Di Instagram dan TikTok, konten fashion tidak selalu berupa editorial atau pemotretan profesional. Banyak kreator membagikan foto dan video outfit yang mereka kenakan sehari-hari sebagai referensi gaya berpakaian bagi audiens.
Format ini dikenal sebagai OOTD dan sering dimanfaatkan brand fashion untuk memperkenalkan produk melalui gaya berpakaian kreator. Agar kolaborasi berjalan efektif, brand perlu memahami jenis konten OOTD dan cara memilih kreator yang sesuai dengan karakter produk.
Apa Itu OOTD?
OOTD adalah singkatan dari Outfit of the Day, yaitu konten yang menampilkan pakaian dan aksesori yang dikenakan seseorang pada hari tertentu. Konten ini biasanya berupa foto atau video yang diunggah ke social media, seperti Instagram dan TikTok.
OOTD dapat menampilkan berbagai item, mulai dari atasan, celana, rok, dan sepatu hingga tas serta aksesoris lainnya. Kreator juga sering mencantumkan nama brand, detail produk, atau informasi tempat membeli item yang dikenakan agar audiens dapat menjadikannya referensi.
Istilah OOTD berkembang seiring kebiasaan pengguna social media membagikan gaya berpakaian mereka. Kontennya tidak harus dibuat melalui pemotretan profesional. Foto di depan cermin, video singkat saat berjalan, hingga kompilasi beberapa outfit juga dapat dikategorikan sebagai OOTD.
Jenis Konten OOTD di Social Media
Konten OOTD hadir dalam berbagai gaya yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan audiens dan karakter brand. Berikut beberapa jenis yang umum dijumpai.
1. OOTD Kasual
OOTD kasual menampilkan outfit untuk aktivitas sehari-hari, seperti kaus, jeans, sneakers, atau hoodie. Gaya ini cenderung praktis dan mudah dijadikan referensi karena item yang digunakan dekat dengan keseharian audiens.
Bagi brand fashion, konten ini dapat digunakan untuk memperkenalkan pakaian yang cocok untuk aktivitas santai, kuliah, atau hangout. Kreator dapat memperlihatkan bagaimana produk dipadukan dengan item lain untuk menghasilkan tampilan yang menarik.
2. OOTD Formal
OOTD formal menampilkan outfit untuk bekerja, menghadiri acara resmi, atau kegiatan yang membutuhkan penampilan rapi. Item yang sering digunakan antara lain blazer, kemeja, celana bahan, dan dress.
Jenis konten ini relevan bagi brand yang menyasar audiens profesional atau konsumen yang mencari referensi busana kerja. Kreator dapat menunjukkan beberapa cara memadukan produk agar tetap sesuai dengan kebutuhan dan gaya pribadi.
3. OOTD Streetwear
OOTD streetwear menonjolkan gaya berpakaian yang terinspirasi dari budaya urban, seperti oversized t-shirt, hoodie, sneakers, dan aksesori kasual. Gaya ini sering digunakan kreator untuk menunjukkan karakter personal melalui kombinasi outfit.
Brand streetwear dapat memanfaatkan format ini untuk memperkenalkan koleksi terbaru atau menunjukkan cara memadukan produknya dengan item lain. Pemilihan kreator sebaiknya mempertimbangkan kesesuaian gaya berpakaian dan audiens, bukan hanya jumlah followers.
4. OOTD Hijab
OOTD hijab menampilkan kombinasi outfit dengan hijab untuk berbagai kebutuhan, mulai dari aktivitas sehari-hari hingga acara formal. Kontennya dapat mencakup pilihan warna, model hijab, layering, dan padu padan pakaian.
Format ini relevan bagi brand busana muslim, hijab, dan aksesori fashion yang ingin menjangkau audiens dengan kebutuhan gaya berpakaian tersebut. Kreator dapat memperlihatkan detail produk sekaligus memberikan referensi padu padan yang mudah diterapkan.
Perbedaan OOTD dan GRWM
OOTD dan GRWM sama-sama populer di kategori fashion dan beauty, tetapi keduanya memiliki fokus konten yang berbeda.
OOTD (Outfit of the Day) menampilkan outfit yang dikenakan kreator, biasanya melalui foto atau video yang memperlihatkan hasil akhir penampilannya. Audiens umumnya mencari inspirasi outfit, referensi padu padan, atau informasi tentang item yang digunakan.
