Discovery Campaign Buat Rate Card Tiktok Buat Rate Card Instagram Buat Rate Card Youtube
Buat MoU Otomatis Cek ER KOL Tiktok Cek ER KOL Instagram Cek ER KOL YouTube Download Video Tiktok Download Video Instagram Download Video Youtube Kamus KOL
Ranking KOL Tiktok Ranking KOL Instagram Ranking KOL Youtube Cek Rate Card KOL Tiktok Cek Rate Card KOL Instagram Cek Rate Card KOL Youtube Campaign Report KOL Management Extensions KOL.ID
Login Register
Blog › Social Media › KOL.ID Report: Jutaan Video di Instagram, TikTok, dan YouTube Di-Remove, Ini Alasannya!

KOL.ID Report: Jutaan Video di Instagram, TikTok, dan YouTube Di-Remove, Ini Alasannya!

Hero image of a city skyline at night

Setiap hari, jutaan video di-post ke Instagram, TikTok, dan YouTube. Namun, tidak semuanya bertahan. Sebagian besar video dihapus oleh platform karena melanggar community guidelines, dan jumlahnya jauh lebih besar dari yang banyak orang kira.

Bagi brand dan creator, memahami skala removal ini penting. Campaign yang bergantung pada video berisiko terganggu jika konten dihapus di tengah jalan, sementara creator juga perlu tahu batasan yang berlaku agar kontennya tetap aman dan tidak mengalami risiko konten di-removed atau di-banned. Berikut rangkuman data resmi dari tiga platform mengenai jumlah video yang di-remove pada periode terbaru.

Laporan Video Removed di Instagram, TikTok, dan YouTube

Ketiga platform social media tersebut mempublikasikan transparency report secara berkala, tetapi periode pelaporannya tidak selalu sama. Karena TikTok belum merilis data terbaru pada 2026, perbandingan di bawah ini akan menggunakan periode report Januari-Maret 2026.

Terlihat bahwa skala removal di tiap platform sangat berbeda, bergantung pada volume post, format konten, dan kebijakan yang diterapkan. Untuk memahami konteksnya lebih dalam, berikut pembedahan data per platform.

1. Instagram

Meta mempublikasikan volume konten yang dihapus dari Instagram melalui Cross-Policy Data pada Transparency Centre miliknya. 

Berikut tren selama empat periode terakhir.

Jumlah content removed di Instagram cenderung berfluktuasi antarperiode. Kenaikan tajam pada Okt-Des 2025 diikuti penurunan pada dua periode berikutnya, yang menunjukkan bahwa volume removal dapat bergerak naik turun tanpa tren yang selalu satu arah. Meskipun demikian, angka pada Apr-Jun 2026 tetap berada di sekitar seratus juta, sehingga removal dalam skala besar tetap menjadi bagian rutin dari operasional Instagram.

2. TikTok

TikTok merilis data moderasinya berdasarkan pasar dan bahasa. Berikut perbandingan performa moderasi global dengan Indonesia pada periode Januari-Maret 2026.

Dari total video yang dihapus secara global, Indonesia menyumbang sekitar 11,5 juta video. Namun, removal rate dari video yang terbit di Indonesia justru lebih rendah dibanding global, yaitu 0,3% berbanding 0,5%. 

Artinya, konten yang melanggar aturan di Indonesia relatif lebih sedikit dibanding rata-rata global meski jumlah absolutnya besar.

Proactive removal rate Indonesia sejajar dengan global di angka 99,3%, yang berarti hampir seluruh video yang dihapus terdeteksi oleh sistem sebelum ada laporan dari pengguna. Selisih kecil terlihat pada removal dalam 24 jam, di mana Indonesia sedikit lebih lambat (93,8%) dibanding global (94,4%). 

Angka video yang direstorasi juga jauh lebih kecil, yaitu 434.448 dibanding 8,84 juta secara global, yang dapat menandakan proses banding di Indonesia berjalan pada skala yang lebih kecil sesuai proporsi total post.

3. YouTube

YouTube mempublikasikan dua jenis data pada Community Guidelines Enforcement Report-nya, yaitu total video yang dihapus dan rincian berdasarkan negara.

Total video yang dihapus pada Januari-Maret 2026 tercatat sebanyak 9.804.544. Agar lebih jelas, berikut sepuluh negara dengan jumlah removal tertinggi pada periode tersebut.

