut dibenci. Padahal semua itu kembali lagi ke cara kita mengimbangi kasih sayang, disiplin positif dengan kesepakatan. Kalau dibiarkan terus menerus, khawatirnya anak tidak akan mampu tangguh dan adaptif menghadapi zaman yang terus berkembang. Kesimpulannya, sebelum memutuskan punya anak, perlu sadar penuh kalau tanggung jawab orang tua itu bukan sekedar membesarkan dengan memberinya makan, tapi juga memberikan waktu, raga dan pikiran kita dalam tumbuhkembangnya. #guru #anak #parenting #literasi

150.54% Engagement Rate
69.3k 852
Content

Replying to @Fey Hanindya | Penulis Pelajaran yang kudapat selama jadi Guru SD Negeri: input matters. Input ini bukan hanya soal ngelesin anak, tapi interaksi dan relasi orang tua dan anak itu juga sangat berpengaruh. Bagaimana orang tua memberikan anak ruang untuk bertumbuh dengan mendorong kepercayaan dirinya menghadapi berbagai tantangan, baik itu mengerjakan tugas secara mandiri, memberi kesempatan anak untuk berpendapat namun juga mempraktikkan adab dan sopan santun. Mengulang dan mengkontekstualisasikan lagi materi yang dipelajari agar lebih relevan dan mudah dipahami. Nyatanya interaksi itu sekarang banyak tergantikan dengan screentime yang berlebihan dan tanpa pengawasan, yang mengganggu cara berpikir, kemampuan untuk fokus dan bahkan nalar anak dalam mencerna berbagai hal. Guru gak bisa sendirian. Pendidikan juga demikian, perlu dikerjakan barengan. Bahkan Ki Hajar Dewantara pada masanya pun sudah mengungkapkan Tri Pusat Pendidikan: orang tua, masyarakat, sekolah. Masing-masing punya peran yang berkesinambungan. #guru #parenting #pendidikan

93.52% Engagement Rate
42.1k 1.4k
Content

Selamat buat teman-teman yang lolos seleksi substansi LPDP! Jangan lupa janjinya ya untuk membangun negeri, dengan cara terbaik kalian masing-masing. Karena S1 aku Pendidikan Guru SD, maka aku kembali dan menjadi guru SD. Padahal kalau mau jujur, bukan itu rencana awalnya. Tapi ternyata memang aku butuh menjadi Guru SD Negeri terlebih dahulu untuk paham konteks dan masalah akar rumput, dan tanpa sadar memberi pengaruh untuk teman-teman lain. Setelah ku ingat kembali, ternyata ini jalanku mewujudkan apa yang kupresentasikan saat wawancara dengan panelis LPDP: mengintegrasikan pembelajaran kontekstual dan bermakna di sekolah-sekolah negeri. Siapa sangka ternyata tercapai dengan menjadi guru SD negeri itu sendiri, bukannya pembuat atau pemangku kebijakan atau NGO. Tapi malah aktor utama dan garda paling depan, penentu kualitas pembelajaran. Hidup memang lucu terkadang. Aku pulang di tahun 2019, dan saat itu langsung ikut CPNS formasi S1 guru SD atas kemauan kuat dari orang tua yang juga guru, yang ternyata masih memaknai kesuksesan anak sebagai seorang abdi negara. Walau itu artinya mengikhlaskan dan mengarsipkan dulu ijazah S2ku dan merelakan pendapatan yg menurun jauh dari yang sebelumnya kuterima. Namun orientasiku yang masih lajang kala melamar waktu itu tentu berbeda dengan kini yang menjadi ibu. Meski terbilang masih dini, tapi keputusanku untuk menjadi guru di SD negeri memang gak untuk selama itu, nyatanya ada hal-hal lain yang perlu sama-sama kuusahakan yang dulu gak pernah kubayangkan, yaitu jadi guru sepenuhnya untuk anakku. Nanti kuceritakan lagi tentang ini ya. Intinya kontribusiku gak akan berhenti, terlepas apapun status kepegawaianku, sekarang maupun nanti. #guru #pns #beasiswa #lpdp #indonesia

138.82% Engagement Rate
62.6k 2k

Followers

Followers distribution

24.43% Male
75.57% Female

Followers location

Indonesia 96.87%
Malaysia 1.89%
Timor-Leste 0.36%

Followers demographics

47.97% 36.57% 7.71% 6.52% 1.23%
Child/Kid
(13-17)
Teen/Teenager
(18-24)
Young Adult
(25-34)
Adult
(35-44)
Middle-aged
(45-64)


KOL that follows @galihtyanr

Growth & Interest

Followers growth

Monthly trend of total Followers

46.7K 44.9K 43.1K 41.3K 39.5K
2024-12 2025-01 2025-02 2025-03 2025-04 2025-05 2025-06

Likes growth

Monthly trend of average likes per post

14k 11.8k 9.6k 7.4k 5.2k 3k
2024-12 2025-01 2025-02 2025-03 2025-04 2025-05 2025-06

Frequently mentioned accounts

Accounts frequently mentioned by the KOL in their content

@xiaomi_indonesia


Benchmark Engagement TikTok
Berdasarkan Tier KOL

Kenali tipe KOL dari Nano hingga Mega dan manfaatkan data engagement rate kami untuk memilih influencer yang tepat.


kol

Bagaimana Tool Kerja Ini Bekerja?

