Anda mungkin pernah melihat unggahan seseorang yang tampak hidup jauh lebih mewah, produktif, atau berprinsip dibanding kesehariannya yang sebenarnya. Fenomena semacam ini di social media kerap disebut dengan istilah LARP.
Awalnya, LARP merupakan singkatan dari live action role-playing, sebuah aktivitas permainan peran fisik yang sudah ada sejak lama. Namun, di social media, makna istilah ini bergeser menjadi sindiran terhadap perilaku pura-pura yang dilakukan demi citra tertentu.
Bagi brand maupun kreator, memahami istilah LARP membantu membaca dinamika kepercayaan audiens terhadap konten yang beredar di social media saat ini.
Apa Itu LARP?
LARP dalam konteks social media adalah sebutan untuk seseorang yang berpura-pura menjalani kehidupan, identitas, atau nilai tertentu yang sebenarnya tidak sesuai dengan kenyataan. Istilah ini dipakai secara sindiran untuk menggambarkan kepura-puraan yang dipertontonkan di social media.
Sebagai contoh, seseorang dapat dianggap sedang LARP ketika memamerkan gaya hidup mewah lewat unggahan yang sebenarnya jauh dari kondisi finansial aslinya. Contoh lain adalah seseorang yang tampak sangat peduli isu sosial di social media, tetapi sikap tersebut tidak tercermin dalam kesehariannya.
Baca juga: 10 Influencer Financial Terbaik di Indonesia
Kalau mau tahu, contoh konten LARP, simak video berikut ini:
@larpedrich My clips btw. Pls dont steal! #larp #larping #rich #richlife #yacht ♬ Queen St - Slowed - chr0ma
Meskipun demikian, istilah ini juga kadang dipakai dengan makna yang lebih ringan, yaitu seseorang yang berusaha membiasakan diri dengan kebiasaan baik dengan cara berperilaku seolah-olah sudah menjadi bagian dari dirinya.
Mengapa Istilah LARP Ramai Digunakan?
Sebelum membahas dampaknya, berikut beberapa alasan yang membuat istilah ini banyak dipakai warganet.
1. Social Media Mendorong Citra Ideal
Algoritma dan tren visual membuat banyak pengguna terdorong menampilkan versi kehidupan yang tampak lebih menarik dari kenyataannya, sehingga kesenjangan antara citra dan fakta menjadi lebih terlihat.
2. Audiens Semakin Peka terhadap Kepalsuan
Warganet cenderung lebih kritis membandingkan gaya hidup yang ditampilkan dengan detail lain yang terlihat di unggahan yang sama, sehingga kejanggalan lebih mudah terdeteksi.
3. Bahasa Sindiran Lebih Mudah Menyebar
Satu istilah singkat seperti LARP lebih praktis dipakai untuk mengomentari sebuah unggahan dibanding penjelasan panjang, sehingga cepat dipakai ulang di berbagai kolom komentar.
4. Menjadi Alat Verifikasi Sosial
Warganet kerap memakai istilah ini sebagai cara memverifikasi klaim orang lain, misalnya dengan membandingkan detail kecil dalam unggahan yang tidak konsisten dengan citra yang ditampilkan.
Perbedaan LARP dan Sekadar Aspirational Content
Kedua hal ini sering tertukar karena sama-sama menampilkan sisi kehidupan yang tampak ideal.
Konten aspirasional umumnya dibuat secara terbuka sebagai inspirasi atau target, tanpa menyembunyikan bahwa itu adalah tujuan yang sedang diperjuangkan. Sementara itu, LARP menyiratkan klaim bahwa kondisi tersebut sudah dicapai, padahal kenyataannya berbeda.
Perbedaan inilah yang membuat LARP lebih dekat dengan kesan manipulatif, sedangkan konten aspirasional masih dianggap wajar selama disampaikan dengan jujur.
Dampak LARP bagi Brand dan Kreator
Istilah ini juga relevan diperhatikan brand dan kreator karena menyentuh isu kepercayaan audiens.
1. Risiko Terhadap Reputasi
Kreator yang ketahuan menampilkan citra palsu berisiko kehilangan kepercayaan audiens secara cepat, apalagi bila kejanggalan tersebut viral dan dibahas banyak akun lain.
2. Memengaruhi Pemilihan KOL oleh Brand
Brand cenderung lebih berhati-hati memilih KOL, karena citra yang tidak konsisten dengan kenyataan dapat berdampak pada brand perception produk yang dipromosikan.
3. Mendorong Konten yang Lebih Transparan
Di sisi lain, tren ini turut mendorong sebagian kreator untuk lebih terbuka menampilkan proses, bukan hanya hasil akhir yang tampak sempurna. Konten yang menunjukkan sisi nyata di balik layar cenderung lebih mudah membangun kedekatan dengan audiens dibanding citra yang terlalu sempurna.
Brand juga dapat memanfaatkan momentum ini dengan mendorong kreator mitra untuk berbagi proses secara jujur, alih-alih hanya menonjolkan hasil akhir. Pendekatan semacam ini umumnya lebih tahan lama dibanding strategi yang mengandalkan citra semu.
Istilah LARP mengingatkan bahwa audiens saat ini semakin kritis terhadap kesenjangan antara citra yang ditampilkan dan kenyataan sebenarnya. Bagi brand dan kreator, menjaga konsistensi antara pesan yang disampaikan dan kondisi nyata menjadi kunci untuk mempertahankan kepercayaan audiens dalam jangka panjang.
Bagi brand yang ingin berkolaborasi dengan KOL yang memiliki reputasi dan konsistensi citra yang baik, KOL.ID dapat membantu proses seleksi agar lebih terukur. Anda dapat memanfaatkan KOL.ID untuk melihat, membandingkan, hingga menyesuaikan rate card influencer atau KOL secara lebih praktis dan terstruktur. KOL.ID juga menyediakan fitur ranking KOL Instagram, TikTok, dan YouTube sehingga memudahkan Anda menemukan kreator yang relevan dengan kebutuhan campaign.
Dapatkan artikel terbaru kami lebih mudah di Google Search, AI Overviews, dan AI Mode.