Sebelum tidur, banyak orang berniat membuka ponsel sebentar, tetapi berakhir scroll layar berjam-jam sambil membaca kabar buruk yang seolah tidak ada habisnya. Kebiasaan ini dikenal dengan istilah doomscrolling.
Istilah tersebut merujuk pada kebiasaan terus scroll berita atau postingan bernada negatif, meskipun hal itu membuat pengguna merasa cemas atau lelah. Fenomena ini ramai dibicarakan karena social media menyajikan konten tanpa jeda yang jelas.
Meskipun terdengar remeh, namun bagi brand dan kreator, doomscrolling sebetulnya untuk penting dipahami karena berkaitan dengan kebiasaan audiens saat menggunakan social media. Mari simak pembahasan berikut!
Apa Itu Doomscrolling?
Doomscrolling adalah kebiasaan scroll layar secara terus-menerus untuk membaca informasi bernada buruk atau mengkhawatirkan, seperti berita bencana, krisis, atau kabar yang memicu kegelisahan. Kata doom berarti nasib buruk, sedangkan scrolling berarti scroll layar ponsel.
Kebiasaan ini sering terjadi tanpa disadari karena pengguna merasa harus terus mengikuti update terbaru. Meskipun demikian, tidak semua orang yang membaca berita secara rutin otomatis melakukan doomscrolling, sebab pembedanya terletak pada durasi dan dampaknya.
Dalam banyak kasus, doomscrolling dimulai dari niat sederhana untuk sekadar memeriksa kabar terbaru. Namun, satu post yang memancing rasa penasaran dapat berlanjut ke post berikutnya hingga tidak sadar waktu sudah berlalu cukup lama.
Mengapa Doomscrolling Sulit Dihentikan?
Ada beberapa faktor yang membuat kebiasaan ini mudah terulang pada banyak pengguna.
1. Konten yang Tidak Pernah Habis
Konten short-form di TikTok misalnya, memiliki laman FYP yang dirancang agar terus bertambah dan tidak pernah habis. Karena dibuat tidak ada habisnya, pengguna cenderung melanjutkan scroll.
Apalagi ditambah dengan adanya social media algorithm yang menjebak pengguna berada di dalam aplikasi karena terus memberikan konten yang disukainya. Akibatnya, waktu yang semula singkat dapat berubah menjadi berjam-jam tanpa disadari.
2. Rasa Ingin Tahu terhadap Kabar Terbaru
Berita buruk sering terasa mendesak, sehingga pengguna takut ketinggalan informasi penting. Dorongan ini membuat mereka sulit menutup aplikasi begitu saja. Rasa khawatir atau FOMO ini sering kali membuat seseorang terus mencari update terbaru agar merasa lebih tenang.
3. Kebiasaan Sebelum Tidur
Waktu santai di malam hari sering dipakai untuk scroll layar. Malah beberapa orang menganggap waktu di malam hari adalah waktunya untuk melakukan scrolling setelah pagi hingga sore terus beraktivitas. Akibatnya, durasi pemakaian ponsel bertambah hingga membuat begadang. Kebiasaan pasti akan mengganggu kualitas tidur dan berbahaya bagi kesehatan fisik hingga mental.
Dampak Doomscrolling bagi Brand dan Kreator
Kebiasaan audiens ini memengaruhi cara sebuah konten diterima, terutama ketika beranda mereka dipenuhi kabar yang berat.
Bagi brand, kebiasaan doomscrolling ini sebetulnya dapat memberikan keuntungan secara marketing. Brand dapat membuat konten social media yang memang secara natural memberikan rasa penasaran dan menarik. Konten ini biasanya ditemukan pada campaign UGC.
Namun, brand perlu berhati-hati agar konten UGC tersebut tidak menyindir, memicu ulasan negatif, atau memprovokasi. Penyesuaian tone of voice yang lebih engaging, natural, dan terasa dekat dengan audiens umumnya dapat meningkatkan rasa penasaran mereka.
Di sisi lain, kreator yang menghadirkan konten ringan, menenangkan, atau edukatif dapat menjadi jeda yang disambut baik oleh audiens. Konten semacam ini cenderung lebih mudah menarik perhatian karena memberi kesan berbeda dari arus berita yang dominan.
Mau tahu jenis salah satu konten yang menarik? Kamu coba bisa cek di bawah ini!
Konten di atas sangat menarik. Bayangkan pasti setidaknya salah satu dari teman kita atau bahkan teman kita sendiri pernah “aman banget, aman banget”. Hal-hal seperti inilah yang dapat dimanfaatkan oleh brand dan kreator ketika dihadapkan dengan audiens yang hobi doomscrolling.
Bagi brand yang ingin menjangkau audiens dengan konten yang relevan dan peka terhadap suasana, KOL.ID dapat membantu proses pemilihan kreator yang cocok. Anda dapat memanfaatkan KOL.ID untuk melihat, membandingkan, hingga menyesuaikan rate card influencer atau KOL secara lebih praktis dan terstruktur. KOL.ID juga menyediakan fitur ranking KOL Instagram, TikTok, dan YouTube untuk membantu Anda menemukan kreator yang sesuai dengan karakter audiens.
Dapatkan artikel terbaru kami lebih mudah di Google Search, AI Overviews, dan AI Mode.