Di kolom komentar atau reply, Anda mungkin pernah menemukan seseorang yang sengaja merendahkan kelompoknya sendiri agar terlihat berbeda dan lebih disukai. Perilaku semacam ini sering diberi label pick me oleh warganet.
Istilah tersebut berasal dari ungkapan "pick me" yang secara harfiah berarti "pilih aku". Dalam bahasa gaul, kata ini dipakai untuk menggambarkan upaya mencari validasi atau perhatian dengan cara menonjolkan diri secara berlebihan.
Bagi brand dan kreator, memahami pick me membantu membaca reaksi audiens ketika sebuah konten terasa terlalu berusaha menarik simpati. Namun, label ini juga perlu dipakai dengan hati-hati karena sifatnya yang sering kali subjektif.
Apa Itu Pick Me?
Pick me adalah sebutan untuk perilaku seseorang yang berusaha mendapat pengakuan dengan menampilkan diri sebagai pribadi yang "berbeda dari yang lain". Bentuk yang paling dikenal adalah “pick me girl”, sedangkan versi lainnya sering disebut “pick me boy”.
Pola yang sering muncul adalah merendahkan hal yang lazim disukai kelompoknya sendiri, misalnya hobi, selera, atau gaya berpakaian, demi tampil lebih menarik di mata pihak lain. Meskipun demikian, istilah ini umumnya dipakai sebagai kritik sosial, bukan sebagai penilaian pasti terhadap kepribadian seseorang.
Sebagai gambaran, sebuah unggahan yang berbunyi bahwa penulisnya lebih nyaman berteman dengan kelompok tertentu karena kelompok lain dianggap berlebihan dapat dibaca sebagai pick me. Reaksi audiens terhadap unggahan semacam itu biasanya terbelah, sebagian menganggapnya jujur dan sebagian lagi merasa disindir.
Di social media seperti TikTok, kita sering kali menemukan konten satir mengenai pick me. Penasaran bagaimana contohnya? Anda bisa cek satu video di bawah ini.
@agnezgabriellee ih kok lantam
♬ Mysterious and Sad - Beats by Lucky
Ciri Perilaku yang Sering Disebut Pick Me
Sebelum menilai apakah seseorang pick me, ada baiknya Anda mengenali pola yang biasanya dikaitkan dengan istilah ini.
1. Membandingkan Diri secara Berlebihan
Ungkapan seperti "aku, sih, nggak suka X, ya!" sering dianggap sebagai tanda utama. Kalimat tersebut cenderung menempatkan pihak lain sebagai pembanding yang kurang baik. Pola ini biasanya terasa lebih kuat ketika diulang di banyak unggahan.
2. Obsesi Mendapatkan Validasi
Seseorang yang terindikasi pick me biasanya sering post atau memberikan comment yang tujuan utamanya memancing pujian, dan ini sangat terasa dibuat-buat. Audiens biasanya lebih peka ketika pesan terasa mengarah pada upaya untuk divalidasi. Reaksi seperti komentar sindiran atau reaksi negatif dapat menjadi sinyal bahwa pesan kurang diterima.
3. Mengubah Sikap demi Diterima
Menyesuaikan pendapat atau selera hanya agar disukai oleh kelompok tertentu juga sering dikaitkan dengan istilah ini. Penyesuaian diri yang wajar tidak selalu termasuk pick me. Namun, jika seseorang ingin sekali dianggap “sama” secara tiba-tiba suka akan sesuatu, maka bisa saja dia adalah orang yang pick me.
4. Menjatuhkan Pihak Lain demi Terlihat Menonjol
Pujian terhadap diri sendiri yang disertai sindiran kepada kelompok lain sering memancing reaksi negatif. Pola ini membuat audiens merasa dibandingkan, bukan diajak berinteraksi.
Perbedaan Pick Me dan Sekadar Percaya Diri
Kedua hal ini kerap tertukar karena sama-sama menonjolkan keunikan diri. Percaya diri berangkat dari penerimaan terhadap diri sendiri tanpa perlu menjatuhkan pihak lain. Sementara itu, pick me justru bergantung pada perbandingan dengan orang lain agar terlihat menonjol.
Perbedaan ini penting karena kreator yang tampil apa adanya tidak otomatis pantas disebut pick me. Penilaian sebaiknya melihat pola yang berulang, bukan satu unggahan saja. Dengan begitu, label pick me tidak dilekatkan secara gegabah kepada seseorang.
Dampak Pick Me bagi Brand dan Kreator
Meskipun terdengar seperti urusan personal, perilaku ini dapat memengaruhi persepsi publik terhadap sebuah akun.
Konten yang terkesan mencari simpati dengan merendahkan pihak lain dapat menurunkan credibility kreator di mata audiens. Brand yang bekerja sama dengan kreator semacam ini juga perlu menimbang kecocokan nilai, karena citra kreator ikut memengaruhi brand perception produk yang dipromosikan.
Di sisi lain, kreator dapat menghindari kesan tersebut dengan menyampaikan pendapat secara jujur tanpa membandingkan diri dengan kelompok lain. Pendekatan yang tulus umumnya lebih mudah diterima dan lebih tahan lama.
Selain itu, brand perlu memahami bahwa audiens muda cenderung peka terhadap konten yang terasa tidak tulus. Memantau komentar dan pola diskusi dapat membantu tim menilai apakah sebuah unggahan memicu simpati atau justru penolakan.
Pick me menggambarkan perilaku mencari validasi dengan cara menonjolkan diri melalui perbandingan terhadap orang lain. Karena penggunaannya sering subjektif, istilah ini lebih tepat dipakai untuk membaca pola perilaku daripada menghakimi individu tertentu.
Bagi Anda yang ingin memilih kreator dengan citra yang konsisten dan dapat dipercaya, KOL.ID dapat membantu proses seleksi secara lebih mudah. Anda dapat memanfaatkan KOL.ID untuk melihat, membandingkan, hingga menyesuaikan rate card influencer atau KOL secara lebih praktis dan terstruktur. KOL.ID juga menyediakan fitur ranking KOL Instagram, TikTok, dan YouTube sehingga memudahkan Anda menemukan kreator yang sesuai dengan nilai brand.
Dapatkan artikel terbaru kami lebih mudah di Google Search, AI Overviews, dan AI Mode.