Discovery Campaign Buat Rate Card Tiktok Buat Rate Card Instagram Buat Rate Card Youtube
Buat MoU Otomatis Cek ER KOL Tiktok Cek ER KOL Instagram Cek ER KOL YouTube Download Video Tiktok Download Video Instagram Download Video Youtube Kamus KOL
Ranking KOL Tiktok Ranking KOL Instagram Ranking KOL Youtube Cek Rate Card KOL Tiktok Cek Rate Card KOL Instagram Cek Rate Card KOL Youtube Campaign Report KOL Management Extensions KOL.ID
Login Register
Blog › Social Media › Ternyata Ini 7 Tren Social Media Gen Z 2026, Brand dan KOL Wajib Tahu

Ternyata Ini 7 Tren Social Media Gen Z 2026, Brand dan KOL Wajib Tahu

Hero image of a city skyline at night

Buat Gen Z, social media sudah jadi bagian dari keseharian. Bukan cuma buat upload konten atau ngobrol, tapi juga buat cari informasi, hiburan, lihat review, menemukan produk baru, sampai mencari komunitas yang punya interest yang sama.

Karena itu, cara Gen Z menggunakan social media ikut memengaruhi cara brand dan KOL membuat konten. TikTok bisa jadi tempat pertama untuk menemukan produk, YouTube dipakai buat cari review yang lebih lengkap, sementara Instagram lebih banyak dipakai untuk mengikuti content creator, menjaga koneksi, dan melihat apa yang sedang ramai.

Pergeseran ini penting buat marketer. Memahami Gen Z sekarang bukan cuma soal tahu tren apa yang lagi viral. Yang lebih penting adalah memahami kenapa mereka berhenti di sebuah konten, siapa yang mereka percaya, di mana mereka mencari informasi, dan apa yang akhirnya bikin mereka tertarik pada sebuah brand.

Lalu, sebenarnya seperti apa kebiasaan Gen Z di social media pada 2026? Berikut tujuh tren yang perlu diperhatikan brand dan KOL.

Platform yang Dipakai Gen Z Punya Fungsi yang Berbeda

Sebelum masuk ke trennya, ada satu hal yang cukup penting: jangan menganggap TikTok, Instagram, dan YouTube sebagai tiga platform yang menjalankan fungsi yang sama.

Menurut riset Sprout Social yang dikutip sumber, 89% Gen Z menggunakan Instagram, 84% menggunakan YouTube, dan 82% menggunakan TikTok. Namun, perannya berbeda-beda. TikTok banyak dipakai untuk discovery, YouTube lebih kuat untuk learning dan entertainment, Instagram berkaitan dengan identity dan social connection, sementara Reddit dan Discord lebih dekat dengan research serta community.

Ini penting karena customer journey Gen Z bisa berpindah platform. Seseorang dapat menemukan produk di TikTok, lanjut cari review di YouTube, membaca pengalaman orang lain di Reddit, lalu kembali melihat Instagram sebelum membeli.

Baca juga: 10 Influencer Couple Populer di Social Media

7 Tren Social Media Gen Z yang Perlu Diperhatikan

Perubahan perilaku tersebut kemudian terlihat dalam beberapa tren yang semakin kuat di social media.

1. Short-Form Video Masih Jadi Attention Seeker No.1

Kalau ngomongin Gen Z, short-form video masih susah digeser. Format yang dipopulerkan TikTok sekarang sudah menjadi bagian dari Instagram Reels, YouTube Shorts, Snapchat Spotlight, dan berbagai platform video lainnya. Yang menarik, video pendek bukan cuma dipakai buat hiburan. Gen Z juga memakainya untuk cari informasi. Tutorial, review produk, rekomendasi tempat, travel ideas, sampai buying advice bisa dikemas dalam video yang singkat.

YouTube Shorts sendiri sudah menjangkau lebih dari 2 miliar logged-in users setiap bulan. Sementara itu, 67% Gen Z consumers dalam riset yang dikutip sumber mengatakan review atau unboxing-style videos memengaruhi purchasing decisions.

Buat creator, ini berarti video pendek bukan cuma soal durasi. Cara menyampaikan informasi tetap penting. Hook, pacing, visual, dan cara creator membawa cerita bisa menentukan apakah orang lanjut nonton atau langsung scroll.

Buat brand, short-form video juga membuka lebih banyak format untuk campaign. Product demo, review, tutorial, behind the scenes, sampai creator-led content bisa terasa lebih natural dibanding iklan yang terlalu polished.