Sementara itu, GRWM (Get Ready With Me) menampilkan proses kreator bersiap sebelum beraktivitas. Kontennya dapat mencakup pemilihan pakaian, makeup, dan skincare sambil bercerita tentang pengalaman atau kegiatan sehari-hari.
Keduanya juga dapat digabungkan dalam satu video. Misalnya, kreator memulai dengan GRWM saat memilih outfit, lalu menutup video dengan memperlihatkan hasil akhir OOTD.
Bagi brand, perbedaan ini membantu menentukan format konten berdasarkan tujuan campaign. OOTD cocok untuk menonjolkan tampilan dan padu padan produk, sedangkan GRWM dapat digunakan untuk menunjukkan proses pemakaian produk sekaligus membangun kedekatan dengan audiens.
Cara Memanfaatkan OOTD untuk Campaign Brand
OOTD dapat menjadi format konten untuk memperkenalkan produk fashion melalui gaya berpakaian kreator. Namun, hasil campaign tidak hanya bergantung pada tampilan visual, tetapi juga pada pemilihan kreator, relevansi produk, dan cara konten disajikan.
1. Pilih Kreator yang Sesuai dengan Karakter Brand
Brand perlu mempertimbangkan gaya berpakaian, niche, karakter audiens, dan jenis konten yang biasa dibuat oleh kreator. Brand dengan produk streetwear, misalnya, dapat mencari kreator yang memang rutin membagikan outfit bergaya urban.
Jumlah followers juga perlu dinilai bersama metrik lain, seperti engagement rate, kualitas interaksi, dan performa konten sebelumnya. Dengan begitu, pemilihan kreator tidak hanya berdasarkan popularitas, tetapi juga kecocokan dengan target audiens.
2. Berikan Brief yang Jelas
Brand perlu menyampaikan tujuan campaign, produk yang ingin ditonjolkan, pesan utama, serta ketentuan publikasi melalui brief. Arahan ini membantu kreator memahami kebutuhan brand tanpa harus membatasi seluruh konsep konten.
Kreator sebaiknya tetap memiliki ruang untuk memadukan produk dengan gaya berpakaian mereka sendiri. Pendekatan ini membantu menjaga authenticity konten sekaligus membuat produk lebih relevan dengan karakter kreator.
3. Manfaatkan Endorsement dan Affiliate
Brand dapat menggunakan OOTD dalam kerja sama endorsement untuk meningkatkan awareness dan memperkenalkan koleksi kepada audiens kreator. Produk ditampilkan sebagai bagian dari outfit, disertai informasi yang membantu audiens mengenali item yang digunakan.
Jika brand ingin mendorong penjualan, kolaborasi juga dapat dilakukan melalui affiliate program. Kreator dapat membagikan link produk atau kode promo agar audiens lebih mudah melakukan pembelian. Performa kerja sama kemudian dapat dievaluasi berdasarkan clicks, penjualan, dan conversion jika data tersebut tersedia.
4. Evaluasi Performa Konten
Setelah konten dipublikasikan, brand perlu mengevaluasi hasilnya berdasarkan tujuan campaign. Untuk awareness, metrik seperti reach, views, dan impressions dapat menjadi indikator. Sementara itu, likes, comments, shares, dan saves dapat membantu menunjukkan bagaimana audiens merespons konten.
Jika campaign berfokus pada penjualan, brand juga perlu memantau clicks, penggunaan kode promo, affiliate sales, dan conversion. Hasil evaluasi ini dapat digunakan untuk menentukan kreator dan pendekatan konten yang paling sesuai untuk campaign berikutnya.
Temukan Kreator Fashion yang Tepat di KOL.ID
OOTD merupakan format konten yang menampilkan outfit kreator sebagai referensi gaya berpakaian bagi audiens. Mulai dari gaya kasual hingga streetwear dan hijab, format ini dapat membantu brand memperkenalkan produk dalam konteks pemakaian yang relevan.
Jika Anda ingin menemukan kreator fashion yang sesuai dengan karakter produk, KOL.ID dapat membantu proses pencarian dan perbandingan KOL atau influencer. Anda dapat melihat profil kreator serta membandingkan rate card untuk menyesuaikan pilihan dengan kebutuhan campaign dan budget.
Manfaatkan juga fitur ranking KOL Instagram, TikTok, dan YouTube untuk mengeksplorasi kreator di berbagai platform. Dengan mempertimbangkan gaya konten dan kebutuhan campaign, Anda dapat menyusun kolaborasi yang lebih relevan dengan target audiens.
Dapatkan artikel terbaru kami lebih mudah di Google Search, AI Overviews, dan AI Mode.