Discovery Campaign Buat Rate Card Tiktok Buat Rate Card Instagram Buat Rate Card Youtube
Buat MoU Otomatis Cek ER KOL Tiktok Cek ER KOL Instagram Cek ER KOL YouTube Download Video Tiktok Download Video Instagram Download Video Youtube Kamus KOL
Ranking KOL Tiktok Ranking KOL Instagram Ranking KOL Youtube Cek Rate Card KOL Tiktok Cek Rate Card KOL Instagram Cek Rate Card KOL Youtube Campaign Report KOL Management Extensions KOL.ID
Login Register
Blog › Glossary › Chronically Online

Chronically Online

Hero image of a city skyline at night

Anda mungkin pernah menemukan seseorang yang lebih memahami istilah, meme, atau perdebatan yang terjadi di social media dibanding kejadian di dunia nyata sehari-hari. Fenomena ini sering disebut dengan istilah chronically online.

Istilah ini menggambarkan kondisi seseorang yang begitu banyak menghabiskan waktu di dunia digital sehingga cara berpikir dan berkomunikasinya sangat dipengaruhi oleh budaya internet. Meskipun sering dipakai bercanda, istilah ini juga menyentuh persoalan yang lebih serius soal kebiasaan digital.

Bagi brand dan kreator, memahami chronically online membantu membaca cara audiens tertentu berinteraksi dengan konten, sekaligus menilai gaya komunikasi yang tepat untuk menjangkau mereka.

Apa Itu Chronically Online?

Chronically online adalah istilah untuk menggambarkan seseorang yang menghabiskan waktu sangat banyak di social media, hingga pola pikir dan gaya bicaranya lebih dipengaruhi budaya internet dibanding interaksi di dunia nyata. Orang dengan karakter ini cenderung memakai istilah, meme, atau referensi internet dalam percakapan sehari-hari.

Ciri lain yang sering muncul adalah kecenderungan menganggap perdebatan atau tren di social media sebagai sesuatu yang besar, padahal di luar itu, isu tersebut mungkin tidak terlalu relevan bagi kebanyakan orang.

Istilah ini biasanya dipakai sebagai sindiran ringan, tetapi dalam beberapa konteks juga dipakai untuk menyoroti kebiasaan onlne yang berlebihan.

Ciri Seseorang yang Chronically Online

Sebelum membahas dampaknya, berikut beberapa ciri yang biasa dikaitkan dengan istilah ini.

1. Sering Memakai Istilah Internet dalam Percakapan

Seseorang yang chronically online cenderung memakai singkatan atau slang internet secara alami, bahkan dalam obrolan di luar konteks digital, misalnya menggunakan slang W, L, Larp, dan cooked.

2. Terlalu Terpaku pada Perdebatan Online

Isu yang ramai diperbincangkan di social media sering dianggap sangat penting, meskipun di dunia nyata isu tersebut belum tentu dikenal banyak orang.

3. Kesulitan Memisahkan Dunia Digital dan Nyata

Reaksi terhadap kejadian di social media terkadang dibawa dengan intensitas yang sama seperti kejadian nyata dalam kehidupan sehari-hari.

4. Selalu Terhubung dengan Ponsel

Seseorang dengan karakter ini cenderung sulit lepas dari ponsel, karena merasa perlu terus memantau perkembangan percakapan maupun tren terbaru yang sedang berlangsung.

Perbedaan Chronically Online dan Aktif Bersocial media

Kedua hal ini kerap disamakan, padahal memiliki perbedaan yang cukup berbeda.

Aktif ber-social media merujuk pada kebiasaan mengunggah dan berinteraksi secara rutin, tanpa memengaruhi cara berpikir seseorang secara signifikan. Sementara itu, chronically online lebih menekankan pada seberapa besar pengaruh dunia digital terhadap cara pandang dan gaya komunikasi seseorang.

Perbedaan ini penting dipahami karena tidak semua pengguna aktif dapat dikategorikan chronically online, dan sebaliknya. Seseorang yang jarang mengunggah konten pun tetap bisa disebut chronically online apabila kesehariannya sangat lekat dengan istilah dan budaya internet.

Mengapa Istilah Ini Relevan bagi Brand dan Kreator?

Memahami audiens yang chronically online dapat membantu brand menyesuaikan gaya komunikasi konten pemasaran.

1. Gaya Bahasa yang Lebih Cepat Diterima

Audiens dengan karakter ini cenderung lebih cepat memahami referensi internet, sehingga konten bergaya meme atau bahasa gaul dapat lebih mudah diterima oleh mereka.

2. Risiko Kesalahpahaman Referensi

Namun, brand tetap perlu berhati-hati karena referensi internet dapat berubah cepat, sehingga penggunaan istilah yang sudah usang berisiko terasa janggal bagi audiens ini.

3. Peluang untuk Konten Relatable

Kreator yang memahami budaya internet secara mendalam cenderung lebih mudah membuat konten yang terasa dekat dengan keseharian audiens muda.

Contoh Content tentang Chronically Online

Brand dapat mengeksplorasi fenomena chronically online sebagai bagian dari strategi content mereka. Salah satu contohnya adalah Duolingo melalui konten TikTok yang kerap memanfaatkan meme, tren, dan referensi budaya internet untuk menggambarkan kebiasaan audiensnya. Pendekatan tersebut membuat karakter brand terasa dekat dengan percakapan yang sedang berkembang di social media.

@duolingoindonesia Kamu yang lihat ini, spill jumlah streak dong ? #duolingo #duolingoindonesia ♬ Chopin Nocturne No. 2 Piano Mono - moshimo sound design

Meskipun begitu, brand tetap perlu berhati-hati agar tidak terkesan memaksakan gaya bahasa yang sebenarnya kurang dipahami secara utuh. Riset kecil terhadap tren yang sedang berlangsung dapat membantu memastikan referensi yang dipakai masih relevan saat konten tayang, mengingat istilah internet dapat berubah popularitasnya dalam waktu singkat.

Bagi brand yang ingin menjangkau audiens dengan gaya komunikasi digital yang khas, KOL.ID dapat membantu proses seleksi KOL yang tepat. Anda dapat memanfaatkan KOL.ID untuk melihat, membandingkan, hingga menyesuaikan rate card influencer atau KOL secara lebih praktis dan terstruktur. KOL.ID juga menyediakan fitur ranking KOL Instagram, TikTok, dan YouTube untuk membantu Anda menemukan kreator yang relevan dengan target audiens.

Jadikan kami sumber pilihanmu di Google

Dapatkan artikel terbaru kami lebih mudah di Google Search, AI Overviews, dan AI Mode.

Tambahkan KOL.ID sebagai sumber pilihan di Google