Tidak semua video yang tampil seperti customer review benar-benar dibuat oleh customer. Dalam beberapa tahun terakhir, sebagian brand justru membayar kreator untuk membuat konten yang terasa seperti post pengguna biasa.
Dua praktik ini sama-sama berkaitan dengan UGC, tetapi cara pembuatannya berbeda. Memahami perbedaannya membantu kreator menentukan rate card dan membantu brand menghindari kesalahan saat menggunakan konten tersebut.
Apa Itu UGC Content?
UGC content adalah konten berupa video, foto, atau ulasan yang tampil seperti dibuat oleh pengguna biasa dan digunakan untuk membangun kepercayaan terhadap suatu produk. UGC content bisa dibuat dengan dua cara. Pertama adalah secara organic, yaitu konten yang dibuat customer secara sukarela. Sementara itu, melalui cara paid, kreator membuat konten berdasarkan brief yang diminta oleh brand.
Pada praktik paid UGC, brand membayar produksi konten sekaligus hak penggunaannya, bukan membeli audiens kreator. Karena itu, kreator tidak selalu perlu posting konten di akun sendiri dan jumlah followers bukan syarat utama.
Mengapa UGC Semakin Diandalkan?
UGC semakin menarik bagi brand karena narasi kontennya terasa dekat dengan keseharian customer. Alih-alih tampil seperti konten promosi yang diproduksi secara profesional, UGC menghadirkan pengalaman, opini, dan sudut pandang yang lebih natural. Pendekatan ini membuat konten terasa relatable sekaligus lebih engaging bagi audiens umum.
Dari sisi kreator, UGC juga menawarkan proses produksi yang relatif lebih mudah untuk dilakukan. Kreator tidak harus memiliki peralatan profesional, tim produksi, atau konsep pengambilan gambar yang rumit untuk menghasilkan konten. Selama mampu menyampaikan pengalaman dan pesan dengan cara yang menarik, mereka sudah bisa menghasilkan UGC yang bernilai bagi brand.
Bahkan, ada kreator yang berhasil mendapatkan penghasilan hingga jutaan rupiah hanya dari membuat konten UGC. Inilah yang membuat UGC menjadi peluang menarik bagi kedua belah pihak, baik brand yang membutuhkan konten autentik maupun kreator yang ingin mendapatkan monetisasi.
Untuk memperluas pemanfaatannya, brand juga dapat menggunakan UGC sebagai materi ads melalui fitur Affiliate Creatives for Ads milik TikTok Shop atau whitelisting akun kreator.
Apa yang Biasanya Diminta Kepada UGC Creator?
Deliverable yang jelas membedakan paid UGC dari konten biasa, sehingga perlu disepakati sejak awal. Berikut di antaranya:
1. Video Utama
Vertical short-form video yang menampilkan produk dalam situasi sehari-hari, seperti penggunaan produk, demo, atau storytelling tentang masalah dan solusi. Durasi video disesuaikan dengan kebutuhan ads atau channel brand.
2. Variasi Hook
Beberapa variasi opening untuk video yang sama agar brand dapat melakukan A/B testing dan mengetahui mana yang paling efektif menarik perhatian audiens.
3. Raw Footage
File raw footage yang memungkinkan tim brand melakukan editing ulang sesuai kebutuhan. Karena raw footage biasanya menjadi tambahan deliverable, detail dan biaya tambahannya perlu disepakati sejak awal.
4. Usage Rights
Izin penggunaan konten pada channel dan periode tertentu, termasuk untuk kebutuhan paid ads. Rincian ini dikenal sebagai usage rights dan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan rate UGC creator.
Kesepakatan yang Perlu Dijaga Kreator dan Brand
Karena hasil akhirnya berupa aset konten, kesepakatan tertulis menjadi bagian penting dalam kolaborasi UGC.
1. Untuk Kreator yang Menentukan Rate Card
Jika Anda seorang kreator, pisahkan biaya produksi konten dari biaya usage rights. Rate UGC tidak hanya bergantung pada proses pembuatan video, tetapi juga channel, durasi penggunaan, dan apakah konten akan digunakan untuk paid ads.
Tentukan pula batas revisi, format file, dan timeline pengerjaan dalam rate card atau perjanjian kerja sama. Dengan begitu, nilai pekerjaan Anda tidak tergerus oleh permintaan tambahan di luar kesepakatan.
2. Untuk Brand yang Menyusun Brief
Jika Anda mewakili brand, tuliskan detail produk, key message, durasi video, dan deliverable secara jelas. Sepakati pula kepemilikan konten melalui content ownership. Brief yang terstruktur dapat mengurangi revisi dan mempercepat proses produksi.
Jangan menyajikan konten paid seolah-olah merupakan customer review sepenuhnya spontan karena dapat menyesatkan audiens. Jika konten dipublikasikan melalui akun kreator, pastikan disclosure kerja sama diaktifkan sesuai ketentuan platform.
Risiko yang Perlu Dihindari
Tiga kesalahan berikut dapat menurunkan kualitas dan efektivitas paid UGC.
1. Konten Terkesan Dibuat-buat
Script yang terlalu kaku dapat menghilangkan kesan authenticity yang justru menjadi salah satu daya tarik UGC. Berikan ruang kepada kreator untuk menyampaikan pesan menggunakan gaya komunikasi mereka sendiri.
2. Usage Rights Tidak Jelas
Tanpa kesepakatan mengenai channel dan durasi penggunaan, kedua pihak berisiko mengalami masalah ketika konten digunakan kembali sebagai materi paid ads. Tuliskan seluruh ketentuan tersebut secara rinci dalam perjanjian kerja sama.
3. Klaim Berlebihan
Pernyataan tentang hasil yang pasti atau klaim produk yang tidak didukung bukti dapat menyesatkan audiens dan merusak reputasi kedua pihak. Pastikan klaim yang disampaikan berdasarkan pengalaman nyata dan informasi produk yang dapat dipertanggungjawabkan.
Buat Rate Card Influencer dan KOL dengan Mudah hanya di KOL.ID
Paid UGC menempatkan kualitas konten dan kejelasan usage rights sebagai faktor penting, bukan sekadar jumlah followers. Kreator dapat menyusun rate card yang merinci biaya produksi dan penggunaan konten, sementara brand dapat menemukan kreator yang sesuai melalui Discovery Campaign dan mengatur kebutuhan kolaborasi dengan lebih praktis.
Dapatkan artikel terbaru kami lebih mudah di Google Search, AI Overviews, dan AI Mode.