Discovery Campaign Buat Rate Card Tiktok Buat Rate Card Instagram Buat Rate Card Youtube
Buat MoU Otomatis Cek ER KOL Tiktok Cek ER KOL Instagram Cek ER KOL YouTube Download Video Tiktok Download Video Instagram Download Video Youtube Kamus KOL
Ranking KOL Tiktok Ranking KOL Instagram Ranking KOL Youtube Cek Rate Card KOL Tiktok Cek Rate Card KOL Instagram Cek Rate Card KOL Youtube Campaign Report KOL Management Extensions KOL.ID
Login Register
Blog Influencer Marketing Cara Baru Brand Activism, Apakah Kini Influencer Jadi Kunci Utama?

Cara Baru Brand Activism, Apakah Kini Influencer Jadi Kunci Utama?

Hero image of a city skyline at night

Pernahkah Anda merasa ingin membeli suatu produk karena brand tersebut mendukung nilai sosial atau politik yang sama? Nah, hal itu disebut dengan brand  activism. 

Apa itu brand activism? Jadi, brand acitvism atau aktivisme merek adalah kondisi di mana sebuah brand mengambil sikap terhadap isu sosial atau politik yang terjadi. 

Ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa brand bukan hanya mencari keuntungan, tetapi juga memiliki nilai, prinsip, dan kepedulian terhadap isu yang terjadi di lingkungan. 

Laporan #BrandsGetReal Sprout Social pada 2019 mencatat 70% konsumen menginginkan hal serupa karena percaya brand dapat menciptakan perubahan nyata. Namun, seiring berjalannya waktu, perilaku konsumen pun berubah. Beberapa tahun lalu, brand yang berani menyerukan pendapat tentang isu-isu yang terjadi dianggap penting dan bernilai di mata konsumen.

Namun, kini konsumen justru semakin selektif dalam menuntut sikap tersebut. Bahkan, berdasarkan Q1 2026 Sprout Pulse Survey, hanya 24% konsumen yang kini menginginkan brand mengambil sikap publik yang jelas terhadap seluruh isu sosial dan politik.

Kenapa hal ini berubah? 

Konsumen Lebih Realistis dan Kritis 

Perubahan ini terjadi karena semakin banyak orang yang skeptis terhadap brand yang terkesan hanya pura-pura peduli atau sekadar ikut tren saat menyuarakan isu sosial. Perasaan skeptis ini disebut dengan istilah “woke-washing” yang artinya merujuk pada  strategi brand yang berpura-pura peduli terhadap isu sosial untuk membangun citra positif terhadap konsumen, tanpa benar melakukan aksi nyata. 

Konsumen sekarang justru lebih beragam dalam menyikapi hal ini. Q1 2026 Sprout Pulse Survey juga mencatat sekitar 25% konsumen hanya menginginkan brand bersuara bila isunya berkaitan langsung dengan industri brand tersebut, 18% menginginkan brand menjadi rujukan pada topik sosial dan politik yang sesuai bidang keahliannya, sementara 21% lainnya justru lebih memilih brand bersikap netral sepenuhnya, dan 11% bahkan tidak menyukai segala bentuk aktivisme korporat. 

Adanya perubahan dari konsumen ini membentuk pola baru dalam strategi marketing brand. Kini, banyak orang justru lebih percaya saat pesan sosial datang dari influencer yang mereka ikuti.

Nah, di tengah pergeseran ini muncul satu pertanyaan penting, apakah influencer menjadi cara baru bagi brand untuk menyuarakan aktivisme mereka?  

Influencer Sebagai Penyambung Lidah Aktivisme 

Q1 2026 Sprout Pulse Survey kemudian juga mencatat hanya 22% konsumen yang menginginkan influencer membagikan pandangannya pada setiap isu, sementara 20% lainnya tidak ingin influencer bersuara soal opini politik sama sekali. 

Data ini berbeda jauh dari temuan tahun 2024, saat Sprout Social sempat mencatat 87% konsumen mengharapkan influencer mengambil sikap terhadap isu-isu yang sejalan dengan nilai mereka. Perbedaan ini menunjukkan bahwa ekspektasi konsumen terhadap influencer kini mulai sejalan dengan ekspektasi mereka terhadap brand, sama-sama menuntut sikap yang lebih terarah dan relevan, bukan lagi komentar di setiap isu.

Nah, disinilah peran influencer semakin penting. Saat aktivisme di media sosial gencar dipimpin oleh influencer atau KOL, brand perlu menerapkan pola baru. 

