Social media membuat setiap orang memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat, termasuk komentar yang bernada sinis, skeptis, atau meremehkan kebahagiaan orang lain. Tidak jarang, respons seperti ini muncul ketika seseorang membagikan pencapaian, hubungan, perjalanan, atau momen positif dalam hidupnya. Di kolom komentar social media, selalu ada kemungkinan muncul tanggapan yang justru berusaha mempertanyakan atau merendahkan hal tersebut.
Fenomena ini sering dikaitkan dengan istilah bitter. Dalam percakapan sehari-hari, bitter digunakan untuk menggambarkan sikap seseorang yang cenderung sinis, negatif, atau sulit melihat sesuatu secara positif. Sikap tersebut tidak selalu muncul tanpa alasan. Dalam konteks psikologis, respons negatif terhadap kebahagiaan orang lain dapat berkaitan dengan kondisi dan pengalaman yang sedang dialami seseorang.
Apa Itu Bitter?
Bitter adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan sikap seseorang yang dipenuhi rasa kecewa, sinis, atau kepahitan terhadap situasi tertentu sehingga memengaruhi cara mereka memandang orang lain. Dalam penggunaan sehari-hari di social media, istilah ini sering ditujukan kepada orang yang memberikan komentar negatif atau skeptis terhadap pencapaian dan kebahagiaan orang lain.
Seseorang yang bitter tidak selalu secara terbuka menunjukkan rasa iri atau tidak suka. Sikap tersebut dapat muncul dalam bentuk komentar yang meremehkan, mencari sisi buruk dari suatu hal, atau menganggap kebahagiaan orang lain sebagai sesuatu yang dibuat-buat. Misalnya, ketika seseorang mengunggah foto bersama pasangan, respons bitter dapat berupa anggapan bahwa hubungan tersebut pasti tidak sebahagia yang terlihat.
Mengapa Orang Bisa Bersikap Bitter di Social Media?
Sikap bitter dapat dipengaruhi oleh kondisi emosional, pengalaman pribadi, dan cara seseorang memandang dirinya sendiri. social media yang terus memperlihatkan pencapaian dan kehidupan orang lain juga dapat membuat perasaan tersebut lebih mudah muncul.
@radityadika28 Kenapa orang bitter di medsos.
♬ original sound - radityadika
Beberapa orang mungkin memproyeksikan kekecewaan yang sedang dirasakan kepada orang lain. Misalnya, seseorang yang sedang mengalami masalah dalam hubungan dapat melihat unggahan pasangan lain dan menganggap kebahagiaan tersebut hanya pencitraan. Ada pula yang merasa tidak nyaman melihat pencapaian orang lain karena hal tersebut mengingatkan mereka pada sesuatu yang belum dimiliki atau dicapai.
Kurangnya self-awareness juga dapat membuat seseorang sulit menyadari bahwa respons negatifnya dipengaruhi oleh kondisi pribadi. Di sisi lain, respons dari pengguna lain, seperti likes atau komentar yang mendukung, dapat membuat seseorang merasa opininya dibenarkan dan mendorong pola komunikasi negatif tersebut berulang.
Seperti Apa Sikap Bitter di social media?
Sikap sinis dan negatif sebenarnya bukan fenomena yang baru muncul setelah adanya social media. Orang dengan karakter atau kecenderungan tersebut sudah ada jauh sebelum platform digital berkembang. Perbedaannya adalah sekarang mereka memiliki ruang yang jauh lebih luas untuk menyampaikan pendapat kepada publik.
Sebelum era social media, komentar negatif terhadap kehidupan orang lain mungkin hanya disampaikan dalam percakapan dengan lingkungan terdekat. Kini, satu komentar di X, Threads, TikTok, atau Instagram dapat dibaca oleh banyak orang dan bahkan menyebar lebih jauh melalui fitur repost, share, atau algoritma rekomendasi.
Sikap bitter dapat muncul dalam berbagai bentuk dan tidak selalu terlihat sebagai komentar yang secara langsung menghina. Beberapa contohnya antara lain:
- Meragukan kebahagiaan orang lain
Ketika seseorang membagikan momen bahagia bersama pasangan, orang yang bitter dapat menganggap hubungan tersebut hanya pencitraan atau tidak akan bertahan lama. - Meremehkan pencapaian
Alih-alih memberikan apresiasi ketika seseorang mendapatkan pekerjaan atau pencapaian tertentu, komentar yang muncul justru berusaha mengecilkan usaha tersebut, misalnya dengan mengatakan bahwa pencapaiannya terjadi karena keberuntungan. - Selalu mencari sisi negatif
Konten yang sebenarnya positif dapat direspons dengan mencari kekurangan yang tidak berkaitan langsung dengan pesan utama. Kebiasaan ini membuat seseorang seolah-olah selalu memiliki alasan untuk melihat sesuatu dari sisi buruk. - Membandingkan kehidupan orang lain
Seseorang dapat merespons pencapaian orang lain dengan membandingkannya dengan pengalaman pribadi atau pencapaian orang lain. Perbandingan tersebut kemudian digunakan untuk mengurangi nilai dari pencapaian yang sedang dibagikan. - Mengajak pengguna lain untuk ikut berkomentar negatif
Sikap bitter juga dapat berkembang menjadi upaya mencari dukungan. Seseorang melontarkan opini negatif kemudian mendorong pengguna lain untuk menyetujui penilaiannya sehingga komentar tersebut mendapatkan validasi.
Dengan demikian, bitter lebih terlihat dari pola respons yang konsisten daripada satu komentar negatif saja. Seseorang yang sesekali bersikap sinis belum tentu dapat disebut bitter, karena konteks dan alasan di balik komentarnya tetap perlu diperhatikan.
Baca juga: 7 AI Tools yang Membantu Social Media Team Bekerja Lebih Cepat
Bitter vs Kritik: Apa Perbedaannya?
Tidak semua komentar negatif dapat disebut bitter. Kritik dan sikap bitter dapat sama-sama menyampaikan ketidaksetujuan, tetapi keduanya memiliki tujuan dan cara penyampaian yang berbeda.
Kritik biasanya berfokus pada tindakan, gagasan, atau hasil tertentu dan disampaikan dengan alasan yang jelas. Kritik juga dapat memberikan masukan yang membantu seseorang atau brand melakukan perbaikan. Sebaliknya, sikap bitter cenderung lebih berfokus pada merendahkan, mencari kesalahan, atau menolak sesuatu karena perasaan negatif terhadap pihak yang menjadi objek pembicaraan.
Perbedaan ini penting bagi brand dan content creator yang berinteraksi dengan audiens di social media. Tidak semua komentar negatif perlu dianggap sebagai serangan. Beberapa justru dapat menjadi masukan yang berguna jika disampaikan berdasarkan fakta dan konteks yang jelas.
Jika Anda ingin membangun kolaborasi dengan KOL yang memiliki audiens relevan dan engagement yang baik, KOL.ID dapat membantu proses pencarian dan evaluasinya. Anda dapat melihat ranking KOL di berbagai platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube untuk menemukan creator yang sesuai dengan kebutuhan campaign. KOL.ID juga dapat membantu KOL membuat rate card secara lebih profesional sehingga proses kolaborasi dengan brand menjadi lebih mudah, terarah, dan terukur.