Dalam satu dekade terakhir, cara aktivitas koleksi terbentuk dan berkembang telah berubah. Jika sebelumnya koleksi identik dengan aktivitas offline seperti pameran, lelang, atau komunitas terbatas, kini ekosistem tersebut bergeser ke social media seperti Instagram. Perubahan ini bukan sekadar perubahan medium, tetapi juga perubahan perilaku. Aktivitas koleksi tidak lagi didominasi oleh segmen tertentu, melainkan meluas ke kelompok dengan daya beli tinggi yang mencari kepuasan emosional sekaligus nilai investasi.
Berdasarkan laporan The Art Basel & UBS Survey 2025, sebanyak 74% kolektor aktif secara global berasal dari generasi Milenial dan Gen Z. Data ini menunjukkan bahwa kolektor modern memiliki karakteristik yang lebih adaptif terhadap teknologi dan terbiasa dengan interaksi digital. Hal ini juga berdampak pada percepatan siklus tren koleksi, di mana popularitas suatu item dapat meningkat secara signifikan dalam waktu singkat melalui eksposur di social media.

Data tersebut mengindikasikan bahwa komunitas kolektor di internet tidak lagi sekadar ruang diskusi, tetapi telah berkembang menjadi ekosistem ekonomi yang aktif. Interaksi, validasi komunitas, hingga transaksi terjadi dalam satu media. Sehingga, komunitas kolektor di internet juga dapat berfungsi sebagai kurator sekaligus pendorong nilai sebuah produk.
Baca juga: Fenomena Fanbase Culture di Social Media dan Peluang Kolaborasi Brand
Kategorisasi Koleksi Populer di Internet
Untuk memahami dinamika komunitas kolektor, penting untuk melihat kategori produk yang saat ini mendominasi percakapan dan transaksi. Setiap kategori memiliki karakteristik komunitas yang berbeda, baik dari sisi interaksi maupun faktor pendorong nilainya.
1. Fashion Items
Kategori fashion items menjadi salah satu yang paling konsisten dalam ekosistem kolektor digital. Sepatu dan jersey menjadi dua produk utama yang memiliki tingkat likuiditas tinggi. Dalam kategori alas kaki, ASICS memimpin segmen lifestyle runners, sementara New Balance dan On mencatat pertumbuhan masing-masing sebesar 83% dan 249%.
Fenomena “jersey fever” juga menunjukkan peningkatan minat yang signifikan, khususnya untuk tim nasional Prancis dan Jepang. Di sisi lain, kolaborasi seperti Nike x Travis Scott dan Jordan x Travis Scott terus menjadi incaran utama di pasar sekunder karena nilai jual kembali yang tinggi.

Di Indonesia, ekosistem ini diperkuat oleh kehadiran platform seperti Kick Avenue adalah marketplace online untuk fashion items terkemuka dan berperan sebagai penjamin keaslian dan standar harga di Indonesia. Sehingga, komunitas kolektor merasa aman bertransaksi barang mewah tanpa takut tertipu barang palsu.
2. Trading Card
Pasar trading card game (TCG) masih didominasi oleh Pokémon, khususnya seri Scarlet & Violet 151. Namun, pertumbuhan kategori ini tidak lepas dari peran figur publik yang memperluas eksposur ke audiens yang lebih luas.
.jpg)
Salah satu contoh yang relevan adalah Windah Basudara, seorang streamer game dengan basis penggemar besar di Indonesia. Aktivitas live streaming pembukaan pack kartu Pokémon tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga memicu ketertarikan terhadap TCG sebagai aktivitas koleksi.
Selain itu, keterlibatan dalam promosi media seperti Tangan Wangi serta kolaborasi melalui B Bros Vault memperkuat ekosistem komunitas. Hal ini menunjukkan bahwa integrasi antara konten, komunitas, dan aktivitas komersial mampu mempercepat pertumbuhan kategori koleksi.
