Adakah di sini yang pernah mendengar istilah retention rate? Istilah ini kerap digunakan untuk mengetahui kemampuan bisnis mempertahankan pelanggannya. Dalam dunia yang penuh persaingan seperti sekarang, di mana setiap hari muncul ribuan konten baru di media sosial, memahami retention rate menjadi kunci untuk membangun komunitas yang loyal.
Akun Instagram, TikTok, YouTuber terpopuler sekalipun tidak hanya fokus pada jumlah followers, tapi juga seberapa banyak audiens yang terus kembali untuk menikmati konten mereka.
Retention rate ini adalah metrik yang menggambarkan seberapa puasnya pelanggan dengan produknya. Jika pelanggan berhenti berlangganan setelah masa uji coba, perusahaan perlu memahami alasannya agar mereka dapat meningkatkan layanan. Daripada semakin penasaran, yuk kita bahas lebih dalam di bawah ini!
Apa Itu Retention Rate?
Retention rate adalah persentase pengguna atau pelanggan yang terus menggunakan produk atau layanan perusahaan dalam periode tertentu. Dalam konteks digital marketing, retention rate menunjukkan seberapa efektif Anda dalam menjaga keterlibatan audiens agar tidak berpindah ke brand lain.
Tingginya retention rate menandakan loyalitas pelanggan, di mana pelanggan merasa puas dan terus tertarik dengan apa yang Anda tawarkan. Sebaliknya, retention rate yang rendah bisa jadi sinyal bahwa ada aspek konten, produk, atau komunikasi yang perlu diperbaiki.
Baca juga: Cara menghitung ROI di GMV Max TikTok Shop
Faktor yang Mempengaruhi Retention Rate
Beberapa hal yang berperan besar dalam menentukan tinggi rendahnya retention rate antara lain:
1. Kualitas Produk dan Layanan
Produk atau layanan yang memenuhi ekspektasi pengguna adalah fondasi dari retensi yang kuat. Ketika pelanggan mendapatkan manfaat nyata, mereka tidak hanya akan terus menggunakan produk tersebut, tetapi juga berpotensi merekomendasikannya ke orang lain. Dalam kasus aplikasi atau platform digital, pengalaman bebas bug, fitur yang relevan, dan update rutin menjadi nilai tambah yang penting.
2. Customer Experience (Pengalaman Pengguna)
Pengalaman pelanggan tidak hanya berhenti pada kualitas produk, tetapi juga mencakup kemudahan navigasi, desain antarmuka yang intuitif, serta kecepatan respon tim customer service. Brand yang mampu memberikan pengalaman menyenangkan akan memiliki tingkat retensi yang lebih tinggi karena pelanggan merasa dihargai dan nyaman.
3. Konsistensi Brand Communication
Komunikasi yang konsisten di berbagai kanal digital seperti email marketing, media sosial, dan website membantu pelanggan tetap merasa terhubung. Contohnya, brand yang rutin memberikan update produk, tips penggunaan, atau konten edukatif di akun website blog, Instagram, TikTok, atau YouTube, biasanya berhasil menjaga engagement dan loyalitas pengguna.
Berdasarkan data dari SQ Magazine, jenis konten yang paling disukai pengguna Instagram adalah konten funny dengan retention rate paling tinggi sekitar 50%, lalu konten creative (46%), dan informative (41%). Data ini bisa menjadi inspirasi bagi brand untuk menciptakan konten yang lebih engaging dan sesuai dengan preferensi audiens.
.jpg)
4. Program Loyalitas dan Insentif
Memberikan apresiasi kepada pelanggan lama seperti diskon eksklusif, poin reward, atau akses early bird ke produk baru dapat meningkatkan retensi. Program semacam ini menciptakan rasa memiliki dan mendorong pelanggan untuk terus kembali.
5. After-Sales Support dan Engagement Pasca Pembelian
Interaksi tidak boleh berhenti setelah pelanggan melakukan pembelian. Follow-up berupa panduan penggunaan, survei kepuasan, atau konten tips lanjutan dapat memperpanjang siklus hubungan dengan pelanggan dan menjaga mereka agar tetap aktif.
Baca juga: Report KOL Bikin Cemas? Ini Cara Membuat Report Campaign KOL dengan Mudah!
