Dua kreator bisa mempromosikan produk yang sama dengan jumlah followers yang tidak jauh berbeda, tetapi menghasilkan komisi yang sangat timpang. Salah satu penyebabnya adalah bagaimana produk dikemas dalam konten, mulai dari pemilihan angle, cara menyampaikan manfaat, hingga CTA yang digunakan.
Karena itu, keberhasilan aktivitas afiliasi tidak cukup hanya mengandalkan produk populer atau audiens yang besar. Kreator perlu memahami cara membuat konten yang mampu menarik perhatian sekaligus mendorong keputusan pembelian.
Peluang di bidang ini juga masih terbuka luas. Affiliate content bisa menjadi pilihan menarik bagi Anda yang ingin mendapatkan penghasilan tambahan atau sedang mencari peluang side hustle. Anda bahkan bisa mulai membuat konten tanpa harus memiliki produk sendiri, selama mampu memilih produk yang relevan dan mengemasnya menjadi konten yang menarik.
Apa Itu Affiliate Content?
Affiliate content adalah konten berupa video, foto, atau post yang dibuat untuk mendorong pembelian melalui affiliate link atau keranjang kuning. Kreator memperoleh komisi ketika audiens melakukan transaksi yang memenuhi ketentuan program afiliasi.
Untuk memahaminya, penting juga untuk memahami istilah lain yang berkaitan dengan affiliate content, yaitu affiliate marketing dan affiliator.
Jika affiliate marketing merupakan model bisnis yang menggunakan sistem komisi, affiliate content adalah materi konten yang digunakan untuk menjalankan strategi tersebut. Sementara itu, affiliator merupakan kreator atau individu yang mempromosikan produk melalui program afiliasi.
Ciri utama affiliate content terletak pada tujuannya yang dapat diukur melalui clicks dan pembelian. Karena itu, struktur kontennya biasanya mencakup hook untuk menarik perhatian, demonstrasi atau penjelasan produk, alasan mengapa produk layak dibeli, serta CTA yang mengarahkan audiens untuk melakukan transaksi.
Karena kreator memperoleh komisi dari aktivitas promosi, konten ini juga termasuk konten komersial yang perlu disertai disclosure sesuai ketentuan platform.
Format Affiliate Content yang Umum
Pemilihan format sebaiknya disesuaikan dengan karakteristik produk, kebiasaan audiens, dan platform yang digunakan.
1. Review dan Demo Produk
Kreator menunjukkan produk secara langsung, mulai dari cara penggunaan, fitur, hingga kelebihan dan kekurangannya. Format ini cocok untuk produk yang membutuhkan bukti pemakaian, seperti skincare, gadget, dan peralatan rumah tangga.
Agar lebih meyakinkan, kreator dapat menyusun konten berdasarkan pengalaman penggunaan yang sebenarnya. Pendekatan ini juga sejalan dengan prinsip review yang objektif, bukan sekadar menyampaikan klaim promosi.
2. Tutorial dan Rekomendasi Situasional
Format ini menempatkan produk sebagai solusi untuk kebutuhan tertentu. Contohnya, rekomendasi perlengkapan kamar kos, skincare untuk kulit berminyak, atau produk yang dibutuhkan selama Ramadan.
Dibanding langsung menawarkan produk, kreator bisa mengembangkan narasi melalui permasalahan atau kebutuhan audiens. Cara ini membuat konten terasa lebih natural dan sejalan dengan prinsip soft selling.
3. Live Streaming dan Short-Form Video dengan Keranjang Kuning
Live streaming memungkinkan kreator menjelaskan produk secara langsung, menjawab pertanyaan audiens, dan memberikan rekomendasi selama sesi berlangsung. Sementara itu, video pendek berkeranjang dapat menjangkau audiens melalui distribusi konten di platform.
Keduanya dapat digunakan secara bersamaan. Short-form video membantu menarik calon customer, sedangkan live streaming memberikan kesempatan untuk menjelaskan produk lebih mendalam dan mendorong transaksi.
Mau tau cara bikin konten affiliate yang viral? Coba ikuti beberapa tipe konten di bawah ini!
Cara Menganalisis Performa Affiliate Content
Jumlah views yang tinggi belum tentu menghasilkan komisi yang besar. Karena itu, brand dan kreator perlu memperhatikan metrik yang lebih dekat dengan aktivitas pembelian.
Beberapa metrik yang dapat digunakan antara lain:
- Views: Menunjukkan jumlah penayangan konten dan membantu mengukur jangkauan awal.
- Clicks: Mengukur berapa banyak audiens yang mengklik affiliate link atau keranjang kuning.
- Conversion Rate: Menunjukkan persentase pengunjung atau audiens yang melakukan pembelian setelah mengakses produk.
- GPM TikTok: Mengukur nilai transaksi yang dihasilkan dari setiap 1.000 views dan membantu mengevaluasi efektivitas konten dalam mendorong penjualan.
- Komisi: Menunjukkan pendapatan yang diperoleh kreator dari transaksi yang memenuhi ketentuan program afiliasi.
Metrik seperti GPM TikTok dan conversion rate memberikan gambaran yang lebih mendalam dibandingkan views saja. Konten dengan views lebih rendah tetap berpotensi menghasilkan komisi lebih besar jika mampu menarik audiens yang memiliki minat dan niat beli tinggi.