3. Collectibles Item
Kategori collectibles saat ini mengalami lonjakan signifikan, dengan Labubu sebagai pemimpin dalam sub-kategori high-scale collectibles. Pertumbuhan sebesar 1.332% pada kategori blind box menunjukkan adanya lonjakan permintaan yang tidak biasa, jauh melampaui Dimoo dan Skull Panda.
Namun, berbeda dengan kategori lain, kekuatan komunitas Labubu relatif tidak sekuat fashion items atau TCG. Pertumbuhan lebih banyak didorong oleh fenomena fear of missing out (FOMO). Secara global, tren ini dipicu oleh eksposur dari figur publik seperti Lisa, yang memicu lonjakan minat secara instan.
Di Indonesia, pola yang sama terjadi melalui peran influencer yang membangun exposure melalui konten. Meskipun basis komunitas belum terlalu solid dan belum tentu mampu bertahan dalam waktu jangka panjang, nilai ekonomi tetap tinggi karena didorong oleh momentum tren.
@riaricis Siapa yang mauu????
♬ You'll Be in My Heart - NIKI
Sebagai contoh, Ria Ricis membagikan konten Labubu kepada temannya. Hal ini menimbulkan reaksi oleh netizen. Salah satunya adalah komentar dari akun TikTok Love~ yang berkomentar “setiap liat VT bu icis, anak ku ngereok ngamok mintak labubu mintak mainan Oalahh”.
Pada akhirnya, masa depan industri ini akan bergantung pada kemampuan masing-masing kategori dalam merawat komunitasnya. Tren yang hanya mengandalkan keviralatan sesaat akan mudah meredup begitu perhatian netizen bergeser. Sebaliknya, kategori yang mampu mengintegrasikan konten dan interaksi komunitas yang solid akan terus memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan bertahan dalam jangka panjang.
Cara Brand Memanfaatkan Komunitas Kolektor
Brand memiliki potensi besar untuk masuk ke dalam ekosistem komunitas kolektor. Namun, strategi yang dimiliki tidak bisa disamakan dengan pemasaran konvensional. Dibutuhkan pemahaman terhadap perilaku komunitas dan nilai yang dimiliki.
Berikut beberapa cara yang dapat diterapkan oleh brand:
1. Memilih Influencer atau KOL Relevan
Tidak semua influencer atau KOL memiliki relevansi dalam komunitas kolektor. Brand perlu memastikan bahwa figur yang dipilih memiliki kredibilitas seperti kolektor aktif, bagian dari komunitas, reseller, atau reviewer yang memahami produk secara mendalam. Kredibilitas ini menjadi faktor utama dalam membangun brand trust, karena komunitas cenderung sensitif terhadap promosi yang tidak autentik.
2. Gunakan Storytelling
Menggunakan metode storytelling dalam kolaborasi menjadi kunci dalam menarik perhatian komunitas kolektor. Brand perlu mendorong pembuatan konten yang mengangkat cerita di balik produk atau pengalaman penggunaan. Review objektif dan perbandingan dengan produk lain juga dapat meningkatkan nilai informasi, sehingga konten terasa lebih relevan dan tidak bersifat hard selling.
3. Ciptakan Hype
Nilai dalam komunitas kolektor sangat dipengaruhi oleh kelangkaan dan eksklusivitas. Oleh karena itu, brand perlu merancang strategi seperti limited drop, akses awal untuk komunitas tertentu, serta penyebaran teaser melalui figur yang memiliki pengaruh dalam komunitas. Timing rilis juga menjadi faktor krusial untuk menciptakan momentum yang tepat.
Untuk memaksimalkan potensi ini, kolaborasi dengan KOL yang tepat menjadi kunci. Kategori seperti kolektor mobil klasik, misalnya, memiliki karakter audiens yang spesifik dan nilai transaksi yang tinggi. Melalui KOL.ID, proses menemukan KOL yang relevan dapat dilakukan dengan lebih terarah. Informasi seperti rate card tersedia untuk berbagai platform mulai dari Instagram, TikTok, dan YouTube, sehingga perencanaan kolaborasi dapat berjalan lebih terukur dan efektif.