Cara Menghitung Retention Rate
Mengukur retention rate membantu Anda memahami seberapa kuat hubungan dengan audiens. Perhitungannya cukup sederhana, dengan rumus dasar:
Retention Rate = [(Jumlah pengguna akhir periode – Pengguna baru) / Jumlah pengguna awal periode] × 100
Contoh dan Poin Pembahasan
1. Tentukan periode waktu pengukuran.
Misalnya per bulan, per kuartal, atau per kampanye tertentu.
2. Hitung jumlah pelanggan di awal dan akhir periode.
Jika Anda memiliki 1.000 pelanggan di awal bulan dan 1.300 di akhir bulan, catat pertambahannya.
3. Kurangi jumlah pengguna baru.
Jika ada 400 pengikut baru, maka retention rate = (1.300 – 400) / 1.000 × 100 = 90%.
4. Interpretasikan hasilnya.
Semakin tinggi persentasenya, semakin baik kemampuan Anda dalam mempertahankan audiens yang sudah ada.
Menghitung retention rate seperti ini membantu Anda mengevaluasi efektivitas strategi konten dan menentukan langkah selanjutnya untuk menjaga loyalitas audiens.
Baca juga: Listing KOL Bikin Burnout? Ini Cara Mencari KOL yang Tepat untuk Campaign dengan Mudah
Cara Meningkatkan Retention Rate
Setelah mengetahui cara menghitung retention rate, ada beberapa cara yang bisa diterapkan agar audiens tetap terhubung dan terus menantikan konten Anda, yaitu:
1. Kenali Audiens Anda Secara Mendalam
Langkah pertama untuk mempertahankan audiens adalah benar-benar memahami siapa mereka. Pelajari profil demografis, minat, dan perilaku mereka di platform digital. Misalnya, kapan mereka paling aktif di media sosial, jenis konten apa yang paling sering mereka tonton, hingga bagaimana mereka berinteraksi dengan brand Anda. Dengan memahami hal ini, Anda dapat menciptakan konten yang lebih relevan, personal, dan tepat sasaran.
2. Loyalty Program
Membangun loyalty program adalah strategi efektif untuk meningkatkan retention rate. Program ini memberi pelanggan alasan untuk terus berinteraksi dengan brand melalui penghargaan, poin, atau keuntungan eksklusif. Contohnya, pelanggan yang sering berbelanja bisa mendapatkan diskon tambahan, akses early-bird ke produk baru, atau hadiah khusus.
3. Melakukan Up Selling dan Cross Selling
Strategi up selling dan cross selling membantu meningkatkan nilai pelanggan sekaligus memperpanjang hubungan mereka dengan brand. Up selling berarti mendorong pelanggan untuk memilih produk dengan versi yang lebih premium, sementara cross selling mengajak mereka mencoba produk pendukung lainnya. Misalnya, jika pelanggan membeli skincare, Anda bisa menawarkan serum pendamping atau paket bundling dengan harga spesial.
4. Mengirimkan Newsletter
Newsletter adalah salah satu cara paling efektif untuk menjaga hubungan jangka panjang dengan audiens. Dengan mengirimkan email rutin berisi update produk, tips eksklusif, atau inspirasi seputar brand, Anda tetap hadir di benak pelanggan tanpa terasa memaksa. Namun, kuncinya adalah konten yang relevan dan bernilai. Hindari konten sekedar promosi, berikan informasi yang membantu, menghibur, atau menginspirasi.
5. Kolaborasi dengan KOL dan Influencer
Salah satu cara paling efektif untuk menjaga audiens tetap terhubung sekaligus menarik pelanggan baru adalah dengan berkolaborasi bersama KOL dan influencer. Kolaborasi ini membantu meningkatkan awareness, serta memperkuat kredibilitas di mata audiens. Influencer memiliki kedekatan emosional dengan pengikutnya, sehingga ketika mereka merekomendasikan produk Anda, tingkat kepercayaan dan conversion juga meningkat.
Retention rate adalah cerminan seberapa kuat hubungan Anda dengan pelanggan. Semakin tinggi retention rate, semakin besar bukti bahwa brand Anda mampu memberikan pengalaman dan kepercayaan yang membuat orang terus kembali.
Jika Anda ingin meningkatkan retention rate melalui kolaborasi dengan influencer dan KOL, Anda bisa cek rate card mereka di KOL.ID. Platform ini menyediakan tools untuk cek rate card berbagai KOL dengan mudah dan praktis sehingga proses negosiasi dapat berjalan lebih mudah. Yuk, segera cek rate card Influencer dan KOL di KOL.ID sekarang juga!