Trend di media sosial bergerak sangat cepat, sehingga brand perlu berusaha untuk tetap relevan dengan mengikuti perbincangan yang sedang ramai dibahas oleh publik. Salah satu strategi yang biasa digunakan adalah trendjacking. Namun, strategi ini tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Trendjacking yang tidak tepat justru berpotensi menimbulkan kontraproduktif.
Apa Itu Trendjacking?
Trendjacking adalah strategi komunikasi di mana brand ikut terlibat pada topik atau tren yang sedang populer di media sosial. Tujuannya untuk meningkatkan visibilitas dan memperluas jangkauan audiens melalui keterhubungan dengan percakapan yang sudah ramai terlebih dahulu. Bentuk penerapannya dapat berupa unggahan media sosial, konten video, kampanye singkat, atau format kreatif lainnya yang relevan dengan tren yang sedang berlangsung.
Agar efektif, trendjacking membutuhkan pemahaman terhadap konteks tren, karakter audiens, serta kecepatan dalam mengeksekusi konten. Jika terlambat merespons, tren sudah menurun dan dampaknya tidak lagi optimal.
Manfaat Trendjacking untuk Brand
Strategi ini memiliki sejumlah manfaat yang dapat membantu brand menemukan posisi kuat di ruang digital. Beberapa manfaat trendjacking antara lain:
Meningkatkan Brand Awareness
Ketika brand ikut serta dalam tren yang sedang ramai, peluang untuk muncul di beranda audiens menjadi lebih besar. Dampaknya, brand awareness dapat meningkat secara cepat.Mendekatkan Brand dengan Audiens
Ketika brand hadir dalam percakapan tren terkini, audiens merasa brand lebih dekat dan mengikuti perkembangan yang relevan bagi mereka. Hal ini dapat meningkatkan persepsi positif dan hubungan jangka panjang dengan audiens.Meningkatkan Engagement
Konten yang mengikuti tren cenderung mendapatkan interaksi lebih tinggi, baik berupa likes, komentar maupun share. Audiens lebih tertarik dengan konten yang sedang diperbincangkan sehingga potensi engagement meningkat.Meningkatkan Peluang Viral
Konten yang sesuai tren memiliki kemungkinan lebih besar untuk disebarkan secara cepat. Jika respons publik sangat positif, konten brand dapat mencapai viralitas yang memberi dampak besar pada eksposur.Efisiensi dalam Pemasaran Digital
Dibandingkan dengan kampanye besar yang memerlukan anggaran tinggi, trendjacking cenderung lebih hemat biaya. Brand hanya perlu eksekusi konten yang kreatif dengan memanfaatkan momentum yang sedang berlangsung.
Contoh Trendjacking
Dalam praktiknya, trendjacking dilakukan dengan menyesuaikan konten brand pada topik yang sedang viral. Contohnya, Glad2Glow memanfaatkan tren lagu “My Humps” di media sosial untuk mempromosikan produk lip serumnya. Selain itu, tren meme atau momen pop culture seperti acara televisi, pertandingan olahraga, hingga peringatan tertentu juga dapat diadaptasi menjadi konten brand.
Brand yang cepat membaca situasi dapat menghadirkan konten kreatif yang masih sesuai identitas brand sekaligus menjadi bagian dari percakapan besar tersebut. Namun, setiap eksekusi tetap membutuhkan riset singkat untuk memastikan tren yang diikuti tidak bertentangan dengan nilai perusahaan serta diterima secara positif oleh publik.
Apa Perbedaan Trendjacking dengan Newsjacking?
Trendjacking dan newsjacking sering dianggap sama, padahal keduanya memiliki fokus yang berbeda. Trendjacking berkaitan dengan tren media sosial yang muncul secara organik dari budaya digital, sementara newsjacking berfokus pada peristiwa yang diliput media dan termasuk dalam kategori berita aktual.
Trendjacking dapat bersifat lebih santai dan mengikuti budaya populer. Sebaliknya, newsjacking biasanya berhubungan dengan isu serius yang membutuhkan sikap profesional serta sensitivitas informasi. Miskomunikasi dalam newsjacking berpotensi menimbulkan dampak reputasi yang lebih besar karena berkaitan dengan isu yang disorot publik secara luas.
Risiko Trendjacking yang Perlu Dihindari
Selain manfaat, trendjacking juga memiliki potensi risiko yang perlu diperhatikan sebelum eksekusi. Berikut beberapa risiko yang harus diantisipasi:
1. Tidak Relevan dengan Brand
Konten yang hanya mengikuti tren tanpa keterkaitan dengan brand dapat terasa dipaksakan. Hal ini berisiko membuat audiens bingung dengan pesan yang ingin disampaikan.
2. Salah Menangkap Konteks
Kesalahan memahami tren dapat menyebabkan pesan yang dikeluarkan menyinggung pihak tertentu. Brand perlu teliti sebelum menggunakan tren agar tidak terjadi miskomunikasi.
3. Kalah Cepat Karena Tren Sudah Lewat
Tren bersifat cepat berubah. Ketika konten baru dirilis tetapi tren sudah surut, risiko kehilangan relevansi sangat besar. Perencanaan dan eksekusi harus berjalan dengan responsif.
4. Reaksi Publik yang Beragam
Konten trendjacking yang kurang tepat dapat memicu kritik atau opini negatif dari audiens. Karena itu, brand harus siap mengelola respons publik dengan bijak.
5. Mengurangi Kredibilitas
Jika brand terlalu sering mengejar tren tanpa mempertimbangkan tujuan komunikasi, kredibilitas dapat menurun. Konsistensi identitas dan pesan perlu tetap terjaga dalam setiap konten. Manajemen risiko yang baik membantu brand tetap memiliki kendali dalam komunikasi digital dan menjaga citra profesional.
Trendjacking merupakan strategi komunikasi yang dapat membantu brand meningkatkan visibilitas dan engagement di media sosial. Namun, penerapannya harus tetap mempertimbangkan relevansi, konteks, serta waktu yang tepat agar memberikan hasil optimal. Jika Anda tertarik untuk bekerja sama dengan kreator yang memahami tren, memiliki rate card yang profesional akan membantu brand menemukan talenta yang sesuai dengan kebutuhan kampanye. Ingin mengetahui nilai dan potensi akun media sosial Anda? Yuk, cek rate card sekarang di KOL.ID!