Alih-alih menyerukan isu secara langsung atau justru menghindarinya sama sekali, brand dapat mengandalkan influencer sebagai jembatan untuk menyampaikan nilai atau pesan sosial mereka, terutama pada isu yang relevan dengan bidang bisnisnya.

Meskipun ekspektasi konsumen terhadap brand activism kini lebih terukur, sebagian konsumen tampaknya masih percaya bahwa tongkat estafet aktivisme media sosial dapat diserahkan kepada influencer, selama pesannya terasa natural dan tidak dipaksakan. 

Apakah ini Mengartikan Bahwa Influencer Jadi Kunci Utama dalam Brand Activism? 

Adanya pergesaran ekspektasi konsumen dari brand ke influencer dalam menyampaikan pesan sosial, mengartikan bahwa influncer kini memegang peranan penting sebagai cara baru dalam menyampaikan aktivisme brand. 

Dalam lanskap pemasaran yang makin kompleks, influencer kini memainkan peran yang jauh lebih luas dari sekadar promosi produk. Mereka menjadi agen nilai dan representasi brand, termasuk dalam menyuarakan keberpihakan terhadap isu-isu tertentu. Apakah ini memiliki dampak yang besar bagi citra dan reputasi brand?

Jawabannya, ya tentu saja. Sekitar 29% konsumen mengaku berhenti membeli produk suatu brand ketika nilai brand tersebut bertentangan dengan nilai mereka, termasuk saat brand berkolaborasi dengan influencer yang tidak sejalan dengan nilai konsumen, sementara 15% lainnya justru sengaja membeli produk untuk mendukung brand yang sejalan dengan pandangan mereka.

Data tersebut mencerminkan perilaku konsumen yang cukup sensitif terhadap siapa yang menjadi representasi dari brand.

Maka dari itu, penting bagi brand untuk berhati-hati dalam memilih influencer. Bukan hanya dari banyaknya followers, tetapi juga mempertimbangkan nilai-nilai mereka yang selaras dengan citra dan tujuan jangka panjang brand. 

Jangan sampai brand memilih hanya melihat dari banyaknya followers, namun tidak mengetahui nilai atau standing position influencer tersebut dalam suatu isu. Ketika brand bekerja sama dengan influencer yang ternyata memiliki pandangan kontroversial atau bertolak belakang dengan nilai-nilai audiens, risiko reputasi pun tak bisa dihindari. Alih-alih mendapat exposure positif, brand justru bisa terkena backlash, dari kritik tajam yang berujung pada penurunan kepercayaan publik.

Contoh Brand Activism Menggunakan Influencer

Untuk lebih memahami cara brand menggandeng influencer untuk menyerukan pesan sosial, KOL.ID telah merangkum 2 brand untuk menjadi studi kasus. 

1. Nike X Colin Kaepernick 

Nike mengambil langkah berani lewat kolaborasinya dengan Colin Kaepernick pada tahun 2018. Kolaborasi ini menjadi salah satu contoh bahwa influencer menjadi cara baru bagi brand acitvism. Nike memanfaatkan Colin Kaepernick untuk menyuarakan pesan atas rasisme kulit hitam di AS. 

Colin Kaepernick adalah mantan quarterback NFL (National Football League) yang menjadi sorotan karena aksinya berlutut saat lagu kebangsaan Amerika dikumandangkan sebelum pertandingan, sebagai bentuk protes terhadap kebrutalan polisi terhadap komunitas kulit hitam di AS.

Nike menggandeng Kaepernick dalam kampanye “Just Do It” edisi ulang tahun ke-30. Dalam visual kampanye tersebut, Kaepernick tampil dengan pesan yang menggetarkan:

“Believe in something. Even if it means sacrificing everything.”

Pesan ini merujuk pada bagaimana Kaepernick kehilangan kariernya di NFL akibat sikap protesnya dan Nike memposisikan diri sebagai brand yang berdiri di sisi moralitas dan keberanian.

2. InJourney X Pandawara Group

Februari 2026, InJourney selaku holding BUMN sektor aviasi dan pariwisata menggandeng Pandawara Group, kelompok konten kreator asal Bandung yang dikenal lewat aksi bersih-bersih sampah di berbagai daerah, untuk menjalankan aksi Beach Clean Up di Pantai Kelan, Bali.