2. Gen Z Makin Sering Search Langsung di Social Media

Dulu, orang yang mau mencari sesuatu mungkin langsung buka Google. Sekarang, untuk kebutuhan tertentu, TikTok dan Instagram juga sudah masuk ke shortlist.

Menurut data yang dikutip sumber menunjukkan 41% Gen Z mulai melakukan pencarian di social platform seperti TikTok atau Instagram. Google sendiri pernah menemukan bahwa hampir 40% anak muda menggunakan TikTok atau Instagram untuk mencari tempat makan daripada Search atau Maps.

Yang dicari juga semakin luas. Bukan cuma konten hiburan, tetapi:

  • Review produk
  • Rekomendasi brand
  • Tutorial
  • Travel destination
  • Buying guide
  • Local business

YouTube juga punya peran penting di tahap ini. Bedanya, orang sering masuk ke YouTube ketika mereka butuh informasi yang lebih dalam, misalnya perbandingan produk, tutorial, atau review sebelum membeli. Reddit juga ikut bermain ketika pengguna ingin mendengar pengalaman orang lain secara lebih jujur.

3. Creator Semakin Dipercaya daripada Brand Account

Gen Z tumbuh bersama iklan. Jadi, mereka juga semakin peka ketika sebuah konten terasa terlalu salesy.

Creator punya posisi berbeda karena mereka sudah lebih dulu membangun hubungan dengan audience. Orang mengikuti creator bukan karena mereka sebuah brand, tetapi karena merasa creator tersebut punya expertise, personality, atau sekadar kontennya memang menarik.

Dalam riset yang dikutip sumber, 50% Gen Z lebih percaya rekomendasi influencer dibanding rekomendasi celebrity tradisional. Sementara itu, survei lain menunjukkan 61% konsumen mempercayai influencer recommendations ketika mengambil keputusan pembelian.

Salah satu kekuatan creator adalah context. Mereka bisa menjelaskan cara memakai produk, menunjukkan pengalaman sendiri, membandingkan beberapa pilihan, atau menjawab pertanyaan yang biasanya tidak muncul dalam iklan biasa.

Tapi trust ini juga tidak gratis. Banyak user yang cenderung akan unfollow creator yang terlihat tidak authentic, terlalu promotional, atau sudah tidak nyambung dengan audience. Jadi, buat brand, memilih KOL bukan cuma soal siapa yang followers-nya paling banyak. Niche, engagement rate, audience quality, dan credibility sama pentingnya.

4. Konten yang Terasa Authentic Lebih Menarik daripada yang Terlalu Polished

Konten dengan production value tinggi tetap punya tempat. Tapi di social media, video yang terlihat mahal belum tentu paling nyambung dengan audience.

Gen Z terbiasa melihat content creator yang bicara santai, bikin review dengan cara sendiri, atau menunjukkan proses di balik sebuah produk. Konten seperti ini sering terasa lebih relatable dibanding materi yang terlalu scripted.

Behind-the-scenes, customer testimonial, creator partnership, product demonstration, dan UGC bisa dikombinasikan dengan aset brand yang lebih polished. Hasilnya tetap punya kualitas, tetapi masih terasa seperti konten yang memang cocok muncul di feed.

Buat KOL, ini juga jadi alasan kenapa brand sebaiknya tidak terlalu mengatur semua detail konten. Kalau creator memang punya cara bicara yang khas, justru itulah yang membuat audience percaya.

5. Product Discovery Sekarang Banyak Dimulai dari Social Media

Social media bukan lagi sekadar tempat membangun awareness. Buat Gen Z, platform ini juga bisa menjadi pintu pertama menuju pembelian.

TikTok kuat di discovery, Instagram menggabungkan discovery dengan social proof, YouTube membantu audience melakukan research, sementara Reddit banyak digunakan untuk mencari pengalaman dan rekomendasi dari komunitas.

Data dari HubSpot yang dikutip sumber menunjukkan 43% Gen Z consumers membeli produk langsung melalui social media dalam tiga bulan terakhir. Ini membuat social media semakin dekat dengan tahap consideration dan conversion, bukan hanya awareness.

Customer journey-nya juga sudah tidak lurus.