Dari sisi platform, TikTok Shop memang menjadi salah satu platform affiliate yang paling dikenal saat ini. Namun, peluang affiliate sebenarnya tidak terbatas. Shopee Affiliate, misalnya, juga dapat dipromosikan melalui konten di Instagram, Pinterest, hingga YouTube.
Panduan Membuat Affiliate Content untuk Kreator dan Brand
Sebelum kreator membuat affiliate content dan brand menjalankan campaign-nya, perlu ada beberapa hal yang harus dilakukan. Berikut di antaranya:
1. Untuk Kreator
Jika Anda seorang kreator, pilih produk yang relevan dengan niche dan kebutuhan audiens. Produk yang pernah dicoba atau digunakan sendiri juga dapat memberikan pengalaman yang lebih meyakinkan saat membuat konten.
Perhatikan pula beberapa hal berikut:
- Gunakan hook yang menarik: Mulai konten dengan permasalahan, kebutuhan, atau manfaat produk yang relevan dengan audiens.
- Tampilkan bukti penggunaan: Sertakan demonstrasi produk agar audiens mendapatkan gambaran yang lebih jelas.
- Gunakan CTA yang spesifik: Arahkan audiens untuk mengecek produk melalui affiliate link atau keranjang kuning.
- Evaluasi performa konten: Perhatikan views, clicks, conversion rate, dan komisi untuk mengetahui format yang paling efektif.
Selain mengandalkan komisi, kreator juga dapat menawarkan skema kerja sama berupa biaya tetap per konten ditambah komisi penjualan. Jika menggunakan skema tersebut, rincian deliverable dan biaya dapat dicantumkan dalam rate card.
Jangan lupa mengaktifkan disclosure pada konten afiliasi. TikTok mewajibkan pengungkapan konten komersial untuk konten yang mempromosikan produk atau layanan. Transparansi ini membantu audiens memahami bahwa kreator memiliki hubungan komersial dengan produk yang direkomendasikan.
2. Untuk Brand
Brand atau seller sebaiknya jangan hanya berfokus pada jumlah kreator yang bergabung dalam campaign affiliate. Perhatikan juga kualitas konten, relevansi audiens, dan kemampuan kreator dalam meningkatkan sales.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Siapkan brief yang jelas: Sertakan informasi produk, key message, keunggulan, dan ketentuan promosi agar kreator memahami pesan yang perlu disampaikan.
- Sediakan sampel produk: Berikan kesempatan kepada kreator untuk mencoba produk sehingga konten yang dihasilkan lebih informatif dan autentik.
- Tawarkan skema komisi yang kompetitif: Sesuaikan komisi dengan margin produk dan potensi penjualan agar kreator memiliki motivasi untuk mempromosikannya.
- Evaluasi performa kreator: Identifikasi kreator yang mampu menghasilkan clicks, conversion, dan penjualan secara konsisten.
Konten affiliator yang menunjukkan performa baik juga dapat dimanfaatkan kembali sebagai materi iklan melalui fitur Affiliate Creatives for Ads. Dengan begitu, brand dapat memperluas distribusi konten yang sudah terbukti menarik minat audiens.
Pantau hasilnya secara berkala melalui laporan penjualan dan campaign reporting. Evaluasi ini membantu brand membedakan kreator yang hanya menghasilkan banyak views dengan kreator yang benar-benar berkontribusi terhadap penjualan.
Hal yang Perlu Dihindari dalam Membuat Affiliate Content
Tidak semua strategi promosi mampu menghasilkan sales jangka panjang. Beberapa kesalahan justru dapat menurunkan kepercayaan audiens terhadap kreator maupun brand.
1. Klaim Produk Berlebihan
Menjanjikan atau menyampaikan klaim yang tidak didukung bukti dapat menyesatkan audiens dan mampu menghilangkan kepercayaan pada produk atau brand yang dipromosikan. Kreator sebaiknya menyampaikan pengalaman penggunaan secara objektif dan memastikan informasi produk dapat dipertanggungjawabkan.
2. Fokus ke Volume Produk
Mempromosikan terlalu banyak produk yang tidak sesuai dengan niche hanya demi mendapatkan komisi dapat menurunkan credibility kreator. Audiens cenderung lebih mempercayai rekomendasi yang relevan dengan kebutuhan dan karakteristik kreator.
3. Tidak Mengungkapkan Kerja Sama
Konten afiliasi yang tampil seperti rekomendasi spontan tanpa disclosure dapat membuat audiens salah memahami hubungan kreator dengan produk. Pengungkapan yang jelas membantu menjaga transparansi dan kepercayaan audiens sekaligus memenuhi ketentuan platform.
Cek Rate Card Influencer dan KOL dengan Mudah di KOL.ID
Affiliate content yang efektif membutuhkan perpaduan antara kreativitas, pemahaman produk, dan strategi distribusi. Bagi brand, performa konten dapat menjadi salah satu pertimbangan untuk mengevaluasi kreator dan menentukan potensi kolaborasi berikutnya.
Melalui KOL.ID, brand dapat cek rate card influencer dan KOL serta memantau hasil kerja sama melalui Campaign Report. Sementara itu, kreator dapat menggunakan fitur create rate card untuk mempermudah proses kerja sama berdasarkan performa akun. Yuk, cobain sekarang!
Dapatkan artikel terbaru kami lebih mudah di Google Search, AI Overviews, dan AI Mode.