Kolaborasi ini melibatkan berbagai pihak sekaligus, mulai dari karyawan InJourney Group, pemerintah daerah, kepolisian, otoritas bandara, hingga siswa sekolah dasar setempat. Pemilihan Pandawara Group sebagai mitra terasa relevan karena kelompok ini memang sudah lama dikenal konsisten menyuarakan isu sampah dan kebersihan lingkungan lewat konten media sosialnya, bukan sekadar dilibatkan karena jumlah followers semata.

Bagi InJourney, kolaborasi ini menjadi cara menegaskan komitmen terhadap pariwisata berkelanjutan sekaligus meningkatkan kesadaran publik terhadap isu sampah di destinasi wisata unggulan seperti Bali. 

Anda bisa cek video kolaborasi antara InJourney dan Pandawara Group di bawah ini: 

@mediainjourney Komitmen keberlanjutan untuk melestarikan Indonesia terus berlanjut. Bersama @pandawaragroup, InJourney dan elemen masyarakat bergotong royong untuk melakukan beach clean-up di Pantai Kelan, Bali ?️ Selain melakukan gerakan bersih-bersih, InJourney Airports juga turut berpartisipasi dengan komitmen penanaman 1 juta pohon di area bandara. Dengan memastikan alam tetap lestari, pariwisata Indonesia pun diharapkan dapat tumbuh secara berkelanjutan dari generasi ke generasi ? Simak video singkatnya di sini! ✨ #InJourney #BersamaInJourney #CiptakanPerjalananPenuhMakna ♬ original sound - injourney.id

Bagaimana Cara Mengidentifikasi Influencer yang Tepat? 

Di era banyaknya influencer dan KOL, brand perlu melakukan riset mendalam untuk memahami latar belakang siapa sebenarnya sosok di balik akun tersebut. 

Langkah awalnya bisa dimulai dari menelusuri konten apa yang mereka unggah, topik apa  yang sering mereka angkat, hingga bagaimana reaksi audiens terhadap pandangan dan opini mereka. 

Menggali lebih dalam membantu brand menemukan influencer yang bukan hanya relevan secara niche, tetapi juga memiliki nilai dan prinsip yang sama dengan brand. Kolaborasi seperti ini akan membuat brand Anda lebih disukai komunitas dan meningkatkan penjualan. 

Jika Anda sudah melakukan riset mendalam terhadap influencer pilihan Anda, langkah selanjutnya Anda bisa cek rate card mereka. Anda bisa menggunakan KOL.ID untuk cek rate card influencer agar proses negosiasi lebih cepat dan mudah.

Brand dapat mengetahui biaya kerja sama dengan influencer berdasarkan platform yang digunakan, misalnya untuk satu kali unggah video TikTok, Instagram Story atau konten YouTube

Lalu, Anda bisa menyesuaikan budget allocation dengan anggaran marketing brand, sehingga dapat memberikan estimasi pengeluaran yang tepat. Namun, penting untuk diingat bahwa memilih influencer bukan sekadar soal biaya terendah atau tertinggi. 

Bandingkan rate card dengan nilai yang mereka tawarkan, apakah engagement-nya konsisten? Apakah audiensnya sesuai dengan target audience brand Anda? Apakah persona influencer tersebut cocok dengan citra brand?

Selain itu, pertimbangkan juga fleksibilitas dalam kerja sama. Influencer yang terbuka untuk berdiskusi mengenai format konten dan terbiasa menjaga komunikasi dua arah akan mempermudah proses kolaborasi serta meminimalkan miskomunikasi yang bisa berdampak pada hasil akhir kampanye. 

Jika semua aspek sudah cocok, Anda bisa melangkah ke tahap selanjutnya untuk negosiasi atau pembuatan brief konten. Brand juga harus terus memantau kinerja hasil kerja sama dengan influencer atau KOL tersebut. Untuk mempermudah, sudah ada tools untuk memudahkan quick report campaign influencer di KOL.ID

Tools ini mempermudah Anda mengetahui total likes, total views, total engagement dan performa lainnya secara keseluruhan hanya dalam satu dashboard. Dengan begitu, Anda tidak perlu lagi melakukan pelacakan manual satu per satu dari tiap platform yang digunakan oleh influencer atau KOL. Bagi Anda yang penasaran, segera cek website KOL.ID dan tentukan influencer yang paling sesuai dengan brand Anda!

Jadikan kami sumber pilihanmu di Google

Dapatkan artikel terbaru kami lebih mudah di Google Search, AI Overviews, dan AI Mode.

Tambahkan KOL.ID sebagai sumber pilihan di Google