Ada kalanya sebuah produk ramai dibicarakan tanpa iklan berbayar yang besar. Perbincangan muncul dari satu unggahan, lalu menyebar melalui komentar, repost, hingga obrolan di grup pesan. Pola seperti inilah yang menjadi dasar dari buzz marketing.
Di Indonesia, istilah buzz sering langsung dikaitkan dengan buzzer dan sudah pasti identik dengan istilah politik. Padahal keduanya tidak selalu sama. Definisi mudah dari buzz marketing adalah mengenai cara menciptakan perbincangan, sedangkan buzzer hanyalah salah satu pihak yang bisa dilibatkan di dalamnya.
Bagi brand maupun kreator, memahami cara kerja buzz marketing membantu membedakan mana perbincangan yang tumbuh secara alami dan mana yang terasa dipaksakan oleh audiens.
Apa Itu Buzz Marketing?
Buzz marketing adalah strategi pemasaran yang berfokus menciptakan perbincangan di sekitar sebuah produk, layanan, atau momen tertentu sehingga audiens terdorong menyebarkan pesannya secara sukarela. Fokusnya bukan pada seberapa besar jangkauan iklan, melainkan seberapa sering orang membicarakannya.
Strategi ini bertumpu pada word of mouth. Berbeda dengan iklan yang jangkauannya dibeli, hasil buzz marketing umumnya berbentuk earned media, yaitu perhatian yang diperoleh tanpa membayar ruang tayang.
Meskipun demikian, buzz tidak muncul begitu saja. Umumnya diperlukan pemicu berupa hal yang unik, tidak terduga, atau dekat dengan keseharian audiens sehingga layak diceritakan ulang. Pemicu tersebut bisa datang dari produk itu sendiri, cara penyajiannya, atau momen yang sedang ramai dibicarakan.
Ciri Buzz Marketing yang Berhasil
Tidak semua campaign yang ramai dapat disebut berhasil. Berikut beberapa ciri yang umumnya terlihat pada buzz yang bekerja dengan baik.
1. Memiliki Pemicu yang Mudah Diceritakan
Audiens cenderung membagikan hal yang bisa dijelaskan dalam satu kalimat. Semakin sederhana pesannya, semakin besar peluang cerita tersebut bertahan saat berpindah dari satu orang ke orang lain. Pesan yang terlalu banyak lapisan biasanya berubah bentuk sebelum sampai ke audiens berikutnya.
2. Muncul pada Waktu yang Tepat
Momentum sangat menentukan. Brand yang mampu menyambungkan pesannya dengan isu yang sedang hangat, seperti pada praktik newsjacking, umumnya mendapat perhatian lebih cepat.
3. Melibatkan Komunitas yang Aktif
Perbincangan lebih mudah tumbuh ketika ada kelompok yang memang sudah terhubung dengan brand. Fanbase atau komunitas loyal sering menjadi titik awal penyebaran sebelum meluas ke audiens umum.
Pendekatan yang Umum Digunakan
Buzz marketing dapat dijalankan melalui beberapa pendekatan, tergantung sumber daya dan karakter brand.
1. Memanfaatkan Momen dan Tren
Brand menyambungkan produknya dengan percakapan yang sedang berkembang di media sosial. Pendekatan ini menuntut kecepatan dan pemahaman terhadap social media trends agar tidak terlambat masuk.
2. Berkolaborasi dengan Kreator
Melalui influencer marketing, brand meminjam kedekatan kreator dengan audiensnya. Satu pembahasan dari kreator yang tepat dapat memicu pembahasan lanjutan dari kreator lain di niche yang sama.
3. Mendorong Konten dari Pengguna
Brand mengajak audiens membuat versi mereka sendiri, misalnya melalui tantangan atau ulasan. Konten seperti ini termasuk user generated content yang umumnya terasa lebih jujur di mata calon pembeli.
Contoh Buzz Marketing
Buzz marketing sebenarnya bisa dilakukan dengan cara yang sangat natural, bahkan hanya melalui konten. Namun, dalam praktiknya, brand yang memanfaatkan buzz marketing secara natural sering kali memanfaatkan momentum yang muncul dari campaign kompetitor.
View this post on Instagram
Misalnya, ketika Apple resmi mengumumkan perilisan iPhone Duo sebagai iPhone lipat pertamanya, Samsung melalui akun Instagram Samsung Mobile merilis konten berjudul “Welcome to Foldables”. Konten tersebut secara tidak langsung kembali mengingatkan audiens bahwa Samsung merupakan salah satu pelopor foldable phone modern.
Konten ini pun memunculkan beragam reaksi dari audiens, sekaligus membuat Samsung dapat memanfaatkan momentum tersebut dan melakukan tap-in ke dalam buzz marketing secara natural.
Risiko yang Perlu Diantisipasi
Karena hanya menggunakan reaksi publik, buzz marketing juga memiliki risiko yang perlu dipertimbangkan sejak awal.
Reaksi bisa saja bergerak ke arah negatif ketika pesan yang disampaikan dianggap berlebihan atau tidak sesuai fakta. Selain itu, buzz yang terasa dipaksakan dapat menurunkan authenticity brand di mata audiens.
Perlu diingat pula bahwa perhatian publik bersifat sementara. Tanpa rencana lanjutan, brand dapat ramai dibicarakan sesaat tanpa dampak berarti pada penjualan maupun ingatan audiens.
Risiko lainnya adalah pengukuran. Perbincangan organik sulit dilacak sepenuhnya, sehingga brand perlu memantau sentimen dan volume percakapan, bukan hanya menghitung jumlah unggahan yang tayang.
Buzz marketing adalah strategi yang menempatkan perbincangan audiens sebagai mesin utama penyebaran pesan. Kekuatannya terletak pada rasa percaya yang muncul ketika informasi datang dari orang lain, bukan langsung dari brand. Namun keberhasilannya sangat bergantung pada relevansi pesan, ketepatan waktu, dan kesiapan brand menghadapi respons yang tidak selalu sesuai rencana. Karena itu, pemantauan percakapan sebaiknya berjalan sejak hari pertama campaign tayang.
Jika Anda sedang menyiapkan campaign yang mengandalkan perbincangan audiens, pemilihan kreator menjadi salah satu penentunya. Anda dapat memanfaatkan KOL.ID untuk melihat, membandingkan, hingga menyesuaikan rate card influencer atau KOL secara lebih praktis dan terstruktur. KOL.ID juga menyediakan fitur ranking KOL Instagram, TikTok, dan YouTube sehingga memudahkan Anda menemukan kreator yang relevan dengan tema campaign dan target audiens.
Dapatkan artikel terbaru kami lebih mudah di Google Search, AI Overviews, dan AI Mode.