Misalnya:

TikTok → menemukan produk
YouTube → lihat review
Reddit → cari pendapat orang lain
Instagram → lihat creator atau social proof
E-commerce → membeli

Karena perjalanan ini lintas platform, brand juga perlu berhenti melihat campaign hanya dari last-click conversion. Konten creator yang pertama kali mengenalkan sebuah produk mungkin tidak menghasilkan transaksi langsung, tetapi bisa menjadi alasan produk tersebut masuk ke consideration set audience.

6. Community Mulai Lebih Berharga daripada Reach Semata

Followers besar tetap punya value. Tapi makin banyak brand yang sadar bahwa audience besar belum tentu berarti audience yang aktif.

Gen Z juga semakin nyaman berada di niche communities. Bentuknya bisa Discord server, Reddit, group chat, Close Friends, atau community yang dibangun oleh creator sendiri. Di tempat seperti ini, orang bukan cuma melihat konten, tapi ikut ngobrol, bertanya, berbagi pengalaman, dan saling memberi rekomendasi.

Ini yang membuat community berbeda dengan reach.

Reach bisa membuat brand dikenal banyak orang dalam waktu cepat. Community membantu membangun relationship, trust, dan loyalty dalam jangka lebih panjang.

Makanya, creator dengan fanbase kecil tetapi sangat engaged bisa punya value yang besar. Mereka mungkin tidak punya jutaan followers, tetapi apa yang mereka katakan bisa jauh lebih diperhatikan oleh audience-nya.

Untuk brand, strategi ini bisa dikembangkan lewat creator-led community, ambassador program, Discord, Reddit, atau exclusive customer groups.

7. Shopping dan Entertainment Makin Susah Dipisahkan

Gen Z bisa saja awalnya membuka TikTok untuk hiburan, lalu beberapa menit kemudian sudah melihat review produk dan akhirnya membeli sesuatu. Sekarang, entertainment dan shopping memang semakin nyambung.

Creator punya peran besar dalam perubahan ini. Produk bisa masuk lewat video review, tutorial, livestream, GRWM, storytelling, atau konten yang sebenarnya dimulai sebagai hiburan.

Buat brand, ini membuka peluang untuk membuat content yang tidak terasa seperti “sekarang waktunya jualan”. Produk bisa masuk sebagai bagian dari cerita selama memang relevan dengan audience dan format creator.

Di sinilah creator selection jadi penting. Produk yang bagus belum tentu cocok dipromosikan oleh semua influencer. Cara creator berbicara, jenis audience, niche, dan relationship dengan followers tetap harus dipertimbangkan.

Apa Artinya Tren Ini buat Brand dan KOL?

Kalau diperhatikan, tujuh tren tadi sebenarnya mengarah ke satu perubahan besar: Gen Z tidak melihat social media hanya sebagai tempat menerima iklan.

Mereka memakai platform untuk mencari, membandingkan, meminta pendapat, mengikuti creator, dan akhirnya mengambil keputusan.

Buat KOL, ini berarti peran creator semakin luas. Creator tidak cuma menjadi “media placement”, tetapi juga bisa menjadi sumber informasi, reviewer, storyteller, bahkan community leader.

Buat brand, strategi influencer marketing juga tidak bisa berhenti pada target reach. Trust, relevance, authenticity, dan community semakin penting ketika target audience adalah Gen Z.

Dan satu hal lagi: jangan memaksa semua platform melakukan pekerjaan yang sama. TikTok bisa menjadi tempat discovery, YouTube untuk deeper research, Instagram untuk social proof dan identity, sementara Reddit atau Discord bisa berperan di tahap validation dan community.

Gen Z Bukan Cuma Soal Tren Viral

Mengikuti tren memang penting. Tapi memahami Gen Z jauh lebih besar daripada sekadar tahu sound apa yang sedang viral minggu ini.

Yang lebih penting adalah memahami bagaimana mereka menemukan konten, siapa yang mereka percaya, bagaimana mereka melakukan research, dan kenapa mereka akhirnya tertarik pada suatu produk atau brand.

Bagi KOL dan creator, insight ini bisa dipakai untuk menentukan format content creation yang lebih relevan. Bagi brand, insight yang sama bisa membantu menentukan platform, creative direction, serta KOL yang paling cocok untuk campaign.

Kalau sedang mencari benchmark creator untuk target Gen Z, Anda bisa melihat data ranking KOL Instagram, TikTok, dan YouTube di KOL.ID. Data performa tersebut bisa menjadi referensi saat membandingkan creator berdasarkan niche, audience, dan platform sebelum menentukan collaboration.