Engagement rate didapatkan dari perhitungan rata-rata Likes, Comments, Share dibagi dengan jumlah followers kemudian dikali 100. Semakin tinggi engagement rate yang Anda miliki semakin baik nilai Anda.

Kenali Lebih Detail Kebutuhan KOL Anda

Sudah tahu tentang KOL atau influencer level mulai dari Nano, Micro, Mid-Tier, Macro dan Mega ? Gunakan benchmark akurat kami untuk mengenal lebih jauh bagaimana benefit mengetahui engagement rate bisa membantu kita memilih KOL apa yang akan kita pakai.

Avg. Instagram Engagement
Rate - 2025

0
0.2%
0.4%
0.6%
0.8%
0.66%
All post types
0.66%
0.59%
Photo post
0.59%
0.68%
Video post
0.68%
0.77%
Carousel post
0.77%

Check engagement rates for other platforms

Engagement rate calculator for Youtube

Check engagement rate for any Youtube channel and get detailed analytics report

kol

Engagement rate calculator for Instagram

Check engagement rate for any Instagram account and get detailed analytics report

kol

Got Questions?

Apa itu KOL.ID? โˆ’

KOL.ID adalah platform teknologi pemasaran pertama di Indonesia yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung kolaborasi antara Key Opinion Leaders (KOL) dan bisnis. Platform ini menyediakan solusi lengkap untuk kebutuhan pemasaran di Instagram, TikTok, dan YouTube, semuanya terintegrasi dalam satu tempat.

Salah satu fitur utama KOL.ID adalah pembuatan dan pengecekan rate card otomatis bagi para KOL. Dengan menggunakan data real-time dari berbagai platform media sosial, KOL.ID membantu KOL menentukan harga layanan mereka secara akurat dan adil, sehingga mereka dapat fokus pada kreativitas dan peningkatan engagement rate.

Selain itu, KOL.ID menawarkan berbagai alat analisis, seperti kalkulator engagement rate untuk TikTok, Instagram, dan YouTube, yang membantu KOL dan bisnis memahami performa akun media sosial dan membuat keputusan yang lebih baik dalam kampanye pemasaran.

Dengan berbagai fitur dan layanan yang ditawarkan, KOL.ID menjadi platform yang andal bagi KOL dan bisnis dalam menjalankan kampanye pemasaran yang efektif dan efisien.

Apa saja fitur yang disediakan oleh KOL.ID? +

FOR BRAND (Untuk Agency/Brand/Bisnis):

  1. KOL Ranking: Fitur pencarian KOL yang sesuai dengan kebutuhan brand atau bisnis.

  2. Cek Rate Card KOL: Tools untuk bisnis mengevaluasi rate card KOL berdasarkan data dari TikTok, Instagram & YouTube.

  3. Campaign Report: Laporan terperinci untuk mendapatkan data performa (Like, Comment, Share, Views & Save) terkait performa kampanye pemasaran bersama KOL hanya menggunakan Link Posting.

FOR KOL (Untuk Key Opinion Leader):

  1. Buat Rate Card: Alat untuk membantu KOL membuat rate card berdasarkan performa mereka di TikTok, Instagram & YouTube.

FREE TOOLS (Alat Gratis):

  1. Buat MoU KOL: Membuat memorandum of understanding (MoU) antara KOL dan bisnis secara otomatis.

  2. Cek ER KOL TikTok: Alat untuk menghitung engagement rate KOL di TikTok.

  3. Cek ER KOL Instagram: Alat untuk menghitung engagement rate KOL di Instagram.

  4. Cek ER KOL YouTube: Alat untuk menghitung engagement rate KOL di YouTube.

  5. Download Video TikTok: Fitur untuk mengunduh video dari TikTok.

  6. Download Video Instagram: Fitur untuk mengunduh video dari Instagram.

  7. Download Video YouTube: Fitur untuk mengunduh video dari YouTube.

  8. Kamus KOL: Panduan istilah-istilah penting terkait dunia KOL.

  9. Extension Chrome: Extension yang memungkinkan untuk melihat analisa KOL dengan mudah hanya dengan membuka profil Instagram & TikTok.

Semua fitur ini menunjukkan bahwa KOL.ID adalah platform yang lengkap untuk mendukung kebutuhan KOL dan merek/bisnis dalam membangun strategi pemasaran digital.