Timeline social media saat ini banyak dipenuhi konten yang dihasilkan oleh AI, mulai dari video, gambar, sampai voiceover. Uniknya, banyak dari konten tersebut justru meraih views yang tinggi meski respons audiens cenderung negatif. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar bagi brand maupun kreator yang sedang menyusun content strategy.
Padahal, sentimen publik terhadap AI content tidak bisa dibilang bagus. Kolom komentar kerap dipenuhi ejekan, sindiran, hingga label "AI slop" untuk konten yang dianggap tidak memiliki nilai. Namun, di balik reaksi itu, angka reach dan engagement-nya justru sering kali tetap besar.
Seberapa Ramai AI Content dan Seberapa Benci Orang Terhadapnya?
Dari sisi volume, TikTok menyatakan telah melabeli lebih dari tiga miliar video sebagai AI-generated content per Juli 2026, naik tajam dari 1,3 miliar pada November 2025, sebagaimana dilaporkan AboutChromebooks yang mengutip pengumuman resmi TikTok.
Bahkan, analisis dari Zebracat dan Dynamoi memperkirakan sekitar 52 persen konten di TikTok dan Instagram Reels kini melibatkan elemen AI, mulai dari editing, caption, voiceover, hingga video yang sepenuhnya dibuat mesin. Artinya, AI content bukan lagi anomali, melainkan sudah menjadi bagian besar dari isi platform.
Namun, di sisi lain, resistensi audiens juga menguat. Survei Sprout Social pada Februari 2026 mencatat 56 persen responden merasa sering atau sangat sering menemui "AI slop" di feed mereka. Bahkan, Sprout Social Q1 2026 Pulse Survey menemukan bahwa 50 persen Gen Z pernah unfollow, mute, atau memblokir akun karena kontennya dianggap dibuat AI.
Baca juga: 10 Influencer AI Paling Populer di Instagram
Perbedaan inilah yang membuat fenomenanya menarik. Konten yang secara terang-terangan tidak disukai justru tetap mendapat engagement yang besar di feed. Contoh reaksi audiens semacam ini banyak beredar di TikTok, di mana penonton ramai-ramai berkomentar negatif, tetapi videonya tetap menembus jutaan views.
Kenapa AI Content Tetap Mendapatkan Banyak Views?
Fenomena ini sebenarnya bisa dijelaskan dari cara kerja algoritma dan perilaku audiens. Setidaknya, ada tiga alasan utama yang membuat AI content tetap panen views meski banyak yang tidak menyukainya.
Berikut di antaranya:
1. Algoritma Menghitung Semua Interaksi, Termasuk yang Negatif
Alasan pertama terletak pada cara mesin rekomendasi membaca sinyal. Bagi algoritma, komentar yang berisi ejekan, tonton berulang untuk memastikan sebuah video AI atau bukan, hingga jeda scroll karena penasaran, semuanya dihitung sebagai bentuk engagement.
Akibatnya, kemarahan dan rasa penasaran audiens justru menjadi “bahan bakar” reach. Semakin ramai orang berkomentar negatif, semakin kuat sinyal keterlibatan yang diterima platform, sehingga konten tersebut malah semakin sering direkomendasikan ke pengguna lain.
2. Produksi Cepat dan Masif Membanjiri Feed
Alasan berikutnya berkaitan dengan volume. AI content dapat diproduksi dalam hitungan menit tanpa proses syuting, sehingga satu akun bisa mengunggah puluhan konten setiap hari. Dari sisi biaya, sejumlah laporan menyebut penggunaan tools AI dapat memangkas ongkos produksi video secara signifikan.
Dengan volume sebesar itu, peluang AI content untuk muncul di feed pun jauh lebih besar secara statistik. Meskipun demikian, banjir konten ini juga yang memicu kelelahan audiens dan mempercepat munculnya sentimen "AI slop" di berbagai platform.
Meskipun begitu, tidak semua konten AI sebenarnya betul-betul “slop”. Di Indonesia sendiri, ada beberapa content creator yang memang menggunakan AI untuk mengedukasi.
Kalau mau lihat contohnya, coba cek VT di bawah ini:
@tales.of.alam Ingin tahu nggak? tanggal 26 Maret 2026 besok, kamu bangun tidur terus tiba-tiba semua aplikasi sosmed favoritmu ke-lock total! Yap, pemerintah lagi siap-siap nerapin aturan baru: batasin akses platform digital buat kita-kita yang umurnya di bawah 16 tahun. #kominfo #info #CapCut #indonesia ♬ suara asli - Ingin Tahu
3. Rasa Penasaran dan Visual Aneh yang Justru Menarik Perhatian
Banyak AI content sengaja menampilkan visual yang aneh, mustahil, atau terasa "uncanny", sehingga membuat orang berhenti sejenak untuk mencerna apa yang mereka lihat. Momen jeda inilah yang sangat berharga di mata algoritma.
Dalam banyak kasus, penonton menonton bukan karena suka, melainkan karena bingung atau ingin memastikan keanehannya. Padahal, dari sudut pandang platform, perhatian yang tertahan beberapa detik tetap dianggap sebagai konten yang berhasil menarik minat, terlepas dari alasan di baliknya.
Konten seperti ini sebenarnya tidak terlalu ramai di Indonesia. Kebanyakan dari mereka biasanya fokus untuk menarik audiens Amerika Serikat karena menggunakan diksi-diksi atau slang yang umum digunakan di sana seperti “cuh”, “bro”, dan lain-lain. Kebanyakan dari konten mereka memang tidak jelas. Akan tetapi mampu mendapatkan views hingga jutaan.
Coba cek video di bawah ini:
@hoodspongebob_67 #spongebob #aistory #cuh #fruitstory #aifruit ♬ som original - Allex23
Artinya, secara keseluruhan, konten AI memang mampu perform karena keunikannya tersendiri. Bahkan, ketika audiens sudah tau bahwa itu merupakan konten “AI Slop”, nyatanya, tetap saja mereka tonton. Hal ini dibuktikan dengan performanya yang luar biasa tinggi.
Baca Sinyal Audiens Lebih Akurat Bersama KOL.ID
Fenomena AI content menunjukkan bahwa angka views yang tinggi tidak selalu mencerminkan rasa suka audiens. Bagi brand dan KOL, ini menjadi pengingat penting bahwa reach besar perlu dibaca bersama kualitas engagement, bukan sekadar dilihat dari jumlah penontonnya saja.
Di sinilah KOL.ID dapat membantu Anda mengambil keputusan yang lebih terukur. Melalui fitur Cek Rate Card dan Ranking KOL di Instagram, TikTok, maupun YouTube, Anda dapat menilai performa kreator berdasarkan data yang lebih dalam sebelum menjalin kolaborasi. Yuk, temukan kreator dengan engagement autentik dan mulai kolaborasi yang lebih tepat sasaran di KOL.ID!
Dapatkan artikel terbaru kami lebih mudah di Google Search, AI Overviews, dan AI Mode.