Pernah merasa seperti mengenal seorang kreator secara pribadi hanya karena rutin menonton kontennya? Anda mungkin hafal kebiasaannya, mengikuti cerita kesehariannya, bahkan merasa ikut senang ketika ia mencapai sesuatu. Padahal, kreator tersebut belum tentu mengenal Anda. Fenomena ini berkaitan dengan istilah parasocial.
Di social media, perasaan dekat seperti ini dapat terbentuk ketika kreator rutin membagikan cerita pribadi, menyapa audiens melalui video, atau berinteraksi saat live streaming. Bagi brand, fenomena ini menarik untuk dipahami karena rasa kedekatan dapat memengaruhi cara audiens memandang kreator dan menerima rekomendasinya.
Apa Itu Parasocial?
Parasocial merujuk pada hubungan psikologis satu arah ketika seseorang merasa dekat atau mengenal figur media, seperti kreator, selebritas, atau karakter di media, tanpa adanya kedekatan personal yang setara dari pihak tersebut.
Konsep parasocial interaction diperkenalkan oleh Donald Horton dan Richard Wohl pada 1956 untuk menjelaskan kesan interaksi antara penonton dan figur yang tampil di televisi. Dalam konteks social media, pengalaman serupa dapat muncul melalui konten rutin, sapaan langsung, dan interaksi digital.
Fenomena ini juga bisa terlihat dari respons audiens terhadap Marapthon: The Last Tale tahun ini. Banyak penonton merasa seolah ikut berkumpul bersama para kreator, bahkan menuliskan comment seperti “berasa ikut nongkrong” di TikTok.
@thejokels hidup lagi pusing pusingnya
♬ original sound - thejokels
Apakah perasaan tersebut termasuk hubungan parasocial? Belum tentu, karena merasa terlibat dalam suasana konten tidak otomatis berarti seseorang membentuk hubungan parasocial.
Hubungan parasocial tidak selalu berdampak negatif. Perasaan dekat dengan kreator dapat memberikan hiburan, inspirasi, atau rasa ditemani. Namun, jangan buru-buru mengambil kesimpulan hanya dari satu respons atau pengalaman menonton, ya! Konteks dan pola keterikatan audiens tetap perlu dipahami.
Bentuk Hubungan Parasocial di Social Media
Rasa dekat dengan kreator dapat terbentuk melalui berbagai jenis konten dan interaksi. Berikut beberapa contoh yang umum ditemukan di social media.
1. Konten Keseharian yang Rutin
Kreator yang rutin membagikan aktivitas sehari-hari membuat audiens merasa mengikuti perjalanan hidupnya. Paparan berulang ini dapat membangun rasa akrab, meskipun audiens hanya mengenal sisi kehidupan yang ditampilkan melalui konten.
2. Gaya Bicara yang Personal
Kreator yang berbicara langsung ke kamera, menggunakan sapaan akrab, atau menceritakan pengalaman pribadi dapat menciptakan kesan seolah-olah sedang berbicara dengan setiap penonton secara langsung. Gaya komunikasi ini membuat konten terasa lebih personal.
3. Interaksi melalui Comment dan Live Streaming
Balasan comment, sapaan nama, atau respons saat live streaming dapat membuat audiens merasa diperhatikan. Namun, interaksi singkat tersebut tidak selalu berarti kreator memiliki hubungan pribadi dengan penonton di luar platform.
4. Rasa Memiliki terhadap Kreator
Sebagian fans merasa sangat terikat dengan kreator yang mereka ikuti. Mereka mungkin ikut merayakan pencapaian kreator atau membela reputasinya ketika muncul kritik. Loyalitas ini dapat menjadi bentuk dukungan positif, tetapi juga berisiko memicu konflik ketika ekspektasi fans tidak sesuai dengan tindakan kreator.
Perbedaan Parasocial dan Hubungan Sosial Biasa
Perbedaan utama keduanya terletak pada timbal balik hubungan. Dalam hubungan sosial biasa, kedua pihak dapat saling mengenal, berkomunikasi, dan membangun kedekatan berdasarkan pengalaman bersama.
Sebaliknya, hubungan parasocial terbentuk ketika seseorang merasa dekat dengan kreator melalui konten atau interaksi digital, tetapi kreator belum tentu mengenal orang tersebut secara pribadi. Karena itu, audiens perlu membedakan perasaan akrab dari hubungan yang benar-benar terjalin dua arah.
Peran Parasocial bagi Brand dan Kreator
Hubungan parasocial dapat memengaruhi cara audiens menilai kreator, termasuk ketika kreator merekomendasikan produk. Jika audiens merasa dekat dan percaya kepada seorang kreator, rekomendasinya berpotensi lebih diperhatikan. Namun, kedekatan emosional tidak otomatis menjamin kepercayaan terhadap setiap produk atau mendorong pembelian.
Bagi brand, memahami hubungan ini dapat membantu memilih KOL dengan karakter audiens yang sesuai. Kreator dengan fanbase yang loyal berpotensi membangun hubungan jangka panjang dengan audiens dan mendukung brand advocacy, yaitu ketika seseorang secara sukarela merekomendasikan atau mendukung sebuah brand.
Baca juga: Fenomena Fanbase Culture di Social Media dan Peluang Kolaborasi Brand
Di sisi lain, kepercayaan tersebut perlu dijaga. Kreator sebaiknya menyampaikan pengalaman dan opini secara jujur, sedangkan brand perlu memastikan kerja sama berbayar diungkapkan dengan jelas. Kedekatan audiens tidak seharusnya dimanfaatkan untuk menekan mereka agar membeli produk yang tidak sesuai kebutuhan.
Kreator juga perlu menjaga batas privasi dan mengatur intensitas interaksi agar tuntutan audiens tidak menjadi beban. Sementara itu, promosi yang terlalu sering atau tidak relevan dapat memicu influencer fatigue, yaitu kondisi ketika audiens mulai merasa jenuh dengan konten atau promosi dari influencer.
Pada akhirnya, hubungan parasocial dapat menjadi bagian dari pengalaman positif audiens saat mengikuti kreator. Bagi brand dan kreator, kuncinya adalah membangun kepercayaan melalui komunikasi yang autentik, menjaga batas interaksi, dan tidak mengeksploitasi kedekatan emosional.
Jika brand Anda ingin menemukan kreator yang sesuai dengan target audiens, KOL.ID dapat membantu proses pencarian dan perbandingan KOL. Anda bisa mengecek serta membandingkan rate card kreator, lalu melihat ranking KOL di Instagram, TikTok, dan YouTube untuk mendukung perencanaan campaign.
Dapatkan artikel terbaru kami lebih mudah di Google Search, AI Overviews, dan AI Mode.