Indonesia menempati peringkat keempat dengan 707.535 video dihapus, di bawah India, Brasil, dan Amerika Serikat. Posisi ini menunjukkan bahwa volume upload video dari Indonesia cukup besar dalam skala global, sehingga jumlah removal-nya pun turut signifikan dibanding negara lain di Asia Tenggara.

Baca juga: Persona Platform Sosial Media Berbeda, Ini Karakter dan Aktivitas Penggunanya!

Mengapa Hal Ini Terjadi?

Tim riset KOL.ID menilai setidaknya ada tiga alasan yang membuat banyak konten di-removed oleh ketiga platform social media tersebut. Berikut di antaranya: 

1. Deteksi Otomatis dari Sistem

Removal rate dan proactive removal rate TikTok pada data di atas menunjukkan bahwa hampir seluruh video yang dihapus, baik secara global maupun di Indonesia, terdeteksi oleh sistem otomatis sebelum ada pengguna lain yang melaporkannya. Pendekatan seperti ini umum disebut proactive detection.

Meta sebagai induk dari Instagram menjalankan logika serupa lewat pendekatan yang mereka sebut "remove, reduce, inform" dalam menegakkan Community Standards di Instagram. Konten yang jelas melanggar akan langsung dihapus, sementara konten di area abu-abu akan dikurangi jangkauannya atau diberi label informasi tambahan, dengan kombinasi teknologi dan tim reviewer manusia untuk menilai kasus yang lebih rumit.

2. Konten yang Termasuk Kategori Pelanggaran 

Alasan lainnya adalah konten yang di-post oleh user masuk kategori pelanggaran. Berdasarkan laporan penegakan kebijakan TikTok, kategori pelanggaran yang paling banyak ditemukan meliputi konten dengan tema sensitif atau dewasa, aktivitas berbahaya dan challenge yang berisiko, pelanggaran standar keamanan dan kesopanan komunitas, hingga konten yang menampilkan eksposur tubuh dan perilaku seksual, dengan sebagian kecil removal juga menyasar media hasil edit atau konten yang dihasilkan AI, jika dilansir dari TikTok Q1 2026 Community Guidelines Enforcement Report.

YouTube menghapus video berdasarkan kebijakan yang paling jelas dilanggar dari satu post. Kategori yang umum menjadi alasan removal di YouTube mencakup keamanan anak, konten seksual atau ketelanjangan, konten kekerasan atau grafis, serta spam dan konten menyesatkan, sejalan dengan opsi "include automated flagging" atau mencakup video yang langsung terdeteksi lewat sistem. 

3. Peninjauan Manual yang Dilakukan oleh Tim Internal

Sistem otomatis tidak selalu benar sepenuhnya. Data video yang direstorasi pada TikTok, yaitu 8,84 juta secara global dan 434.448 di Indonesia, menunjukkan bahwa proses banding tetap dapat dilakukan ketika creator atau brand merasa videonya dihapus tanpa alasan yang jelas.

YouTube dan Instagram juga mengandalkan kombinasi sistem otomatis dengan tim peninjau manusia untuk kasus yang membutuhkan penilaian lebih jeli, terutama saat konten berada di area abu-abu antara melanggar dan tidak. Dengan mekanisme ini, brand dan creator perlu memperhatikan bahwa penilaian konten dapat terjadi dalam hitungan jam sejak video di-post, bukan hanya setelah viral atau dilaporkan pengguna.

Video yang di-remove umumnya dapat dihindari dengan memahami kebijakan komunitas masing-masing platform sebelum konten di-post, menghindari elemen sensitif seperti kekerasan, konten seksual, atau klaim menyesatkan, serta memeriksa ulang copyright dan disclosure endorsement pada konten kolaborasi brand. 

Cek Rate Card dan Ranking KOL di KOL.ID

Risiko removal menjadi salah satu hal yang perlu dipertimbangkan brand sebelum menjalankan kampanye video, sementara KOL perlu menjaga kualitas kontennya agar tetap sesuai kebijakan platform. Sebelum memulai kolaborasi, brand dapat mengecek rate card serta melihat ranking KOL berdasarkan performa terkini di Instagram, TikTok, dan YouTube , sementara KOL dapat membuat rate card resmi untuk menunjukkan kredibilitasnya kepada calon brand. Yuk, cek rate card dan mulai kolaborasi yang lebih terukur di KOL.ID!

Jadikan kami sumber pilihanmu di Google

Dapatkan artikel terbaru kami lebih mudah di Google Search, AI Overviews, dan AI Mode.

Tambahkan KOL.ID sebagai sumber pilihan di Google